Apakah Gunung Dukono Boleh Didaki? Ini Informasi Lengkapnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Dukono merupakan gunung berapi yang terletak di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Gunung ini dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Baru-baru ini, erupsi Gunung Dukono kembali terjadi pada Jumat (8/5) pagi dengan semburan abu vulkanik dan awan panas.
Letusan tersebut mengakibatkan 20 pendaki terjebak. Sebanyak 3 di antaranya dilaporkan meninggal dunia per Jumat (8/5) sore. Kondisi ini membuat banyak pendaki bertanya-tanya apakah Gunung Dukono masih boleh didaki.
Untuk mengetahui status terkini dan aturan pendakian Gunung Dukono, simak informasi selengkapnya pada ulasan berikut.
Apakah Gunung Dukono Boleh Didaki?
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Dukono masih berada pada Status Level II atau Waspada.
Merujuk rekomendasi resmi PVMBG, masyarakat, wisatawan, dan pendaki sebenarnya sudah diimbau sejak 11 Desember 2024 untuk tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang yang menjadi pusat aktivitas gunung api.
Selain ancaman langsung berupa lontaran batu pijar dan sebaran abu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar, terutama saat musim hujan. Aliran lahar dapat melewati Sungai Mamuya di sektor utara, serta Sungai Mede dan Sungai Tauni di sektor timur laut yang berhulu di puncak Gunung Dukono.
Dengan demikian, pendakian dan aktivitas lainnya di kawasan zona bahaya dilarang, demi menghindari risiko erupsi yang dapat membahayakan keselamatan.
Adapun riwayat aktivitas erupsi terbaru Gunung Dukono adalah sebagai berikut:
Aktivitas erupsi secara visual dan kegempaan mulai meningkat kembali sejak 29 Maret 2026 dengan rata-rata terjadi 95 kali erupsi.
Peningkatan erupsi magmatik eksplosif terpantau sejak 30 Maret 2026 dengan total 199 kali erupsi dan tinggi kolom erupsi mencapai 50–400 meter dari puncak.
Erupsi terbaru terjadi pada 8 Mei 2026 pukul 07.41 WIT, disertai suara dentuman lemah hingga kuat. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 967,56 detik.
Karakteristik Gunung Dukono
Berdasarkan Buku Ajar Mineralogi dan Material Vulkanik: Perspektif Kimia Anorganik dan Material karya Muliadi dan Yanny, berikut karakteristik Gunung Dukono:
1. Bentuk Fisik
Gunung Dukono berada di bagian utara Pulau Halmahera, tepatnya di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.335 meter di atas permukaan laut dengan bentuk kerucut dan lereng yang cukup curam.
2. Aktivitas Erupsi
Gunung Dukono termasuk gunung api tipe stratovolcano yang dikenal memiliki aktivitas vulkanik hampir terus-menerus. Erupsinya umumnya berupa letusan eksplosif kecil hingga sedang.
3. Komposisi Material Vulkanik
Seperti kebanyakan gunung api di Indonesia, Gunung Dukono menghasilkan abu vulkanik dan material piroklastik dalam jumlah besar saat erupsi. Hal ini menjadikannya salah satu sumber material vulkanik utama di kawasan Halmahera.
Baca Juga: Bagaimana Mengintegrasikan Nilai Kesiapsiagaan Bencana ke Pembelajaran di Kelas?
(SA)
