Apa Itu Etanol yang Jadi Campuran BBM? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa badan usaha penyedia bahan bakar minyak (BBM) swasta dikabarkan batal membeli BBM murni atau base fuel milik Pertamina (Persero). Keputusan ini disebut-sebut berkaitan dengan kandungan etanol sebesar 3,5 persen pada bahan bakar yang ditawarkan.
Padahal, di banyak negara maju, penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar sudah menjadi hal yang umum. Etanol dikenal mampu membantu mengurangi emisi karbon dan membuat bahan bakar lebih ramah lingkungan.
Namun, di Indonesia, penerapan bahan bakar dengan campuran etanol masih menghadapi sejumlah tantangan yang cukup kompleks. Sebenarnya, apa itu etanol? Mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Etanol?
Mengutip laman Pertamina One Solution, etanol merupakan senyawa kimia yang dikenal juga dengan nama etil alkohol atau alkohol, dengan rumus kimia C₂H₅OH.
Jenis alkohol ini menjadi salah satu yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik di bidang industri, medis, maupun rumah tangga.
Etanol memiliki beragam fungsi penting. Selain menjadi bahan baku dalam pembuatan kosmetik, produk farmasi, dan bahan pelarut industri, etanol juga dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Dalam konteks energi, etanol digunakan sebagai campuran bahan bakar fosil seperti bensin atau diesel. Proporsinya bisa berbeda-beda, tergantung pada kebijakan energi dan spesifikasi mesin di tiap negara.
Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa pencampuran etanol ke dalam BBM merupakan praktik terbaik yang telah lama diterapkan di berbagai negara.
Kebijakan ini tidak hanya membantu menurunkan emisi karbon, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kualitas udara dan mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
“Penggunaan etanol dalam BBM bukan hal baru, melainkan praktik yang sudah mapan secara global. Implementasi ini terbukti berhasil mengurangi emisi gas buang, menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil murni, serta mendukung peningkatan perekonomian masyarakat lokal melalui pemanfaatan bahan baku pertanian,” jelas Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, dikutip dari laman kumparanBISNIS.
Sejarah Etanol
Sejak abad ke-19, etanol sudah dikenal sebagai sumber energi alternatif, jauh sebelum istilah “energi terbarukan” populer seperti sekarang.
Merujuk pada laman Pertamina One Solution, berikut beberapa momen penting dalam sejarah perkembangan bahan bakar etanol di dunia:
Abad ke-19: Etanol mulai digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu minyak. Pada masa ini, etanol dihasilkan melalui proses fermentasi bahan tanaman seperti tebu dan jagung.
Tahun 1860: Insinyur asal Prancis, Nicolas-Joseph Cugnot, mengembangkan kendaraan bertenaga uap yang dapat beroperasi menggunakan bahan bakar etanol.
Tahun 1908: Model T buatan Ford diluncurkan dengan kemampuan fleksibel menggunakan bahan bakar etanol maupun bensin.
Tahun 1920-an: Kebijakan Prohibition atau pelarangan minuman beralkohol di Amerika Serikat menyebabkan industri etanol beralih ke sektor energi. Etanol pun mulai digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.
Tahun 1970-an: Krisis minyak dunia mendorong berbagai negara untuk mencari sumber energi alternatif. Pemerintah Amerika Serikat kemudian memberikan insentif untuk pengembangan dan penggunaan etanol sebagai bahan bakar.
Tahun 2005: AS meluncurkan program Renewable Fuel Standard (RFS) yang menargetkan peningkatan penggunaan bahan bakar nabati, termasuk etanol, dalam sektor transportasi.
Saat ini: Etanol banyak digunakan sebagai campuran bensin di berbagai negara, dengan kadar campuran berbeda sesuai kebijakan dan teknologi kendaraan masing-masing.
Baca Juga: ESDM-Pertamina Ungkap Pencampuran Etanol di BBM Praktik Lazim
(ANB)
