Konten dari Pengguna

Apa itu Gowok, Istilah dalam Tradisi TPersiapan Pernikahan Jawa Kuno?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pernikahan adat jawa. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pernikahan adat jawa. Foto: Shutterstock

Gowok menjadi istilah yang belakangan ini banyak diperbincangkan masyarakat setelah pengumuman film baru Reza Rahadian yang bertajuk Gowok: Kamasutra Jawa. Film tersebut akan tayang di bioskop pada 5 Juni 2025.

Bagi masyarakat Jawa, gowok mungkin bukanlah istilah yang asing. Sebab, gowok adalah istilah yang merujuk pada tradisi persiapan pernikahan masyarakat Jawa pada zaman dahulu.

Seiring berkembangnya pengetahuan masyarakat, tradisi kuno itu kini dianggap tabu. Sebenarnya, apa itu gowok dan mengapa dianggap tabu? Simak penjelasan selengkapnya dalam artikel ini.

Mengenal Tradisi Gowok di Masyarakat Jawa

Ilustrasi pernikahan adat jawa. Foto: Shutterstock

Dalam jurnal terbitan Psycho Idea berjudul Gowokan, Persiapan Pernikahan Laki-Laki Banyumas (2010) susunan Dyah Siti Septiningsih, dijelaskan bahwa gowok adalah perempuan usia 30-an yang menjadi “guru” bagi laki-laki sebelum menikah. Gowok bertugas memberi ilmu tentang kehidupan rumah tangga, termasuk edukasi hubungan suami-istri kepada si laki-laki.

Ketika seorang laki-laki dalam masyarakat Jawa pada zaman dahulu hendak menikah, keluarganya akan mencarikan gowok untuknya. Apabila sang gowok menyanggupi untuk menjadi pembimbing, maka calon pengantin pria akan diserahkan kepada gowok sepenuhnya.

Proses bimbingan bisa dilakukan di rumah gowok ataupun rumah calon pengantin. Biasanya gowok dan calon pengantin akan tinggal bersama selama beberapa hari atau sesuai waktu yang telah disepakati.

Tradisi gowokan ini lahir dari falsafah masyarakat Jawa yang menganggap bahwa laki-laki sebagai kepala rumah tangga harus memiliki kemampuan mumpuni dalam membimbing istri. Jadi, mereka harus mendapatkan “pendidikan” tentang dunia rumah tangga dari perempuan berpengalaman (gowok).

Proses persiapan pernikahan seperti itu begitu lumrah dilakukan pada masa lalu. Hal ini digambarkan dalam salah satu karya sastra populer, yakni novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Thohari yang terbit pertama kali pada 1982.

Ilustrasi pernikahan adat Jawa. Foto: Shutterstock

Dalam novel itu, diceritakan perempuan muda bernama Srintil ditawarkan untuk menjadi gowok. Tawaran seperti itu bukanlah hal yang memalukan atau menimbulkan ketersinggungan pada zaman tersebut (1960-an).

Justru, menjadi gowok adalah hal yang menguntungkan karena pihak keluarga calon pengantin akan memberi upah cukup besar.

“Jadi sesudah meronggeng nanti, Srintil kuminta tinggal beberapa hari lamanya menemani anakku, Waras. Soal upah, aku ulangi, sampean tak perlu khawatir.” (Dialog dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk)

Pada prinsipnya, sistem pengupahan gowok tergantung pada kesepakatan dengan keluarga calon pengantin. Tapi, biasanya pihak keluarga akan memberikan upah yang nilainya sama dengan mahar untuk calon pengantin perempuan, lalu ditambah hadiah berupa uang atau apa pun sesuai keinginan gowok.

Transaksi atau tradisi semacam itu sudah tidak ditemukan lagi di masa kini. Bisa dibilang, tradisi gowokan sudah punah seiring berjalannya waktu karena pola pikir masyarakat semakin berkembang.

Menitipkan calon pengantin laki-laki pada gowok kini dianggap tabu. Sebab, selain bertentangan dengan norma dan agama, akses informasi tentang cara membangun rumah tangga yang baik sudah semakin mudah didapat.

Selain itu, di era modern ini juga bisa memanfaatkan keberadaan psikolog dan konselor pernikahan. Mereka akan memberikan saran maupun solusi profesional kepada pasangan yang ingin atau sudah menikah.

Baca Juga: Sinopsis Film Gowok Kamasutra Jawa, Jadwal Tayang, dan Daftar Pemainnya

(DEL)