Apa yang Dimaksud 4 Paradigma dalam Pengambilan Keputusan? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang dimaksud 4 paradigma dalam pengambilan keputusan? Paradigma dalam pengambilan keputusan atau paradigma dilema etika adalah kerangka berpikir yang membantu menentukan langkah yang tepat saat menghadapi masalah dilema etika.
Konsep ini digunakan untuk memahami dan menganalisis situasi etis yang rumit, yakni ketika seseorang harus memilih antara dua opsi yang saling bertentangan, dan keduanya memiliki alasan moral yang kuat.
Paradigma dilema etika terdiri dari empat paradigma, dikutip diambil dari buku How Good People Make Tough Choices: Resolving the Dilemmas of Ethical Living oleh Rushworth M. Kidder.
Paradigma ini membantu untuk memahami dan menyelesaikan situasi ketika nilai-nilai seperti keadilan, kasih sayang, kejujuran, dan kesetiaan yang saling bertentangan.
Pengertian 4 Paradigma dalam Pengambilan Keputusan
Dalam pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan, sering kali muncul dilema etika ketika nilai-nilai seperti keadilan, kasih sayang, kebenaran, dan kesetiaan saling bertentangan.
Mengutip modul Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Penulis karya Andri Nurcahyani dan Diah Samsiati Rajasa, paradigma dilema etika dapat dikategorikan ke dalam empat paradigma berikut:
1. Individu vs. Kelompok (Individual vs. Community)
Paradigma ini membahas konflik antara kepentingan individu atau kelompok kecil dengan kepentingan kelompok yang lebih besar. Artinya, keputusan harus diambil antara apa yang terbaik untuk satu orang atau kelompok kecil dan apa yang terbaik untuk kelompok yang lebih besar.
Contohnya, seorang guru mungkin harus memilih antara memberikan waktu tambahan kepada siswa yang belum selesai mengerjakan tugas atau melanjutkan pelajaran untuk siswa yang sudah cepat menyelesaikannya. Dalam situasi ini, kepentingan siswa yang lambat bertentangan dengan kepentingan siswa yang sudah cepat.
2. Rasa Keadilan vs. Rasa Kasihan (Justice vs. Mercy)
Paradigma ini berkaitan dengan pilihan antara mengikuti aturan secara ketat atau membuat pengecualian berdasarkan belas kasih. Keputusan harus dibuat antara memperlakukan semua orang dengan adil sesuai aturan atau memberikan kelonggaran karena alasan kemanusiaan.
Misalnya, seorang anak yang pulang terlambat karena membantu teman mungkin menimbulkan dilema bagi orang tuanya antara menegakkan aturan pulang tepat waktu atau memberi pengecualian. Dalam hal ini, mengikuti aturan mencerminkan rasa keadilan, sedangkan memberi kelonggaran mencerminkan rasa kasihan.
Baca Juga: 2 Contoh Kasus Dilema Etika di Sekolah
3. Kebenaran vs. Kesetiaan (Truth vs. Loyalty)
Paradigma ini melibatkan keputusan antara kejujuran dan kesetiaan. Sering kali terjadi pertentangan antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi seseorang karena kesetiaan. Misalnya, seorang karyawan mungkin harus memilih antara melaporkan kesalahan rekan kerja atau tetap setia pada timnya.
Contoh lain, dalam situasi perang, seorang tentara yang tertangkap mungkin harus memilih antara mengungkapkan informasi kepada musuh atau tetap setia kepada teman-temannya. Pada situasi ini, kebenaran dan kesetiaan saling bertentangan.
4. Jangka Pendek vs. Jangka Panjang (Short Term vs. Long Term)
Paradigma ini melibatkan pilihan antara keuntungan jangka pendek dan keuntungan jangka panjang. Keputusan harus dibuat antara apa yang terbaik untuk saat ini dan apa yang terbaik untuk masa depan.
Contohnya, seseorang harus memutuskan antara menghabiskan uang untuk keinginan saat ini atau menabung untuk kebutuhan masa depan.
Contoh lain adalah ketika orang tua harus memutuskan apakah akan menggunakan uang untuk kebutuhan mendesak keluarga atau menabung untuk pendidikan anak-anak di masa depan. Dalam kasus ini, kepentingan jangka pendek dinilai bertentangan dengan kepentingan jangka panjang.
Dengan memahami empat paradigma ini, keputusan dapat dibuat dengan mempertimbangkan semua aspek etis yang terlibat. Setiap paradigma menawarkan pandangan yang berbeda tentang bagaimana nilai-nilai kebajikan dapat diterapkan dalam situasi tertentu.
(SAI)
