Konten dari Pengguna

Apa Itu Rebo Wekasan yang Jatuh 14 Oktober?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apa Itu Rebo Wekasan. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apa Itu Rebo Wekasan. Foto: Freepik

Rebo Wekasan berasal dari Bahasa Jawa yang berarti hari Rabu terakhir di Bulan Safar dalam penanggalan Hijriah. Tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada hari ini, Rabu (14/10). Lazimnya, umat Islam yang berasal dari suku bangsa Jawa, Madura, dan Sunda akan mengadakan ritual untuk menolak bala.

Akar tradisi ini bermula dari adanya keyakinan bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar merupakan saat di mana Allah SWT menurunkan banyak musibah. Salah satu referensinya adalah kitab “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail alAzmina wasy-Syuhaar“ karya Syech Abdul Hamid al-Quds.

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa seorang Waliyullah yang telah mencapai maqom kasyaf (memiliki kemampuan melihat hal-hal yang ghoib) mengatakan bahwa dalam setiap tahun Allah menurunkan malapetaka sebanyak 320.000 macam dalam satu malam. Dan malam tersebut bertepatan pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Oleh sebab itu, sang Waliyullah menganjurkan agar umat Islam makin mendekatkan diri kepada Allah dan meminta perlindungan agar dijauhkan dari semua musibah.

Tradisi Menyambut Rebo Wekasan di Indonesia

Ilustrasi selamatan. Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/hp.

Tradisi peringatan Rebo Wekasan dijalankan dengan berbeda-beda. Ada beberapa ritual yang disesuaikan dengan kekhasan daerah masing-masing.

Melansir Ahmad Nurozi dalam jurnal “Rebo Wekasan dalam Ranah Sosial Keagamaan di Kab. Tegal Jawa Tengah: Analisis terhadap Ritual Rebo Wekasan di Desa Sitanjung Lebaksiu,” Islam di Jawa memiliki karakter tersendiri karena banyak prosesi ritual keagamaan yang merupakan perpaduan dari nilai-nilai Islam dengan animisme dan dinamisme.

Dikutip dari jurnal "Rebo Wekasan Menurut Perspektif KH. Abdul Hamid Dalam Kanz Al-Najah Wa Al-Surur” tulisan Umma Farida, masyarakat Kudus umumnya melaksanakan shalat sunnah muṭlaq untuk menolak bala, membaca doa tolak bala, dan kirab.

Setelah kirab, panitia akan membagikan air salamun yang diperoleh dari sumur masjid-masjid tertentu yang dikeramatkan. Mereka meyakini bahwa Sunan Kudus pernah menancapkan tongkatnya di masjid tersebut dan bekas tancapannya berubah menjadi sumur.

Air tersebut telah dibacakan Al-Qur’an 30 juz dan doa-doa tertentu pada saat Rebo Wekasan. Sebagian masyarakat Kudus meyakini bahwa siapapun yang meminum air tersebut akan diselamatkan dari berbagai malapetaka yang turun.

Sedangkan di Garut, masyarakat menyelenggarakan ritual Rebo Wekasan dengan melaksanakan shalat tolak bala. Lalu dilanjutkan dengan membaca doa dan ṣhalawat secara bersama-sama.

Mengutip Abi Muhammad Azha dalam "Hidayah Tuntunan Ibadah Sunnah 12 Bulan", selamatan dengan membagikan nasi pada tetangga, saudara, atau diberikan ke masjid untuk dinikmati bersama-sama merupakan ritual yang banyak dilakukan saat Rebo wekasan.

(ERA)