Apa Itu Konjungsi Temporal dalam Bahasa Indonesia? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu pembahasan penting dalam mempelajari bahasa Indonesia adalah memahami apa itu konjungsi temporal. Pasalnya, istilah ini merupakan elemen penting yang berfungsi untuk menunjukkan hubungan waktu dalam kalimat.
Mengutip E-Modul Bahasa Indonesia kelas XI terbitan Kemdikbud, penggunaan konjungsi temporal adalah untuk menggambarkan urutan peristiwa atau kejadian dalam waktu tertentu.
Guna mengetahui lebih lanjut tentang apa itu konjungsi temporal, simak informasi lengkapnya di bawah ini.
Konjungsi Temporal dalam Bahasa Indonesia
Pada dasarnya, konjungsi adalah kata atau frasa yang digunakan untuk menunjukkan hubungan antarbagian dalam kalimat. Mengutip buku Cara Mudah Memahami Teks Prosedur karya Ade Novita Sari, pengertian konjungsi temporal adalah kata hubung atau kata sambung yang menunjukkan waktu.
Konjungsi temporal menghubungkan klausa atau kalimat dengan memberikan keterangan waktu kapan sesuatu terjadi.
Dalam penggunaannya, konjungsi temporal dapat dibedakan menjadi dua kategori berdasarkan tingkat kesejajaran (sederajat) atau ketidaksederajatan antara klausa-klausa yang dihubungkan. Berikut penjelasannya:
1. Konjungsi Temporal Sederajat
Konjungsi temporal sederajat menghubungkan dua klausa atau kalimat yang setara dan memiliki hubungan logis yang sejajar. Konjungsi ini tidak boleh diletakkan di awal atau akhir kalimat dan umumnya digunakan untuk menyatakan urutan kejadian.
Contoh konjungsi temporal sederajat, yaitu:
Sebelumnya: Menunjukkan bahwa peristiwa sebelumnya telah terjadi. Contoh: "Kami berbicara sebelumnya, lalu mulai bekerja."
Sesudahnya: Menunjukkan bahwa peristiwa berikutnya terjadi. Contoh: "Dia makan pagi, sesudahnya dia langsung pergi."
Lalu: Menunjukkan peristiwa berikut dalam urutan waktu. Contoh: "Kami menonton film, lalu kami pulang."
Kemudian: Menyatakan peristiwa selanjutnya. Contoh: "Dia menyelesaikan tugas, kemudian beristirahat."
Selanjutnya: Menyatakan peristiwa yang terjadi setelah yang lain. Contoh: "Dia menjelaskan proyek pertama, selanjutnya kami membahas proyek kedua."
2. Konjungsi Temporal Tidak Sederajat
Konjungsi temporal tidak sederajat menghubungkan klausa yang tidak sederajat, yaitu klausa utama dan klausa subordinatif. Konjungsi tidak sederajat dapat ditempatkan di awal, tengah, atau akhir kalimat dan digunakan untuk menunjukkan hubungan waktu dengan klausa yang lebih bergantung.
Contoh konjungsi temporal tidak sederajat:
Apabila: Menunjukkan kondisi waktu tertentu. Contoh: "Aku akan datang apabila kamu membutuhkan bantuan."
Bila: Menyatakan kemungkinan waktu. Contoh: "Aku akan menghubungimu bila ada kabar."
Ketika: Menunjukkan peristiwa yang terjadi pada waktu bersamaan. Contoh: "Dia tiba ketika aku sedang tidur."
Sampai: Menyatakan batas waktu terjadinya sesuatu. Contoh: "Aku akan menunggu di sini sampai kamu selesai."
Sebelum: Menyatakan bahwa sesuatu terjadi sebelum peristiwa lain. Contoh: "Kita harus bertemu sebelum rapat dimulai."
