Konten dari Pengguna

Apa Saja yang Kalian Ketahui Mengenai R.A. Kartini dan Perjuangannya?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock

Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April menjadi momen untuk mengenang jasa R.A. Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Berkat perjuangannya, perempuan kini memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki di banyak aspek kehidupan.

Kartini dikenal gigih menentang sistem yang membatasi perempuan pada masa Hindia Belanda. Ia aktif menyuarakan kesetaraan gender dan mendedikasikan hidupnya untuk memajukan pemikiran perempuan pada zamannya.

Apa saja yang perlu diketahui mengenai R.A Kartini dan apa yang ia perjuangkan di masanya? Simak kisahnya di bawah ini agar dapat meneladani sikapnya.

Apa Saja yang Kalian Ketahui Mengenai R.A. Kartini?

Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock

Raden Adjeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ia berasal dari keluarga bangsawan Jawa dan merupakan putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sementara ibunya, M.A. Ngasirah, dikenal sebagai guru agama di sekolah.

Sejak kecil, Kartini memiliki minat besar dalam belajar. Ia sempat mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS) dan belajar bahasa Belanda. Namun, seperti yang ditulis di buku Kartini: Guru Emansipasi Perempuan Nusantara oleh Ready Susanto, sekuat apa pun keinginan Kartini untuk mendapatkan pendidikan yang lebih maju, ia tak bisa mengelak dari tuntutan adat.

Pada usia 12 tahun, Kartini harus menjalani masa pingitan yang membatasi ruang geraknya. Meski demikian, di tengah keterbatasan tersebut, ia tetap mengembangkan pemikirannya melalui kegiatan surat-menyurat dengan teman-temannya di Belanda, seperti Stella Zeehandelaar dan Rosa Abendanon.

Sejak aktif bertukar surat, wawasannya pun semakin terbuka. Ia mulai tertarik pada pola pikir perempuan Eropa yang ia kenal melalui surat kabar, majalah, dan buku-buku yang dibacanya, membuat kepeduliannya terhadap isu perempuan kian tumbuh.

Di usia yang masih muda, Kartini telah membaca berbagai karya, seperti De Stille Kracht tulisan Louis Couperus, roman-roman feminis berbahasa Belanda, hingga buku karya Multatuli berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta.

Bacaan tersebut membangkitkan semangat dalam dirinya untuk memperjuangkan kemajuan perempuan pribumi yang saat itu masih jauh tertinggal dari pihak laki-laki dan memiliki kedudukan sosial yang rendah.

Perjuangan R.A. Kartini di Masa Penjajahan

ILustrasi perjuangan R.A. Kartini. Foto: Unsplash

Kartini menentang budaya dan sistem sosial yang membatasi perempuan, seperti tradisi pingitan dan pernikahan paksa. Ia menyadari bahwa pada masa itu perempuan tidak memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri dan sangat bergantung pada laki-laki.

Atas dasar itu, Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Ia percaya bahwa dengan bantuan pendidikan, perempuan bisa mandiri, dihargai, dan memiliki posisi yang lebih kuat dalam masyarakat.

Berdasarkan buku Kumpulan Sejarah Lengkap Pahlawan Indonesia Provinsi Jawa Tengah karya S. Halimah, pada usia 24 tahun, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, pada 12 November 1903.

Beruntung, semangat Kartini dalam memperjuangkan perubahan bagi perempuan mendapat dukungan dari sang suami. Ia pun diperbolehkan mendirikan sekolah bagi perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks perkantoran Rembang.

Namun, keinginan tersebut belum sempat terwujud karena Kartini lebih dulu wafat pada usia 25 tahun, tepatnya pada 17 September 1904, beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya.

Meski perjuangannya terhenti, gagasan Kartini terus dilanjutkan. Pada 1912, Yayasan Kartini mendirikan sekolah perempuan di berbagai daerah, seperti Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon. Sekolah-sekolah yang diinisiasi keluarga Van Deventer tersebut dikenal dengan nama Sekolah Kartini.

Setelah Kartini wafat, J.H. Abendanon yang notabene sahabatnya, mengumpulkan surat-surat yang pernah ia kirimkan kepada teman-temannya di Eropa. Kumpulan surat tersebut kemudian dibukukan dengan judul "Door Duisternis tot Licht" atau "Dari Kegelapan Menuju Cahaya" dan diterbitkan pada 1911.

Pada 1922, buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Balai Pustaka dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Hingga kini, buku tersebut dikenal sebagai salah satu warisan pemikiran Kartini yang populer.

Baca Juga: 4 Contoh Pidato tentang Hari Kartini yang Inspiratif dan Bermakna

(SA)