Konten dari Pengguna

Apakah Sholat Witir 3 Rakaat Memiliki Tahiyat Awal? Ini Penjelasannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sholat witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan dengan rakaat ganjil. Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sholat witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan dengan rakaat ganjil. Foto: Pexels.com

Sholat witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari dengan jumlah rakaat ganjil, seperti satu, tiga, lima, atau lebih. Meskipun sering dikaitkan dengan bulan Ramadan, ibadah ini sebenarnya dapat dilakukan kapan saja di luar bulan tersebut.

Banyak umat Muslim yang bertanya tentang tata cara sholat witir, terutama ketika melaksanakan tiga rakaat. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, "Apakah sholat witir 3 rakaat memiliki tahiyat awal?"

Hal ini wajar mengingat dalam sholat berjamaah, biasanya pada rakaat kedua terdapat duduk tahiyat awal. Untuk memahami lebih lanjut tentang hukum dan tata cara pelaksanaan sholat witir 3 rakaat, simak penjelasannya berikut ini.

Apakah Sholat Witir 3 Rakaat Memiliki Tahiyat Awal?

Penting bagi umat Islam memahami apakah sholat witir 3 rakaat memiliki tahiyat awal. Foto: Pexels.com

Mengutip buku Misteri Kedua Belah Tangan Dalam Shalat, Zikir, dan Doa karya Dr. Kh. Badruddin Hasyim Subky, M. Hi, dalam sholat witir tiga rakaat yang dilakukan sekaligus tanpa salam di rakaat kedua, tidak ada tahiyat awal.

Cara ini sesuai dengan beberapa riwayat dari Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan sholat witir tiga rakaat langsung dengan satu kali tahiyat di akhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

"Rasulullah SAW biasa berwitir tiga rakaat sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud) kecuali pada rakaat terakhir." (HR. Al Baihaqi).

Sebagian ulama, seperti madzhab Hanafi, memang mengajarkan sholat witir tiga rakaat dengan tahiyat awal. Namun, dalam madzhab Syafi'i, Hanbali, dan sebagian Maliki, yang lebih kuat adalah melaksanakannya tiga rakaat langsung tanpa tahiyat awal, hanya satu kali duduk pada rakaat terakhir sebelum salam.

Jadi, jika melaksanakan sholat witir tiga rakaat sekaligus tanpa salam di rakaat kedua, tidak perlu duduk tahiyat awal, cukup satu kali tahiyat di akhir sebelum salam.

Baca Juga: Bacaan Bilal Sholat Tarawih dan Witir 11 Rakaat beserta Jawabannya

Tata Cara Sholat Witir 3 Rakaat

Ilustrasi pelaksanaan sholat witir 3 rakaat. Foto: Pexels.com

Agar tidak salah dalam melaksanakan sholat witir 3 rakaat, ikuti panduan berikut ini:

  • Membaca niat sholat witir dalam hati: Nawaitu an ushalliya sunnatal witri rak'atan waḥidatan lillāhi ta'aalaa.

  • Takbiratul ihram, lalu membaca doa iftitah.

  • Membaca Al-Fatihah diikuti surat pendek:

    • Rakaat 1: Surat Al-A’la

    • Rakaat 2: Surat Al-Kafirun

  • Ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, lalu sujud lagi.

  • Bangkit ke rakaat ketiga tanpa duduk tahiyat awal.

  • Membaca Al-Fatihah, lalu surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

  • Ruku’, i’tidal, sujud dua kali, lalu duduk tahiyat akhir.

  • Mengucapkan salam ke kanan dan kiri.

Dalam buku Doa-Doa Mustajabah oleh Abu Qalbina dijelaskan bahwa setelah melaksankan sholat witir, umat Islam dapat menutup ibadah tersebut dengan membaca doa berikut:

هُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Artinya, "Ya Allah, kami mohon pada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyu, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang banyak. Kami mohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesama manusia.

Ya Allah, tuhan kami terimalah dari kami: sholat, puasa, ibadah, kekhusyu'an, rendah diri dan ibadah kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya allah, Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad SAW, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah Tuhan semesta alam."

(SAI)