Fungsi dan Ciri-ciri Konjungsi Temporal
Dikutip dari Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya dengan judul Penggunaan Konjungsi Subordinatif Kausal dan Temporal dalam Teks Berita, dengan adanya konjungsi temporal, pembaca kemungkinan besar akan lebih paham dengan maksud dari tulisan.
Pasalnya, mereka tidak akan kebingungan membaca suatu kalimat atau paragraf karena tidak adanya kata penghubung. Masih dari sumber yang sama, beberapa ciri-ciri dari konjungsi temporal adalah sebagai berikut:
Menghubungkan kalimat yang berkaitan unsur waktu
Ciri yang satu ini adalah ciri utama konjungsi temporal. Hal ini dikarenakan konjungsi temporal tidak bisa digunakan pada kalimat yang tidak memiliki unsur waktu
Berfungsi sebagai subjungtif
Subjungtif adalah suatu modus yang menyatakan kemungkinan yang objektif. Artinya, penggunaan konjungsi temporal dalam suatu kalimat berfungsi agar kalimat yang ditulis memiliki makna yang lengkap, koheren, dan mudah dipahami.
Menjadi penghubung kalimat utama dan kalimat induk
Konjungsi temporal bisa menjadi pengait antara satu kalimat dengan kalimat lainnya. Dengan begitu, pembaca bisa dengan mudah memahami hubungan kedua kalimat tersebut.
Bersifat fleksibel
Maksud dari fleksibel adalah konjungsi temporal dapat diletakkan di mana saja, baik di awal, tengah, maupun akhir. Penempatan tersebut menyesuaikan maksud dan tujuan dari kalimat yang ditulis.
Ragam Konjungsi dalam Bahasa Indonesia
Dalam bahasa Indonesia, ada banyak jenis konjungsi selain konjungsi temporal. Mengutip buku Teks dalam Kajian Struktur dan Kebahasaan karya Taufiqur Rahmani, berikut ini adalah jenis-jenis konjungsi selain konjungsi temporal.
1. Konjungsi Koordinatif
Konjungsi koordinatif menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa yang setara. Contoh konjungsi koordinatif adalah "dan," yang menyatukan dua elemen, "Atau" menyatakan pilihan.
"Tetapi" menunjukkan perlawanan, “Melainkan" menyatakan kontras setelah penyangkalan, dan juga "Sedangkan" menunjukkan perbedaan, seperti "Saya suka musik klasik, sedangkan adik saya suka musik pop."
2. Konjungsi Subordinatif
Konjungsi subordinatif menghubungkan klausa utama dengan klausa subordinatif yang memberikan informasi tambahan. Misalnya, "karena" menyatakan sebab, "Meskipun" menunjukkan kondisi bertentangan.
"Jika" menyatakan syarat, "Ketika" menunjukkan waktu, "Sehingga" menyatakan akibat, dan juga "Supaya" menunjukkan tujuan.
3. Konjungsi Antarkalimat
Konjungsi antarkalimat menghubungkan dua kalimat yang berbeda tetapi memiliki hubungan makna. Contohnya adalah "oleh karena itu," yang menyatakan kesimpulan, "Selain itu" menyatakan tambahan informasi.
"Kemudian" menunjukkan urutan waktu, juga "Bahkan" yang menyatakan penekanan.
4. Konjungsi Korelatif
Konjungsi korelatif adalah pasangan konjungsi yang digunakan bersama-sama untuk menghubungkan dua elemen yang setara. Contohnya adalah "baik...maupun," seperti dalam kalimat "Baik kamu maupun saya harus bertanggung jawab."
"Tidak hanya...tetapi juga" menyatakan tambahan informasi, "Entah...entah" menyatakan ketidakpastian, dan juga "Begitu...sehingga" menunjukkan sebab dan akibat.
5. Konjungsi Penegas
Konjungsi penjelas menghubungkan klausa atau kalimat yang memberikan penjelasan lebih lanjut. Contohnya adalah "yakni," yang memperinci elemen sebelumnya.
