Apakah Black Friday Ada di Indonesia? Ini Penjelasan dan Sejarahnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Black Friday adalah momen belanja besar yang berlangsung setiap Jumat terakhir di bulan November, tepatnya sehari setelah Thanskgiving. Pada hari ini, berbagai toko dan merek menawarkan promo besar-besaran dengan tujuan untuk membantu konsumen mempersiapkan kebutuhan Natal.
Namun seiring waktu, fenomena Black Friday semakin meluas hingga dirayakan di banyak negara. Beberapa bahkan menetapkannya sebagai hari libur dan perayaannya berlangsung sangat meriah.
Pertanyaannya, apakah Black Friday juga ada di Indonesia? Yuk, cari tahu jawabannya di artikel ini!
Apakah Black Friday Ada di Indonesia?
Banyak orang menantikan Black Friday yang menghadirkan diskon dan promo besar-besaran. Momen ini dimanfaatkan untuk berbelanja berbagai produk, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga fashion.
Lantas, apakah Black Friday ada di Indonesia? Jawabannya tentu ada. Hanya saja, perayaannya tidak semeriah di Amerika Serikat atau negara lain yang sudah lama menjadikannya tradisi ini.
Di Indonesia, promo atau diskon besar biasanya terjadi pada 12 Desember yang bertepatan dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Meski begitu, sejumlah merek tetap meramaikan Black Friday dengan memberikan penawaran menarik.
Mengutip berbagai sumber, beberapa brand yang menghadirkan promo Black Friday 2025 di Indonesia antara lain AEON Mall, Edifier Indonesia, Revlon, H&M, Zalora, Foot Locker, dan Timberland.
Baca Juga: 7 Promo Black Friday 2025, Jangan Sampai Terlewat!
Sejarah Black Friday
Mengutip situs Britannica, istilah Black Friday muncul awal tahun 1960-an. Istilah ini digunakan oleh petugas polisi di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, untuk menggambarkan kekacauan yang terjadi ketika para turis dari pinggiran kota datang dan mulai berbelanja setelah perayaan Thanksgiving.
Kerumunan besar tersebut menimbulkan berbagai masalah bagi kepolisian. Mereka harus bekerja lebih lama dari biasanya untuk mengatur kemacetan lalu lintas, menangani kecelakaan, hingga mengatasi kasus pencurian di toko-toko.
Beberapa tahun kemudian, istilah Black Friday semakin mengakar di Philadelphia. Para pedagang mulai mempercantik toko mereka pada hari tersebut dan menyebutnya sebagai Big Friday.
Memasuki era 1980-an, makna Black Friday berubah menjadi momen ketika toko-toko meraih keuntungan besar. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa banyak toko mencatat penjualan tertinggi mereka pada hari-hari menjelang Natal.
Dalam beberapa tahun terakhir, Black Friday di Amerika diikuti oleh rangkaian hari belanja lainnya, seperti Cyber Monday, Small Business Saturday, dan Giving Tuesday.
Tradisi Black Friday kemudian menyebar ke berbagai negara. Banyak brand yang memanfaatkan momen ini untuk memberikan diskon dan promo besar-besaran. Sementara konsumen memanfaatkannya untuk membeli beragam produk dengan harga lebih terjangkau.
(NSF)
