Apa itu Tafakur dalam Pandangan Islam dan Manfaatnya?

Berita Hari Ini
Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Konten dari Pengguna
10 Februari 2021 9:54 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi tafakur. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tafakur. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tafakur adalah salah satu amalan yang dilakukan Rasulullah SAW untuk mengenal Allah SWT secara mendalam. Mengutip dari Ensiklopedi Islam, tafakur berasal dari kata kerja tafakkara yang artinya mempertimbangkan atau memikirkan.
ADVERTISEMENT
Sedangkan secara istilah, Ilma Pratidina (2018: 13) dalam Cinta, Syukur, dan Tafakur mengartikan tafakur sebagai “Suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah SWT.”
Aktvitas ini tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan tauhid, tetapi juga digunakan untuk mengkaji semua kejadian atau masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT memuji orang-orang yang merenung untuk memperoleh pengetahuan. Dalam surat Ali Imran ayat 190-191, Allah berfirman:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Mereka berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua, dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS Ali Imran:190-191).
ADVERTISEMENT
Dengan demikian, tafakur bertujuan untuk mengambil pelajaran. Untuk memahami lebih dalam hakikat tafakur, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini:

Perintah Tafakur

Warga mengusap mukanya saat dzikir dan doa bersama di Masjid Agung Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/2). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Tafakur merupakan amalan yang dilakukan oleh para utusan Allah. Nabi Muhammad SAW juga berpesan agar umat Islam selalu merenungkan kekuasaan Allah.
Melansir dari Tafakur Sesaat Lebih Baik dari Ibadah Setahun karya K.H. R. Abdullah bin Nuh (2014:4), menurut Abu Said Al-Khudri, Rasulullah pernah bersabda: “Berilah matamu bagian ibadahnya”.
Para sahabat bertanya, “Apa bagian ibadah mata itu?”
Beliau menjawab, “Membaca Alquran, bertafakur merenungkan isinya, dan mengambil pelajaran darinya."
Tidak hanya sekali Nabi Muhammad mengingatkan umatnya untuk bertafakur. Dari Ibnu Abbas r.a, Rasulullah SAW bersabda:
“Renungkanlah apa yang telah diciptakan Tuhan, tetapi jangan kamu renungkan bagaimana keadaan Tuhan itu, sebab dugaanmu takkan sampai ke situ”.
ADVERTISEMENT
Masih mengutip dari sumber yang sama, ketika Nabi Isa AS ditanya apakah ada orang seperti beliau di muka bumi, ia menjawab:
“Ya ada, orang yang bila bicara berarti zikir, bila diam sambil berpikir dan mempunyai pandangan yang dalam, itulah orang seperti aku”.

Manfaat Tafakur

com-Ilustrasi menjalankan ibadah Sholat Foto: Shutterstock
Menurut K.H. R. Abdullah bin Nuh (2014:11-12), tafakur adalah kunci dari segala kebaikan. Sebab hasil dari tafakur adalah ilmu pengetahuan, keadaan hati (hal), dan amal.
Apabila ilmu telah merasuk dalam hati, berubahlah keadaan hati. Contohnya tafakur tentang akhirat akan menghasilkan pengetahuan bahwa akhirat-lah yang utama.
Jika ini telah meresap pada hati, seseorang akan berorientasi pada akhirat dan zuhud terhadap masalah dunia. Ketika hati telah berubah, amal anggota badan juga mengikutinya. Hasilnya, orang tersebut akan melakukan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT.
ADVERTISEMENT
Selain itu merenung juga dapat menentramkan hati sehingga menghasilkan stabilitas emosi. Ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” (Q.S Ar-Ra’d:28).
(ERA)