Konten dari Pengguna

Apa itu Efek Rumah Kaca? Ini Penjelasan dan Penyebabnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilutrasi pemanasan global akibat efek rumah kaca. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilutrasi pemanasan global akibat efek rumah kaca. Foto: Shutter Stock

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia tengah menghadapi ancaman pemanasan global yang semakin serius. Di masa lalu, perubahan suhu di bumi terjadi sangat lambat atau berlangsung selama ratusan ribu tahun, berbeda dengan apa yang terjadi di era sekarang.

Saat ini, pemanasan global terjadi jauh lebih cepat. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa peningkatan suhu bumi sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh aktivitas manusia.

Manusia melakukan banyak kegiatan yang meningkatkan efek rumah kaca, fenomena yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global. Pertanyaannya, apa itu efek rumah kaca?

Apa itu Efek Rumah Kaca?

Gletser Bionnassay, gletser terkecil dari kompleks Mont Blanc di Prancis, yang menyusut di bawah pengaruh pemanasan global. Foto: REUTERS/Yann Tessier

Dikutip dari laman National Geographic, efek rumah kaca adalah fenomena ketika gas-gas tertentu (dikenal sebagai gas rumah kaca) terkumpul di atmosfer bumi. Gas yang dimaksud meliputi uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (N2O), metana (CH4), ozon (O3), dan lain-lain.

Sejatinya, gas rumah kaca bermanfaat untuk menjaga suhu bumi tetap stabil. Gas tersebut menyerap cahaya dan panas matahari agar masuk ke bumi, namun memerangkap dan memantulkan radiasinya kembali ke luar angkasa.

Jadi, gas itu berperan seperti dinding yang menjaga bumi agar iklimnya tetap nyaman. Tanpanya, suhu permukaan bumi akan lebih dingin dan bisa menyebabkan banyak makhluk hidup membeku.

Sayangnya, sejak revolusi industri pada akhir tahun 1700-an, manusia melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer dalam jumlah yang terlalu besar. Emisinya meningkat 70% pada rentang tahun 1970-2004.

Jumlah emisi karbon dioksida yang merupakan gas rumah kaca paling penting juga meningkat signifikan. Bahkan, jumlahnya telah melebihi dari yang dihasilkan secara alami selama 650.000 tahun terakhir.

Hal ini sangat mengkhawatirkan, sebab semakin banyak gas rumah kaca di atmosfer, maka akan semakin banyak pula panas yang diserap ke permukaan bumi. Akibatnya, suhu bumi terus meningkat dan mempercepat pemanasan global.

Aktivitas Manusia yang Menyebabkan Efek Rumah Kaca

Ilustrasi Kawasan Industri. Foto: Thomas Peter/Reuters

Sebagian besar karbon dioksida yang lepas ke atmosfer berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak, batu bara, dan gas alam. Semuanya digunakan untuk bahan bakar kendaraan dan juga pembangkit listrik.

Tak hanya itu, jumlah karbon dioksida juga meningkat di atmosfer apabila terjadi penggundulan hutan. Sebab, pohon yang membusuk dapat melepaskan berton-ton karbon dioksida.

Salah satu cara untuk menguranginya adalah dengan menggalakkan kegiatan menanam pohon. Pasalnya, pohon yang masih hidup dapat menyerap karbon dioksida. Jika penebangan pohon secara masif masih terjadi, artinya โ€œagen" yang dapat menyerap karbon dioksida di atmosfer juga semakin berkurang.

Efek rumah kaca juga meningkat dari aktivitas ternak dan limbah. Sebab, sebagian besar metana di atmosfer berasal dari peternakan, tempat pembuangan sampah, penambangan batu bara, dan pemrosesan gas alam.

Kesimpulannya, hampir semua aktivitas di lini kehidupan manusia menambahkan jumlah gas rumah kaca ke atmosfer. Jika tak ada perubahan, IPCC memperkirakan suhu global akan terus meningkat sekitar 0,2 derajat Celsius per dekade.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang luar biasa, namun baru kurang dari 1% yang dimanfaatkan. kumparan Green Initiative Conference 2025 hadir sebagai forum lintas sektor untuk mendorong pemanfaatan sumber energi ini demi tercapainya kedaulatan energi bersih. Bergabung pada 17โ€“18 September 2025 di Hotel Borobudur Jakarta. Daftar sekarang di ๐Ÿ”—kum.pr/gic2025

Baca Juga: Apa Itu Sustainable Living? Ini Penjelasan dan Contoh Penerapannya

(DEL)