Apa Itu Paranoia? Ini Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya yang Harus Diwaspadai

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paranoia adalah jenis gangguan mental yang ditandai dengan kecurigaan tidak rasional. Orang yang menderita paranoia memiliki keyakinan bahwa orang lain berniat mencelakakan dirinya.
Ahli medis mendefinisikan paranoia sebagai rasa ketakutan tak berdasar yang dimiliki seseorang. Ia selalu merasa bahwa ada orang lain yang ingin melukai dirinya. Atas dasar ini ia selalu menyimpan rasa curiga dan sulit percaya kepada orang lain.
Dijelaskan dalam buku Protopia Philosophia oleh Reza A.A Wattimena (2019), saat gejala paranoia muncul, pasien akan bersikap kejam kepada orang terdekatnya, termasuk teman-teman, keluarga, hingga pasangan.
Penyakit paranoia biasanya membuat seseorang tidak bisa berpikir jernih, terutama ketika mengambil keputusan. Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan tentang paranoia selengkapnya yang bisa Anda simak.
Gejala dan Penyebab Paranoia
Pasien yang menderita gangguan paranoia cenderung tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan. Ia akan kesulitan menjalani kehidupannya di lingkungan masyarakat karena mengalami banyak hambatan.
Paranoia lahir dari pikiran dan perasaan yang tertekan. Gejalanya semakin parah ketika seseorang menolak untuk mengakui dan menyadari perasaan-perasaan yang ada di dalam dirinya.
Perasaan yang tidak tervalidasi tersebut bisa menjadi gejala akut dari paranoia. Dalam beberapa kasus, gejala ini bahkan bisa menyebabkan seseorang menderita penyakit mental Skizofrenia Paranoid.
Gangguan paranoia yang serius ditandai dengan timbulnya banyak delusi dan khayalan. Berbagai penelitian mencatat bahwa hampir 70% penderita paranoia berasal dari kaum pria.
Saat gejalanya kambuh, pasien paranoia akan merasakan delusion of grandeur dan delusion of persecution. Mereka juga merasa iri hati, cemburu, dan curiga berlebihan kepada orang lain.
Dirangkum dari buku Patologi Sosial karya Dr. Paisol Burlian (2016), berikut gejala umum yang sering dijumpai pada pasien paranoia:
Selalu diikuti delusi-delusi, misalnya delusion of grandeur dan delusion of persecution. Iri hati merupakan bagian dari delusi yang "disistematisasikan". Mereka kerap merasa bahwa dirinya adalah dewa, nabi, utusan Tuhan, atau pemimpin besar.
Kehidupan jiwa atau mentalnya tidak mengalami demensia. Pikirannya masih logis, akan tetapi ide-idenya selalu salah.
Umumnya gangguan paranoia bersifat kompensatoris. Ada rasa-rasa bersalah atau berdosa, inferior, cemburu, iri hati, dan lain-lain yang diproyeksikan pada orang lain. Tujuannya tidak lain untuk membela egonya sendiri .
Gangguan paranoia dapat muncul karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Berikut beberapa penyebab yang bisa memperparah kondisinya:
Kecenderungan homoseksual dan dorongan seksual yang tertekan.
Ide-ide yang ekstrem dan didukung dengan pemikiran yang berlebihan.
Kebiasaan-kebiasaan berpikir yang salah. Biasanya, ini disebabkan oleh perasaan iri hati dan egosentrisme, terlampau sensitif, dipenuhi rasa curiga, dan delusi.
Bentuk kompensasi terhadap kegagalan dan kompleks inferiornya.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan paranoia?

Apa yang dimaksud dengan paranoia?
Paranoia adalah jenis gangguan mental yang ditandai dengan kecurigaan tidak rasional.
Apa penyebab paranoia?

Apa penyebab paranoia?
Salah satunya kecenderungan homoseksual dan dorongan seksual yang tertekan.
Apa gejala paranoia?

Apa gejala paranoia?
Saat gejalanya kambuh, pasien paranoia akan merasakan delusi-delusi, khususnya tipe delusion of grandeur dan delusion of persecution. Mereka juga merasa iri hati, cemburu, dan curiga berlebihan pada orang lain.
