Apa Itu Fenomena Sinkhole? Ini Pengertian dan Proses Terbentuknya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena tanah berlubang atau sinkhole kembali terjadi di kawasan batu kapur Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Ini sudah ke sekian kalinya lubang dengan diameter cukup besar itu tiba-tiba muncul di suatu titik.
Mengutip laman Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sinkhole umumnya terjadi di daerah batu kapur. Secara geologis, Nagari Situjuah Batua memang berada di kawasan batu kapur yang tertutup material erupsi Gunung Sago.
Fenomena ini jelas menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Sebenarnya, apa itu sinkhole dan bagaimana fenomena ini bisa terjadi? Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini!
Apa Itu Fenomena Sinkhole?
Dikutip dari laman Tensar U.K, sinkhole adalah cekungan atau depresi di permukaan tanah yang terbentuk akibat runtuhnya lapisan bawah tanah. Secara umum, sinkhole terbentuk ketika material di bawah tanah mengalami erosi atau larut, sehingga menciptakan ruang kosong yang menyebabkan tanah di atasnya runtuh.
Di Indonesia, fenomena sinkhole banyak dijumpai di wilayah dengan batuan karbonat atau kawasan karst, seperti Gunungkidul, Pacitan, dan Maros. Gunungkidul sendiri bahkan dikenal sebagai salah satu daerah dengan intensitas sinkhole cukup tinggi.
Sinkhole bisa muncul dengan ukuran yang beragam, mulai dari beberapa meter hingga ratusan meter, dengan kedalaman yang berbeda-beda. Pada kondisi tertentu, lubang ini bahkan dapat terisi air dan berubah menjadi danau kecil.
Bagaimana Sinkhole Terbentuk?
Berdasarkan informasi dari laman BBC, sinkhole dapat terbentuk karena berbagai faktor, mulai dari kondisi geologi alami hingga aktivitas manusia. Salah satu penyebab paling umum adalah pelapukan batuan seperti batu kapur.
Proses ini terjadi ketika karbondioksida di udara bercampur dengan air hujan dan membentuk asam karbonat. Kemudian, air asam tersebut meresap ke dalam tanah, melarutkan batuan kapur secara perlahan hingga membentuk rongga bawah tanah yang ukurannya kian membesar.
Selain faktor alami, aktivitas manusia seperti pemompaan air tanah dan pengeboran juga dapat mempercepat terbentuknya sinkhole. Aktivitas ini dapat melemahkan struktur bawah tanah sehingga berisiko merusak infrastruktur dan membahayakan keselamatan sekitar.
Langkah Mitigasi Fenomena Sinkhole
Untuk mengurangi risiko terjadinya fenomena sinkhole, diperlukan upaya mitigasi yang terencana, berkelanjutan, dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Mengutip laman Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, berikut langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan:
Mengelola pengambilan air tanah secara bijak agar rongga bawah tanah tidak mengering dan melemah.
Menghindari pembangunan infrastruktur di Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) yang berisiko tinggi terhadap amblesan.
Mendesain infrastruktur yang adaptif terhadap karakteristik tanah karst, termasuk sistem drainase dan struktur bangunan tahan amblesan.
Memanfaatkan teknologi pemantauan, seperti georadar, untuk mendeteksi perubahan struktur bawah tanah sejak dini.
Melakukan pemantauan lingkungan secara rutin dan berkelanjutan.
Meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai risiko sinkhole dan pemanfaatan kawasan karst.
Mengajak masyarakat mengenali tanda-tanda awal sinkhole, seperti retakan tanah, bangunan atau tiang yang miring, genangan air tak wajar, dan suara retakan dari dalam tanah.
Baca Juga: 7 Bencana Nasional yang Pernah Terjadi di Indonesia dan Dampaknya
(ANB)
