Apa Itu Empan Papan? Pesan Bijak Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk Pejabat

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aksi ricuh dan unjuk rasa yang terjadi beberapa hari terakhir di berbagai daerah di Tanah Air memicu beragam respons dari kalangan masyarakat maupun pejabat. Salah satunya datang dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang menekankan pentingnya sikap empan papan.
Pesan tersebut disampaikan setelah mengikuti rapat daring bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan beberapa kepala daerah pada Sabtu (30/8). Menurut Sri Sultan, permasalahan yang terjadi belakangan ini sebagian besar disebabkan oleh sikap pejabat yang tidak mampu menahan diri dan bertindak berlebihan.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan sikap empan papan? Dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari pejabat maupun masyarakat? Berikut penjelasan selengkapnya.
Empan Papan Artinya Apa?
Dalam budaya Jawa, istilah empan papan terbentuk dari dua kata, yaitu empan, yang mengacu pada fungsi atau efektivitas, dan papan, yang berarti tempat. Gabungan kedua kata ini mencerminkan konsep kesadaran akan penempatan diri yang tepat dalam berbagai situasi.
Mengutip buku Warisan Kota Surakarta karya Eko Nursanty, empan papan merupakan kesadaran individu terhadap posisi dan perannya dalam masyarakat, yang berkaitan erat dengan status sosial dan struktur interaksi sosial yang ada.
Secara keseluruhan, empan papan menggambarkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan sikap, tindakan, dan perilaku dengan konteks tempat, waktu, serta kondisi yang dihadapi.
Istilah ini menekankan pentingnya keseimbangan antara tindakan yang tepat dan norma sosial yang berlaku, sehingga perilaku seseorang tidak berlebihan namun tetap selaras dengan lingkungan sosialnya.
Dikutip dari laman Universitas Sains dan Teknologi Komputer, seseorang yang mampu menerapkan empan papan biasanya dipandang sebagai pribadi yang cerdas dalam menempatkan setiap hal pada posisi yang tepat, baik dalam konteks waktu maupun situasi yang berbeda.
Terlebih, memperlakukan orang lain sesuai dengan kedudukan, status, derajat, dan martabatnya merupakan tindakan yang terhormat dan mulia. Hal ini penting karena setiap lapisan masyarakat memiliki norma dan tata interaksi yang berbeda-beda.
Adapun menurut buku Kearifan lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa karya M. Nasruddin Anshoriy, pelanggaran terhadap aturan ini umumnya menimbulkan sanksi sosial, sebagai bentuk penguatan norma dan penegasan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Jika merujuk pada nasihat Sri Sultan HB X, ditegaskan bahwa para pejabat hendaknya selalu mengedepankan sikap bijak dan proporsional dalam setiap langkah dan keputusan, agar tindakan mereka sesuai dengan nilai sosial dan budaya sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat.
Terutama, mengingat kondisi perekonomian dalam negeri yang tidak stabil, para pejabat seharusnya menunjukkan sikap sederhana dan peka terhadap kesulitan yang dialami masyarakat.
Dengan demikian, setiap kebijakan dan tindakan yang diambil tidak hanya mencerminkan kepemimpinan yang matang, tetapi juga memperkuat kepercayaan dan harmoni dalam kehidupan sosial.
Baca Juga: Sri Sultan Panggil Sejumlah Pimpinan Kampus: Aspirasi Boleh tapi Tidak Kekerasan
(ANB)
