Konten dari Pengguna

Apa Itu Siklus Saros dalam Fenomena Gerhana Bulan? Ini Penjelasannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gerhana bulan total. Foto: Reuters/Jose Cabezas
zoom-in-whitePerbesar
Gerhana bulan total. Foto: Reuters/Jose Cabezas

Fenomena Gerhana Bulan Total akan kembali terlihat di langit pada 7 September 2025. Momen langka ini menjadi daya tarik bagi para pecinta astronomi maupun masyarakat umum untuk menyaksikannya secara langsung.

Gerhana Bulan Total yang terjadi kali ini bukan sekadar pemandangan alam. Peristiwa ini juga merupakan bagian dari pola astronomi jangka panjang yang dikenal sebagai Siklus Saros.

Fenomena ini terbilang unik karena pola berulangnya berkaitan erat dengan gerhana matahari maupun bulan. Sebenarnya yang dimaksud dengan Siklus Saros dan bagaimana perannya dalam fenomena gerhana? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu Siklus Saros?

Penampakan gerhana bulan fase total. Foto: Makna Zaezar/ANTARA FOTO

Dikutip dari laman Eclipse Wise, Siklus Saros adalah periode waktu yang digunakan untuk memprediksi gerhana matahari maupun bulan. Siklus ini berlangsung sekitar 6.585,3 hari atau sekitar 18 tahun 11 hari 8 jam.

Setelah satu siklus selesai, posisi relatif matahari, bumi, dan bulan hampir sama, sehingga gerhana dengan pola serupa bisa terjadi lagi. Dengan memanfaatkan siklus ini, astronom dapat memprediksi tanggal, waktu, dan durasi gerhana secara akurat.

Adapun gerhana-gerhana yang saling berkaitan akan membentuk sebuah seri Saros, yang menunjukkan keteraturan pergerakan matahari, bulan, dan bumi.

Setiap seri biasanya berlangsung antara 1.200 hingga 1.500 tahun, dimulai dengan gerhana sebagian, berkembang menjadi gerhana total atau cincin, dan kemudian kembali berakhir dengan gerhana sebagian.

Apabila merujuk pada laman Universitas Pendidikan Indonesia, fenomena Gerhana Bulan Total 7 September 2025 termasuk dalam Saros 128. Seri ini terdiri dari 71 gerhana dengan berbagai jenis, mulai dari penumbra, sebagian, hingga total.

Diketahui bahwa peristiwa terakhir dari seri ini terjadi pada 28 Agustus 2007. Setelah GBT 7 September 2025, gerhana berikutnya dari seri yang sama akan terjadi pada 19 September 2043, atau gerhana bulan ke-42 dari seri tersebut.

Asal Mula Siklus Saros

Penampakan gerhana bulan total. Foto: Indrayadi TH/ANTARA FOTO

Menurut laman Stargazing Mumbai, istilah “Saros” pertama kali diperkenalkan oleh Edmond Halley pada abad ke-17. Ia erinspirasi dari catatan astronomi Babilonia kuno.

Rangkaian siklus gerhana sebenarnya sudah disadari oleh para pengamat langit Babilonia ribuan tahun lalu. Mereka menyadari adanya pola berulang pada gerhana meski konsepnya masih sederhana.

Kemudian, astronom Yunani kuno Hipparchus yang hidup sekitar abad ke-2 SM, mengembangkan pemahaman tentang siklus gerhana lebih lanjut. Ia menyadari adanya pola yang konsisten dalam setiap peristiwa gerhana.

Hipparchus menemukan fakta bahwa gerhana yang terjadi dalam satu seri Saros memiliki posisi dan geometri yang sangat mirip dengan gerhana berikutnya setelah periode tertentu. Temuan ini menjadikan Siklus Saros sebagai dasar penting dalam perhitungan gerhana.

Sistem penomoran deret Saros kemudian diperkenalkan oleh G. van den Bergh pada tahun 1955 untuk memudahkan identifikasi gerhana. Sistem ini memungkinkan para astronom melacak dan membedakan gerhana yang terjadi dalam rangkaian panjang.

Baca Juga: Pengertian dan Ciri Gerhana Matahari Hibrida

(ANB)