"Yaitu" juga memperinci elemen sebelumnya, dan juga "Seperti" menyatakan contoh atau perbandingan.
6. Konjungsi Aditif
Konjungsi aditif berfungsi untuk menggabungkan kata dengan kata, frasa, klausa, atau kalimat yang kedudukannya sederajat.
Selain itu, konjungsi ini berfungsi untuk menambahkan informasi baru yang mendukung atau melengkapi ide sebelumnya. Contoh dari konjungsi ini adalah dan, lagi pula, serta dan lain sebagainya.
7. Konjungsi Disjungtif
Kemudian ada konjungsi disjungtif yang menghubungkan dua unsur sederajat dengan tujuan memilih salah satu dari dua hal atau lebih.
Contoh dari konjungsi disjungtif antara lain adalah atau, maupun, baik, dan entah.
8. Konjungsi Final
Konjungsi final berfungsi menjelaskan maksud dan tujuan suatu peristiwa atau tindakan. Contoh kata yang dipakai dalam konjungsi ini antara lain adalah supaya, untuk, agar, dan guna.
9. Konjungsi Perbandingan
Kata penghubung atau konjungsi perbandingan berfungsi untuk menghubungkan dua hal dengan cara membandingkan dua hal tersebut.
Contoh katanya adalah sebagai, sebagaimana, seperti, bagai, bagaikan, seakan-akan, ibarat, daripada.
10. Konjungsi Pertentangan
Ada juga konjungsi pertentangan yang berfungsi sebagai kata penghubung antardua kalimat sederajat yang saling bertentangan. Biasanya, posisi kalimat kedua lebih penting dibanding kalimat pertama.
Contoh kata yang bisa digunakan sebagai konjungsi pertentangan adalah sebaliknya, padahal, melainkan, akan tetapi, sedangkan, namun.
11. Konjungsi Syarat
Konjungsi syarat menjelaskan suatu hal bisa terpenuhi apabila syarat yang ada dipenuhi, atau dijalankan. Contoh kata yang digunakan adalah jika, jikalau, apabila, asalkan, kalau, dan bilamana.
12. Konjungsi Tak Bersyarat
Sedangkan, untuk konjungsi tak bersyarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi dengan sendirinya, tanpa syarat- syarat yang harus dipenuhi.
Contoh kata sambung yang bisa gunakan adalah walaupun, meskipun, dan biarpun.
13. Konjungsi Situasi
Konjungsi ini merupakan kata hubung yang menggambarkan suatu perbuatan yang terjadi, atau berlangsung dalam keadaan tertentu.
Contoh kata yang biasa digunakan dalam konjungsi ini adalah sedang, sedangkan, padahal, dan sambil.
14. Konjungsi Penanda
Selanjutny,a untuk konjungsi penanda menyatakan penandaan terhadap sesuatu hal. Kata-kata yang ada dalam konjungsi ini adalah misalnya, umpama, dan contoh
konjungsi lain yang termasuk dalam jenis ini adalah konjungsi pengutamaan. Sedangkan untuk contoh katanya antara lain adalah yang penting, yang pokok, paling utama, dan terutama.
15. Konjungsi Pembatasan
Jenis konjungsi yang terakhir adalah konjungsi pembatasan. Kata hubung ini memiliki makna menyatakan pembatasan terhadap sesuatu hal atau dalam batas-batas mana perbuatan dapat dilakukan.
Untuk contoh kata penghubung yang bisa digunakan adalah kecuali, selain, asal, dan banyak lainnya.
Dengan memahami apa itu konjungsi temporal dan beberapa jenis konjungsi lainnya, Anda dapat membuat kalimat yang lebih terstruktur, logis, dan mudah dipahami.
Baik kalimat verbal atau tulisan akan mudah dipahami dengan adanya penggunaan konjungsi yang sesuai dengan fungsinya.
Baca Juga: Urutan Struktur Teks Eksplanasi yang Tepat dalam Bahasa Indonesia
(SFN)
