Arti Ada Gula Ada Semut beserta Contoh Peribahasa Populer Lainnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada Gula Ada Semut menjadi salah satu peribahasa yang sering digunakan masyarakat Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Meski terdengar klise, tapi ternyata kalimat tersebut kerap mencerminkan orang-orang yang ada di sekitar kita.
Sebagai makanan manis, gula menjadi daya tersendiri tarik bagi semut untuk menyantapnya. Namun tak hanya semut, hal itu juga berlaku di kehidupan manusia. Seperti apa makna lebih lengkapnya? Simak penjelasannya berikut ini.
Makna Peribahasa Ada Gula Ada Semut
Makna dari peribahasa “Ada Gula Ada Semut” adalah di mana banyak kesenangan, di situlah banyak orang datang (keramaian). Dalam kalimat tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada sekumpulan orang yang berdatangan kepada kita ketika ada sesuatu yang menurutnya menguntungkan.
Contohnya, keluarga A sedang membagi-bagikan uang THR pada saat Hari Raya Idul Fitri. Kemudian, tidak butuh waktu lama sampai pada akhirnya rumah keluarga A dipenuhi oleh para tetangganya yang berdatangan.
Keluarga A diibaratkan sebagai gula yang dapat mengundang para semut. Sedangkan orang-orang yang berkumpul di rumah keluarga A diibaratkan sebagai semut yang sedang mengerubungi gula.
Peribahasa Bahasa Indonesia Lainnya yang Populer
Selain peribahasa ada gula ada semut, ada banyak lagi peribahasa populer lainnya di Indonesia. Mengutip buku Ultralengkap Peribahasa Indonesia, Majas, Plus Pantun, Puisi, dan Kata Baku Bahasa Indonesia karya Nur Indah Sholikhati, berikut beberapa di antaranya:
Ada asap pasti ada api: Tak dapat dipisahkan, munculnya suatu kejadian atau akibat pasti ada penyebabnya.
Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang: Berbuat baik hanya ketika seseorang mempunyai banyak harta.
Ada udang di balik batu: Ada suatu maksud yang tersembunyi.
Air beriak tanda tak dalam: Orang yang banyak bicara biasanya kurang ilmunya.
Air besar batu bersibak: Persaudaraan akan bercerai berai apabila terjadi perselisihan.
Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusui: Kepentingan sendiri diabaikan, pekerjaan orang lain diurus.
Anjing menggonggong, kafilah berlalu: Biarpun banyak rintangan dalam usaha kita, kita tidak boleh putus asa.
Bagai air di daun talas: Seseorang yang selalu berubah-ubah atau tidak tetap pendiriannya.
Bagai anjing menyalak di ekor gajah: Orang hina atau miskin melawan orang berkuasa atau kaya.
Bagai api dengan asap: Ikatan yang tidak dapat dipisahkan.
Bagai bumi dan langit: Dua hal berbeda jauh dan bertolak belakang satu sama lain.
Bagai kacang lupa kulitnya: Orang yang tidak tahu diri, lupa akan asalnya.
Bagai katak dalam tempurung: Orang yang wawasannya sedikit, pandangannya pun akan sempit.
Cepat kaki ringan tangan: Orang yang suka tolong-menolong dalam kebaikan.
Datang tidak berjemput pulang tidak berantar: Tidak dipedulikan atau diabaikan.
Di atas langit masih ada langit: Di atas orang hebat/pintar/pandai/kaya, masih ada orang yang lebih tinggi lagi tingkat kehebatannya.
Dikasih hati malah minta jantung: Orang yang tidak tahu terima kasih atau melunjak.
Fajar menyingsing, elang menyongsong: Sambutlah pagi dengan penuh semangat untuk bekerja dengan gigih.
Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak: Kesalahan atau aib sendiri yang besar tidak tampak, kesalahan aib atau orang lain meskipun sedikit terlihat jelas.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama: Orang yang baik akan meninggalkan nama baik dan orang jahat akan meninggalkan nama buruk yang tercemar.
Baca juga: Banyuwangi Buka Kursus Gratis, Mulai Bahasa Asing hingga Digital Marketing
(ANF)
Frequently Asked Question Section
Apa itu peribahasa?

Apa itu peribahasa?
Peribahasa adalah sekelompok kata atau kalimat yang memiliki susunan tetap.
Apa saja fungsi peribahasa?

Apa saja fungsi peribahasa?
Menghias percakapan, membuat karangan, memberikan nasihat, mengajarkan pedoman hidup. Fungsi tersebut disesuaikan dengan maksud penutur dalam suatu pertuturan, pengamatan terhadap dunia dan keadaan, dan sebagai tanda identitas pembicara dalam suatu kaum.
Apa arti peribahasa "Bagai kacang lupa kulitnya"?

Apa arti peribahasa "Bagai kacang lupa kulitnya"?
Orang yang tidak tahu diri, lupa akan asalnya.
