Apa itu Hilal? Ini Penjelasan dan Cara Menentukannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penentuan awal bulan Ramadhan ditetapkan berdasarkan pengamatan hilal. Keberadaan hilal memang menjadi dasar penentuan awal bulan-bulan dalam kalender Islam, antara lain Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Penentuan awal bulan Ramadhan di Indonesia kemungkinan akan terjadi perbedaan. Itu karena perbedaan metode yang digunakan antara pemerintah dan dua organisasi Islam di Indonesia, yakni Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dan Nahdlatul Ulama (NU) yang menggunakan rukyatul hilal.
Apa itu Hilal?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hilal artinya bulan sabit atau bulan yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah. Secara etimologi, hilal berasal dari bahasa Arab, yaitu hilal yang artinya bulan sabit dan halla yang artinya menderas (tentang hujan) atau nampak.
Merujuk pada buku Hisab dan Rukyat yang ditulis oleh Riza Afrian Mustaqim, hilal memiliki bentuk seperti lengkungan yang sangat tipis dari cahaya bulan. Lengkung tipis bulan tergantung pada usia hilal. Semakin muda usia hilal, maka semakin pendek lengkung busur hilalnya.
Kemunculan hilal terjadi setelah terjadinya konjungsi (ijtimak). Secara astronomis, ijtimak menggambarkan posisi matahari, bumi, dan bulan ada dalam satu sisi yang sama, dan hanya dapat diamati sesaat setelah matahari terbenam di ufuk barat.
Fungsi Hilal
Hilal memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam Islam, terutama dalam hal penetapan tanggal pelaksanaan ibadah-ibadah tertentu, seperti puasa Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Bersumber dari buku Esai-Esai Astronomi Islam karya Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, hilal disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 189 yang berbunyi:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Artinya: "Mereka bertanya kepadamu mengenai hilal-hilal, katakan: itu merupakan tanda waktu bagi manusia dan (tanda waktu bagi) Haji."
Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa Allah menjadikan fenomena benda langit yang bernama hilal sebagai tanda waktu bagi kehidupan sosial manusia (kalender sosial) dan juga standar acuan bagi ibadah haji (kalender ibadah).
Oleh karena itu, dikutip dari situs Jurnal Bimas Islam Kemenag, sebagian ulama memandang fungsi kalender yang dicetak berperan sebagai kalender sosial, sedangkan kalender ibadah ditentukan berdasarkan sidang isbat oleh pengelola negara.
Cara Menentukan Hilal
Dalam Islam, hilal merupakan bagian penting dalam menentukan awal bulan kalender Hijriah. Berikut ini beberapa metode yang digunakan dalam penentuan hilal.
1. Rukyatul Hilal
Dijelaskan dalam situs resmi Mahkamah Syar'iyah Aceh, rukyatul hilal adalah kriteria penentu awal bulan kalender hijriah dengan cara merukyah (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Kriteria ini berpegangan pada hadits Nabi Muhammad: “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal, jika terhalang maka genapkanlah (istikmal).”
2. Hisab
Berdasarkan situs resmi Kemenag, hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan untuk menentukannya dimulainya awal bulan pada kalender Hijriah.
Secara harfiah, hisab berarti perhitungan. Dalam ajaran Islam, istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.
Posisi matahari menjadi penting karena sebagai patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu shalat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender hijriah.
Baca Juga: Sama dengan RI, Arab Saudi Amati Hilal Ramadan 2025 pada Jumat, 28 Februari
(ANB)
