Apa Itu Badai Melissa, Fenomena Dahsyat yang Terjang Karibia?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Badai Melissa menjadi sorotan dunia setelah menghantam pesisir selatan Jamaika pada Selasa, 28 Oktober 2025. Hantaman angin kencang dan hujan lebat menyebabkan kerusakan parah, banjir besar, serta melumpuhkan aktivitas warga di berbagai wilayah.
Mengutip The Guardian, sekitar setengah juta warga Jamaika kini hidup tanpa listrik, sementara empat rumah sakit besar dilaporkan rusak berat. Setelah meluluhlantakkan Jamaika, badai ini kemudian bergerak menuju Kuba dan menimbulkan dampak besar di negara tersebut.
Dengan intensitas sebesar itu, Badai Melissa tercatat sebagai salah satu yang terkuat di kawasan Atlantik. Sebenarnya, apa itu Badai Melissa, dan apa yang membuatnya begitu berbahaya? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
Apa Itu Badai Melissa?
Mengutip World Meteorological Organization, Badai Melissa adalah badai tropis kuat yang berkembang di wilayah Atlantik dan mencapai status kategori 5 pada Skala Angin Saffir-Simpson, dengan kecepatan angin mendekati 300 kilometer per jam.
Menurut Pusat Badai Nasional Amerika Serikat (NHC), badai tropis ini termasuk dalam kategori major hurricane yang berpotensi menimbulkan kerusakan parah akibat kombinasi angin kencang, hujan ekstrem, dan gelombang badai (storm surge) yang tinggi.
Nama “Melissa” sendiri diberikan sebagai bagian dari sistem penamaan badai internasional, yang bertujuan untuk mempermudah komunikasi antara ilmuwan dan masyarakat, terutama saat terjadi cuaca ekstrem di berbagai negara.
Dikutip dari laman CBS, terdapat enam daftar nama yang terdiri dari 26 huruf dan digunakan secara bergantian setiap enam tahun.
Artinya, daftar nama badai tahun 2025 akan kembali digunakan pada tahun 2031, kecuali jika ada nama yang “dipensiunkan” karena badai tersebut menimbulkan kerusakan besar atau banyak korban jiwa, seperti halnya Badai Melissa tahun ini.
Diketahui, sebelum melanda Jamaika, Badai Melissa sempat berkembang sangat cepat di atas perairan Karibia sepanjang akhir pekan.
Kecepatan geraknya yang relatif lambat membuat dampaknya semakin besar, karena wilayah yang dilalui menerima terpaan angin dan hujan ekstrem dalam waktu lama.
Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa Jamaika berada tepat di jalur eyewall, area di sekitar pusat badai (mata badai) yang memiliki kecepatan angin dan cuaca paling ekstrem. Posisi inilah yang membuat negara itu menerima hantaman paling intens dari Badai Melissa.
Melissa kemudian melanjutkan pergerakannya ke arah Kuba dan Bahama, sebelum akhirnya melemah setelah mencapai daratan. Meski demikian, dampak yang ditinggalkan tetap sangat merusak.
Di Jamaika, Perdana Menteri Andrew Holness menetapkan status darurat bencana setelah badai melanda. Pemerintah setempat memindahkan ribuan warga ke tempat aman dan mengoordinasikan upaya evakuasi serta pemulihan.
“Tak ada infrastruktur di wilayah ini yang mampu menahan badai kategori 5,” ujarnya dalam konferensi pers, dikutip dari laman NPR.
Berbagai upaya bantuan internasional juga segera digerakkan. Amerika Serikat mengirim tim tanggap darurat dan regu penyelamat, sementara Inggris menyalurkan dana kemanusiaan senilai 2,5 juta poundsterling. PBB pun turut menyiapkan dukungan logistik bagi warga terdampak di kawasan Karibia.
Baca Juga: Apa Itu Taifun sebagai Badai Besar dari Samudera Pasifik
(ANB)
