Konten dari Pengguna

Apa yang Dimaksud dengan Mutaqin dalam Konteks Memenuhi Janji?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muttaqin dalam konteks memenuhi janji. Foto: Unsplash/alise storsul
zoom-in-whitePerbesar
Muttaqin dalam konteks memenuhi janji. Foto: Unsplash/alise storsul

Apa yang dimaksud dengan Mutaqin dalam konteks memenuhi janji?Jadi, Muttaqin akan selalu mengarahkan dirinya pada apa yang disukai Allah SWT, salah satunya adalah menepati janji.

Berdasarkan tingkat keimanannya, umat Islam dibedakan menjadi lima golongan, yakni muslim, mukmin, mukhlis, muhsin, dan muttaqin. Di antara kelima golongan tersebut, Muttaqin yang tertinggi.

Muttaqin merupakan orang-orang yang senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Untuk mengetahui lebih lanjut pengertian muttaqin dan ciri-cirinya, simak ulasan berikut.

Apa yang Dimaksud dengan Mutaqin dalam Konteks Memenuhi Janji?

Muttaqin merupakan golongan orang yang paling mulia di mata Allah SWT. Merujuk Kamus Bahasa Arab-Indonesia, Muttaqin (مُتَّقِين) artinya bertakwa. Adapun takwa adalah beriman dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.

Mengutip buku Konsep Muttaqīn dalam al-Qur’an dan Implikasinya Terhadap Tujuan Pendidikan Islam oleh Asmarani dkk, orang yang bertakwa akan merasa dirinya selalu dalam pengawasan Allah. Sikap tersebut membuat mereka senantiasa memelihara diri dengan melakukan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Selain itu, muttaqin juga beribadah dengan penuh keikhlasan. Semua ibadah yang dilakukan semata untuk mengharapkan ridha sang khalik.

Lantas, apa yang dimaksud dengan Mutaqin dalam konteks memenuhi janji? Seperti yang telah disebutkan, muttaqin selalu membentengi dirinya dengan keimanan. Semua ucapan, perilaku, dan tindakannya sangat dijaga agar tidak menyalahi syariat, termasuk menepati janji.

Hukum menepati janji bagi umat Islam adalah wajib. Dalam beberapa ayat Al-Quran dijelaskan bahwa menepati janji adalah ciri dari orang beriman. Bagi mereka yang ingkar, akan masuk ke dalam golongan orang munafik yang dibenci Allah.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat An Nahl ayat 91. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu, sesudah meneguhkannya, sedangkan kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu”.

Berlandaskan dalil di atas, muttaqin akan berusaha menepati janji yang telah mereka buat. Lebih dari itu, mereka akan menjaga lisannya agar tidak mengucapkan janji yang tidak bisa ditepati.

Ciri-Ciri Muttaqin

Ciri-ciri Muttaqin. Foto: Unsplash/Rachid Oucharia

Ciri-ciri orang yang bertakwa atau Muttaqin dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Quran, di antaranya dalam Surat Al-Baqarah ayat 3 dan 4. Berikut ciri-ciri muttaqin menurut Al-Baqarah ayat 3-4:

1. Beriman kepada yang gaib

2. Mendirikan shalat (dengan sepenuh hati)

3. Menafkahkan sebagian rezeki kepada fakir miskin

4. Beriman kepada Al-Quran dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya.

5. Beriman kepada hari akhir dan akhirat.

Ciri orang yang bertakwa juga dijelaskan dalam Surat Ali Imran. Dalam ayat 133, Allah memerintahkan umat Islam agar tidak menunda-nunda dalam bertobat dan berbuat kebaikan untuk mendapatkan surga yang disediakan untuk orang yang bertakwa.

Kemudian pada ayat 134 dan 135 dijelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.

(GLW)