Apa Itu Waisak? Ini Maknanya bagi Umat Buddha

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam hitungan hari, seluruh umat Buddha di dunia akan memperingati Hari Raya Waisak. Di Indonesia, pusat perayaan hari Waisak biasanya dilaksanakan di Candi Borobudur dan Candi Mendut.
Mengutip buku Borobudur Surroundings oleh Gagas Ulung dkk., Waisak dirayakan setiap bulan Mei pada waktu terang bulan atau purnama pertama. Itu sebabnya Waisak diperingati di waktu yang berbeda setiap tahunnya.
Bagi umat Buddha, Waisak hari suci teragung untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam hidup sang Buddha, Siddharta Gautama. Agar lebih memahami apa itu Waisak, simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Waisak?
Hari Raya Waisak adalah momentum untuk memperingati tiga peristiwa penting yang dialami Siddharta Gautama, yaitu kelahiran, penerangan, dan kematiannya. Ketiga peristiwa itu kemudian disebut dengan Trisuci Waisak.
Mengutip jurnal Menolak Waisak Nasional WALUBI oleh Totok, Hari Raya Waisak dirayakan dengan melakukan puja, perenungan, serta upacara ritual. Tujuannya untuk memahami makna Waisak yang tidak lepas dari sejarah hidup Siddharta Gautama.
Sejarah Hari Raya Waisak
Mengutip buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti tulisan Sulan dan Heru Budi Santoso, Pangeran Siddharta lahir pada tahun 623 SM di sebuah taman bernama Taman Lumbini.
Kelahirannya dianggap sebagai momen istimewa, bahkan disaksikan oleh para dewa dan dewi. Saat lahir, sang pangeran langsung berdiri tegak. Di setiap jalan yang dilaluinya tumbuh bunga teratai sebagai lambang kesucian.
Dijelaskan dalam buku Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI IPA oleh A. Ferry T. Indranto, Siddharta Gautama dibesarkan dengan penuh kesenangan dan kemewahan. Sejak kecil, ia sangat dijaga untuk tidak mengenal susah.
Meski begitu, lambat laun Siddharta penuh dengan kesenangan dunia. Ia pun mulai merenungkan berbagai peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya. Sang Buddha lalu pergi melakukan perjalanan untuk mencari makna kehidupan.
Di tengah perjalanannya, Siddharta bermeditasi di bawah pohon Salla. Dia bersumpah tidak akan pergi sebelum menjadi Buddha. Keteguhan itulah yang akhirnya membawanya mencapai bodhi atau kesadaran yang sempurna.
Setelah menolong umat manusia dengan menyebarkan agamanya, Siddharta Gautama wafat pada usia 80 tahun ketika berada di Desa Kusinegara.
Tradisi Hari Raya Waisak di Indonesia
Hari Raya Waisak ditandai dengan hiasan bendera Buddhis, janur, umbul-umbul, dan spanduk di sepanjang jalan raya, terutama di daerah Candi Borobudur dan Candi Mendut sebagai pusat perayaan.
Mengutip buku 150++ Tradisi Hari Raya di Dunia oleh Redaksi Plus, prosesi peringatan Waisak dimulai di Candi Mendut. Para biksu dan umat Buddha mengadakan upacara puja dan bakti di sana. Kegiatan dilanjutkan dengan arak-arakan menuju Candi Borobudur.
Barisan kirab atau arak-arakan terdiri dari barisan pembawa bendera merah putih dan bendera Walubi. Arak-arakan ini juga diikuti oleh kendaraan hias yang membawa relief Sang Buddha serta mobil yang membawa Api Dharma dan Air Suci.
Di Candi Borobudur, umat Buddha bersama para biksu memasuki keheningan bersama. Mereka bersemedi, memasuki suasana tenang untuk memusatkan pikiran hingga pada puncak perayaan Trisuci.
Peringatan Waisak diakhiri dengan penyalaan ribuan lampion oleh Sangha dan umat secara bersama-sama sebelum akhirnya dilepas ke angkasa.
(ADS)
Frequently Asked Question Section
Apa artinya Hari Raya Waisak?

Apa artinya Hari Raya Waisak?
Hari Raya Waisak adalah hari suci umat Buddha yang diperingati setiap bulan Mei pada waktu terang bulan atau purnama pertama.
Apa yang dilakukan umat Buddha saat Waisak?

Apa yang dilakukan umat Buddha saat Waisak?
Hari Raya Waisak dirayakan dengan melakukan puja, perenungan, serta upacara ritual.
Mengapa perayaan Waisak sering disebut dengan Tri Suci Waisak?

Mengapa perayaan Waisak sering disebut dengan Tri Suci Waisak?
Sebab Waisak adalah momentum untuk memperingati tiga peristiwa penting yang dialami Siddharta Gautama.
