Apa Itu Muruah? Ini Pengertian, Dalil, dan Contoh Sikapnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara bahasa, muruah artinya menjaga kehormatan diri. Sikap ini mencerminkan seluruh sifat-sifat luhur, kesatria, pemberani, teguh hati, dan senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat mendatangkan rasa malu.
Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan yang senantiasa menjaga sikap muruah. Ia selalu mengerjakan amalan ma’ruf dan menjauhkan diri dari perbuatan yang haram dan dosa.
Dalam menjaga sikapnya, Nabi SAW juga amat berhati-hati. Alih-alih mengatakan hal yang tidak penting, beliau lebih sering diam dan hanya berbicara ketika sangat diperlukan.
Umat Muslim pun diajarkan untuk menjalankan sikap muruah ini oleh Rasulullah. Agar lebih memahami hakikatnya, simak penjelasan tentang muruah selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Sikap Muruah dalam Islam
Saat menerapkan sikap muruah, seorang Muslim hendaknya semaksimal mungkin dalam menjaga kehormatan dirinya. Ini dilakukan karena ia tahu bahwa seluruh gerak-geriknya sedang diawasi oleh Allah SWT.
Untuk itu, seorang hamba hendaknya berusaha untuk memperbaiki segala aib yang dimilikinya. Kemudian, ia bertobat dengan mengerjakan amal salih dan meninggalkan amal buruk atau maksiat.
Penjelasan mengenai sikap muruah ini ini selaras dengan pendapat yang disampaikan oleh jumhur ulama. Mengutip buku Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Hadits karya Prof. Dr. H. Samsul Nizar, mayoritas ulama mengatakan bahwa muruah adalah sikap menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.
Muruah dilakukan untuk membersihkan dosa, mencegah diri dari kezaliman, dan mencegah dari perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT. Para ahli hikmah mendefiniskan muruah sebagai sikap sabar menghadapi segala ujian, mensyukuri nikmat yang diberikan, dan mampu memaafkan kesalahan orang lain.
Di samping itu, dalam sebuah kesempatan, Hasan Al-Basri pernah ditanya tentang muruah, lalu beliau menjawab: “Muruah adalah apabila seseorang berusaha memperbaiki urusan dan agamanya, menggunakan hartanya dengan baik, menebar kedamaian, dan mencintai sesama manusia.”
Dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa sikap muruah tercermin dalam akhlak Rasulullah SAW. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “Sebaik-baik perilaku adalah perilaku Muhammad SAW.”
Sementara Jabir bin Abdullah berkata, “Perkataan Nabi Muhammad SAW selain fasih juga sangat lancar.”
Jadi, muruah ini tidak hanya diterapkan pada situasi tertentu, melainkan bisa diterapkan dalam kegiatan apa saja. Tentunya, ini berkaitan dengan adab-adab yang ditetapkan dalam Islam.
Contohnya, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk menghembuskan napas pada makanan dan minuman, menganjurkan membersihkan mulut dengan bersiwak, makan menggunakan tangan kanan, membersihkan sela-sela jari tangan, dan lainnya.
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa muruah dapat mencerminkan kecermatan seorang Muslim dalam menjaga akhlaknya. Ini dilakukan agar ia menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, sehingga tidak nampak lagi keburukan dalam dirinya.
Sikap muruah ada kaitannya dengan kesucian jiwa dan kebeningan kalbu. Sikap ini sangat penting bagi seorang Muslim sebagai bekal untuk menjalani kehidupan bermasyarakat.
Ada beberapa hal yang dapat merusak muruah seseorang. Dikutip dari buku Seperti Maryam Seperti Robiah susunan Dian Nafi (2022), berikut penjelasannya:
Kurangnya semangat dan motivasi.
Sikap sombong dan senang merendahkan orang lain.
Hawa nafsu yang membawa pada keburukan.
Hilangnya rasa malu, khususnya bagi perempuan.
Kebohongan dan tidak konsisten dengan prinsip sendiri.
