Apa yang Dimaksud dengan Pendidikan Inklusif? Ini Pengertian dan Contohnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan inklusif sering digaungkan pemerintah demi mendorong pemerataan akses pendidikan di Indonesia. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan pendidikan inklusif tersebut?
Menurut Dr. Susilahati dalam buku Pendidikan Inklusif (2023), pendidikan inklusif adalah layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama anak normal lainnya. Tujuan pendidikan ini untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak di lingkungan normal.
Umumnya, sekolah inklusif melayani anak berkebutuhan khusus secara optimal. Namun, kurikulum, sarana dan prasarana, sistem pembelajaran, serta asesmennya dimodifikasi atau disesuaikan dengan kondisi riil si anak.
Artinya, bukan siswa yang menyesuaikan sistem pembelajaran di kelas, namun pihak sekolah yang mesti menyesuaikan diri dengan tuntutan kebutuhan peserta didik. Seperti apa penerapannya?
Pendidikan Inklusif dan Contoh Penerapannya
Pendidikan inklusif berusaha mengakomodasi kebutuhan pendidikan untuk semua anak sesuai usianya. Namun, agar penerapannya sempurna, perlu dilakukan variasi dalam pendekatan, isi, struktur, dan kebijakannya.
Menurut UNESCO, pendidikan inklusif adalah tanggung jawab penuh sistem pendidikan. Lewat program ini, layanan pendidikan yang setara dapat dirasakan oleh anak berkebutuhan khusus tingkat ringan, sedang, hingga berat.
Ada elemen-elemen khusus yang mesti diperhatikan dalam penerapan layanan pendidikan inklusif. Dirangkum dari buku Pendidikan Inklusif karya Norbertus Tri Suswanto, dkk., berikut masing-masing penjelasannya:
1. Welcoming School
Sekolah mesti jadi ruang yang menyenangkan, aman, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah. Sekolah hendaknya jadi tempat belajar yang bebas dari diskriminasi.
Untuk mendapatkan predikat Welcoming School, sekolah bisa membuat peraturan yang ramah dan memperhatikan aksesibilitas dengan baik. Caranya dilakukan dengan menjaga siswa dari segala macam bahaya seperti kecelakaan, kekerasan, penculikan, dan peredaran narkoba.
2. Welcoming Teacher
Agar layanan pendidikan inklusif berjalan lancar, guru mesti memiliki kompetensi yang sesuai. Ada empat kemampuan yang wajib dimiliki, yakni berkaitan dengan kepribadian, profesional, pedagogi, dan sosial.
Guru harus menunjukkan sikap ramah, lemah lembut, dan santun kepada anak didiknya. Namun, ia juga mesti memperhatikan kebutuhan siswa dan memenuhinya dengan cara yang benar. Dengan begitu, kehadiran guru sangat dinantikan oleh siswa.
Ada sederet tips yang bisa dilakukan untuk mendapatkan predikat Welcoming Teacher, yaitu:
Kerja sama yang kuat antara guru dengan siswa.
Menerapkan kurikulum yang fleksibel dan sesuai dengan kondisi siswa. Misalnya, kurikulum khusus anak berkebutuhan khusus ringan, sedang, dan berat.
Memberikan akomodasi yang layak untuk setiap siswa.
Menciptakan adaptasi kelas dan layanan individual yang baik.
Kerja sama dengan pihak-pihak lain.
Bekerja tim dengan baik.
Memiliki daftar guru pembimbing khusus.
Menggaet dukungan penuh dari orang tua.
Baca juga: 6 Contoh Pendidikan Eksklusif dan Inklusif
(MSD)
