Konten dari Pengguna

Apa Ancaman Anemia bagi Ibu Hamil? Ini Penjelasan dan Tips Mencegahnya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ibu hamil. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil. Foto: Unsplash

Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah dalam tubuh tidak mencukupi kebutuhan fisiologis. Kondisi ini dapat berbeda pada setiap orang karena dipengaruhi faktor-faktor seperti jenis kelamin, tempat tinggal, kebiasaan merokok, hingga tahap kehamilan.

Pada ibu hamil, anemia umumnya lebih rentan terjadi karena volume darah akan meningkat selama janin berkembang. Hal ini membuat tubuh perlu membentuk sel darah merah hingga 50% lebih banyak dibandingkan kondisi normal untuk mendukung kebutuhan janin.

Jika ibu tidak mendapatkan zat besi dan nutrisi penting lainnya dalam jumlah cukup, tubuh tidak mampu memproduksi sel darah merah sesuai kebutuhan. Kondisi ini dapat membayakan bagi ibu hamil dan janinnya. Lantas, apa ancaman anemia bagi ibu hamil?

Apa Ancaman Anemia bagi Ibu Hamil?

Ilustrasi apa ancaman anemia bagi ibu hamil. Foto: Unsplash

Anemia pada ibu hamil merupakan kondisi yang ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Berdasarkan infromasi dari World Health Organization (WHO), anemia pada kehamilan terjadi ketika kadar hemoglobin berada di bawah 11 g/dL.

Apabila tidak ditangani dengan baik, anemia dapat meningkatkan berbagai ancaman selama kehamilan. Merujuk pada jurnal Anemia pada Kehamilan: Dampak Klinis, Komplikasi, dan Strategi Manajemen, berikut beberapa ancamannya yang perlu diketahui:

1. Faktor risiko preeklampsia berat

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara anemia pada kehamilan dan peningkatan risiko preeklampsia. Kondisi ini terjadi karena kurangnya sel darah merah menyebabkan pasokan oksigen ke plasenta berkurang (hipoksia).

Akibatnya, tubuh mengalami stres dan mengganggu fungsi pembuluh darah, yang kemudian dapat memicu gangguan aliran darah pada kehamilan dan berkembang menjadi preeklampsia. Karena itu, pemeriksaan kadar hemoglobin secara rutin sangat penting untuk menurunkan risiko komplikasi.

2. Bayi lahir dengan kondisi berat badan lahir rendah (BBLR)

Anemia pada ibu hamil berkaitan dengan meningkatnya risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Sebab, anemia membuat kemampuan darah dalam membawa oksigen ke janin berkurang.

Akibatnya, suplai oksigen dan nutrisi ke janin menjadi tidak optimal, sehingga pertumbuhan janin dapat terganggu dan bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah. Selain itu, anemia pada ibu hamil sering disertai kekurangan nutrisi lain yang juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan janin secara normal.

3. Risiko perdarahan postpartum setelah melahirkan

Penelitian menunjukkan bahwa anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan setelah melahirkan (postpartum hemorrhage/PPH). Kondisi ini dapat menjadi lebih berbahaya karena tubuh ibu tidak memiliki cukup cadangan darah untuk menggantikan darah yang hilang saat proses persalinan.

Akibatnya, perdarahan yang masih tergolong normal pada ibu tanpa anemia bisa menjadi kondisi yang serius pada ibu dengan anemia berat. Selain itu, anemia juga dapat memengaruhi kemampuan rahim untuk berkontraksi dengan baik setelah melahirkan.

Kontraksi yang lemah dapat menyebabkan perdarahan lebih banyak karena rahim tidak mampu menghentikan aliran darah secara optimal. Karena itu, pemeriksaan dan penanganan anemia sejak masa kehamilan sangat penting untuk mengurangi risiko perdarahan.

Tips Mencegah Anemia

Ilustrasi tips mencegah anemia. Foto: Unsplash

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah anemia. Dikutip dari laman resmi Kemenkes, berikut tipsnya:

1. Mengonsumsi makanan kaya zat besi

Cara pertama adalah mengonsumsi makanan kaya zat besi. Nutrisi ini dapat diperoleh dari beberapa jenis makanan berikut:

  • Daging sapi atau unggas rendah lemak

  • Ikan, cumi, kerang, dan udang matang

  • Sayuran hijau seperti bayam dan kangkung

  • Kacang polong

  • Susu pasteurisasi

  • Kentang dan gandum

2. Mengonsumsi makanan tinggi asam folat

Sumber asam folat dapat diperoleh dari:

  • Bayam, brokoli, seledri, buncis, dan selada

  • Buah jeruk, alpukat, pepaya, dan pisang

  • Kacang merah, kacang hijau, kacang kedelai, dan kacang polong

  • Biji bunga matahari

  • Gandum dan kuning telur

3. Memperbanyak konsumsi vitamin C

Vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih baik. Nutrisi ini bisa diperoleh dari buah dan sayuran seperti jeruk, tomat, dan stroberi.

4. Mengonsumsi suplemen sesuai anjuran

Suplemen yang biasa dianjurkan antara lain zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Anda dapat mengonsumsinya pada pagi hari atau sebelum tidur untuk membantu mengurangi rasa mual.

Baca juga: 3 Tanda Olahraga Masih Aman untuk Ibu Hamil

(RK)