Alhamdulillah Ala Kulli Hal, Sunnah Rasul Saat Menghadapi Hal yang Tak Disukai
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimat Alhamdulillah ala kulli hal seringkali diucapkan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dalam segala keadaan. Baik ketika mendapat kenikmatan maupun saat tertimpa musibah.
Dalam buku Ilmu Jiwa dalam Tasawwuf Studi Komparatif dengan Ilmu Jiwa Kontemporer tulisan Amir An-Najjar (2001), bersyukur sejatinya dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
Syukur dengan hati: mengetahui bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah SWT.
Syukur dengan lisan: mengucapkan Alhamdulillah dan memuji-Nya.
Syukur dengan jasmani: tidak menggunakan setiap anggota badan untuk bermaksiat, melainkan untuk ketaatan kepada-Nya. Termasuk juga mempergunakan apa yang diberikan oleh Allah SWT berupa kenikmatan dunia untuk menambah ketaatan kepada-Nya, bukan untuk kebatilan.
Bagaimana penggunaan kalimat Alhamdulillah ala kulli hal yang benar sesuai tuntunan Rasulullah?
Dalil Mengucapkan Alhamdulillah ala kulli hal dan Maknanya
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
Alhamdulillahi 'ala kulli haalin
Artinya: "Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan".
Kalimat ini diucapan Rasulullah SAW ketika melihat sesuatu yang tidak disukai. Mengutip buku Rihlah Hikmah karya Muhammad Solehan (2020: 21), Aisyah Radhiallahuanha dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah berkata:
“Rasulullah SAW ketika melihat hal yang beliau sukai mengucapkan alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat, ‘’segala puji hanya milik Allah dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna’. Dan kala mendapati sesuatu yang tak disukai, beliau mengucapkan Alhamdulillah ala kulli hal, ‘segala puji hanya milik Allah di setiap keadaan’.”
Mengapa umat Islam dianjurkan untuk mengucap syukur meskipun dihadapkan dengan sesuatu yang ia benci? Pada dasarnya semua kejadian yang menimpa manusia merupakan kehendak Allah. Allah Maha Benar, maka Ia tidak pernah salah menempatkan umat-Nya dalam segala situasi.
Mengutip Muhammad Solehan (2020: 21) Allah Maha Adil, tidak ada satupun makhluk yang terzalimi dalam takdir. Allah Maha Tahu, maka tidak ada kesulitan yang akan melampaui batas kemampuan umat-Nya.
Allah berfirman dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 216 yang artinya:
“…Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.
Maka, ketika seseorang memiliki kesulitan, hendaknya ia tetap bersyukur atas nikmat Allah. Bisa jadi, di balik kesulitan tersebut terdapat hikmah yang dapat dipetik dan Allah telah menyiapkan skenario terbaik untuk hamba-Nya yang pandai bersyukur dan sabar.
(ERA)

