Konten dari Pengguna

Apa Itu Fatty Matter, Produk yang jadi Modus Penghindaran Bea Ekspor Sawit?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sabun batang. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sabun batang. Foto: Shutterstock

Polri mengungkap modus baru penghindaran pajak ekspor produk turunan kelapa sawit (CPO) yang hendak dikirim ke China. Modus ini dilakukan dengan menyamarkan barang ekspor sebagai fatty matter, komoditas yang pada dasarnya tidak dikenai bea keluar maupun pungutan ekspor.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa produk ekspor tersebut mengandung unsur nabati, sehingga tetap termasuk kategori yang wajib dikenai bea keluar. Sebagai tindak lanjut, aparat menyita 87 kontainer dengan berat bersih total mencapai 1.802 ton produk oplosan CPO.

Praktik ekspor ilegal seperti ini jelas bertentangan dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri kelapa sawit di dalam negeri. Sebenarnya, apa itu fatty matter yang dijadikan kedok dalam kasus ini? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Fatty Matter?

Ilustrasi kelapa sawit. Foto: diegodmartins/Getty Images

Berdasarkan informasi dari laman Apollo 24/7, fatty matter adalah istilah yang digunakan untuk menyebut materi lemak atau asam lemak yang dihasilkan dari proses pengolahan minyak nabati seperti minyak kelapa sawit.

Secara sederhana, fatty matter merupakan produk samping (by-product) untuk berbagai industri, terutama industri biodiesel dan sabun. Selain itu, zat ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pelarut (solvent), bahan pembersih, hingga bahan dasar dalam pembuatan produk kimia turunan lainnya.

Dengan kata lain, fatty matter memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Dalam industri sabun, kandungan lemak biasanya ditunjukkan dengan istilah Total Fatty Matter (TFM). Nah, TFM mengacu pada jumlah total bahan lemak yang terkandung di dalam sebuah sabun.

Mengutip laman The Indian Express, Dr. Rinky Kapoor, seorang konsultan dermatologis, menjelaskan bahwa lemak dalam sabun biasanya berasal dari bahan-bahan seperti asam palmitat, asam stearat, asam oleat, dan natrium oleat. Semakin tinggi kadar TFM, semakin besar pula kandungan bahan lemak alami di dalam sabun tersebut.

Secara umum, sabun dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan kadar TFM-nya, yaitu:

  • Grade I (TFM 76% ke atas) - termasuk sabun premium dengan efek pelembap tinggi, lembut di kulit, dan tidak menyebabkan iritasi.

  • Grade II (TFM 60–75%) - termasuk sabun standar dengan kemampuan membersihkan yang baik, namun sedikit kurang melembapkan dibanding Grade I.

  • Grade III (TFM di bawah 60%) - biasanya mengandung lebih banyak bahan sintetis dan cenderung lebih keras di kulit.

Mengapa Kadar TFM Penting?

Ilustrasi sabun batang. Foto: Shutterstock

Merujuk pada laman Cureskin, kadar TFM sangat penting karena lemak alami dalam sabun berperan menjaga kelembapan dan melindungi lapisan kulit dari kekeringan. Sabun dengan TFM tinggi mampu mempertahankan minyak alami kulit, sehingga kulit tetap lembut, sehat, dan tidak mudah kering.

Sebaliknya, sabun dengan TFM rendah cenderung menghilangkan kelembapan alami kulit, sehingga menyebabkan kulit kering, bersisik, bahkan iritasi.

Baca Juga: DJP Bongkar Modus 282 Eksportir CPO Akali Pajak Lewat Palsukan POME-Fatty Matter

(ANB)