Apa itu Nafar Awal dan Nafar Tsani dalam Ibadah Haji? Begini Perbedaannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dijalankan oleh umat Muslim yang mampu secara fisik dan materi. Salah satu rangkaian penting dalam ibadah ini adalah melontar jumrah di Mina, yang melambangkan penolakan terhadap godaan setan.
Dalam menjalankannya, terdapat dua istilah yang sering muncul, yakni nafar awal dan nafar tsani. Kedua istilah ini merujuk pada waktu dan tata cara jemaah haji meninggalkan Mina setelah menyelesaikan ritual melontar jumrah.
Oleh karena itu, memahami perbedaan keduanya sangat penting agar seluruh rangkaian ibadah haji berjalan sesuai dengan tuntunan syariat. Untuk mengetahui lebih jauh tentang apa itu nafar awal dan nafar tsani, simak penjelasannya berikut.
Apa itu Nafar Awal dan Nafar Tsani dalam Ibadah Haji?
Secara bahasa, kata Nafar dapat diartikan sebagai rombongan. Namun secara istilah, nafar biasanya merujuk pada keberangkatan sekelompok orang yang meninggalkan Mina. Dalam ibadah haji, dikenal dua istilah nafar, yaitu nafar awal dan nafar tsani.
Kedua istilah tersebut memiliki ketentuan yang berbeda, terutama mengenai durasi pelaksanaan serta jumlah lontaran batu kerikil yang harus dilakukan. Adapun perbedaan antara nafar awal dan nafar tsani adalah sebagai berikut:
1. Pengertian Nafar Awal dan Nafar Tsani
Dikutip dari buku Haji dan Umrah: Sebuah Perjalanan Spiritual dari Niat hingga Tawaf Wada karya Nadia Kharisma Afrillia (2024), nafar awal adalah pilihan bagi jemaah haji yang ingin meninggalkan Mina lebih awal, yaitu pada 12 Dzulhijjah.
Sebaliknya, nafar tsani adalah pilihan bagi jemaah haji yang ingin menyelesaikan lontaran jumrah pada 13 Dzulhijjah. Dengan kata lain, nafar tsani memungkinkan jemaah untuk melaksanakan seluruh rangkaian lontaran jumrah sampai hari terakhir.
2. Durasi Pelaksanaan Nafar Awal dan Nafar Tsani
Perbedaan utama antara nafar awal dan nafar tsani terletak pada durasi pelaksanaannya. Jemaah haji yang memilih nafar awal hanya akan menjalani dua hari Tasyrik, yakni pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah.
Sementara itu, jemaah haji yang mengambil nafar tsani akan tinggal di Mina selama tiga hari Tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, untuk menyelesaikan seluruh rangkaian lempar jumrah hingga hari terakhir.
3. Batas Waktu Meninggalkan Mina
Jemaah yang memilih nafar awal wajib meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam pada 12 Dzulhijah. Apabila masih berada di Mina setelah waktu Maghrib, maka mereka harus melanjutkan ibadah hingga 13 Dzulhijjah dan secara otomatis termasuk dalam nafar tsani.
Di sisi lain, jemaah yang mengambil nafar tsani dapat meninggalkan Mina kapan saja pada 13 Dzulhijjah setelah menyelesaikan seluruh lontaran jumrah. Perbedaan ini menunjukkan bahwa nafar awal memiliki waktu yang lebih singkat, jika dibandingkan nafar tsani.
4. Jumlah Batu Kerikil yang Dilontarkan
Mengutip laman Badan Pengelola Keuangan Haji, perbedaan lain antara nafar awal dan nafar tsani terletak pada jumlah batu kerikil yang diontarkan. Pada nafar awal, jemaah melempar masing-masing tujuh batu ke Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah selama dua hari.
Secara total, jumlah batu yang dilempar dalam nafar awal mencapai 49 butir. Rinciannya adalah 7 butir pada hari pertama Idul Adha, yaitu 10 Dzulhijjah, dan masing-masing 21 butir pada hari Tasyrik tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, dengan pembagian 7 butir untuk setiap jumrah.
Adapun pada nafar tsani, pelontaran jumrah dilakukan selama tiga hari Tasyrik, sehingga jumlah batu kerikil yang digunakan akan lebih banyak, yakni 70 butir. Jumlah ini terdiri dari 7 butir pada 10 Dzulhijjah, serta 21 butir pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Baca juga: Ibadah Haji Berapa Hari? Ini Durasi Pelaksanaannya
(RK)
