Konten dari Pengguna

Arti Agartha dan 14 Words yang Ditemukan dalam Tragedi Ledakan SMAN 72 Jakarta

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana satu hari setelah ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/11/2025) Foto: Luthfi Humam/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana satu hari setelah ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/11/2025) Foto: Luthfi Humam/kumparan

Tragedi ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, pada Jumat (7/11) siang masih menyisakan sejumlah misteri. Di tempat kejadian, ditemukan senjata api yang menimbulkan kengerian di masyarakat.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Lodewijk Freidrich Paulus telah memastikan bahwa itu adalah senjata mainan. Namun, senapan tersebut masih menjadi perhatian karena dipenuhi tulisan yang erat kaitannya dengan gerakan ekstrem sayap kanan (neo-Nazi).

Di antaranya ada tulisan “For Agartha” dan “14 Words”. Untuk memahami maksudnya, simak ulasan tentang arti Agartha dan 14 Words di bawah ini.

Arti Agartha dan 14 Words

Personel Gegana Brimob Polda Metro Jaya melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di dalam Masjid SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025). Foto: Willy Kurniawan/Reuters

Slogan 14 Words adalah frasa yang diciptakan David Lane, seorang teroris Amerika, rasis, dan anggota kelompok The Order. Ia terbukti melakukan banyak kekejaman selama tahun 1980-an, mulai dari pembunuhan, perampokan, dan pengeboman.

Dikutip dari laman Anti-Defamation League, bunyi slogan 14 Words adalah sebagai berikut: "We must secure the existence of our people and a future for white children”, yang artinya “Kita harus mengamankan eksistensi orang-orang kita dan masa depan untuk anak-anak kulit putih.”

Lane dikaitkan dengan berbagai klan dan neo-Nazi, termasuk Aryan Nations, pada tahun 1970-an dan 1980-an. Namanya menjadi terkenal ketika ia dan anggota The Order lainnya bernama Bruder Schweigen alias Silent Brotherhood melakukan pembunuhan terhadap Alan Berg, seorang pembawa acara radio Yahudi, di Denver pada Juni 1984.

The Order juga melakukan perampokan mobil lapis baja yang meraup jutaan dolar. Dana itu kemudian disalurkan ke berbagai organisasi supremasi kulit putih. Kejahatan yang dilakukan oleh Lane dan rekan-rekannya memang untuk mewujudkan negara atau tempat khusus masyarakat kulit putih di Amerika Serikat.

Serangkaian teror The Order sebenarnya tidak berlangsung lama. Pada tahun 1985, sebagian besar anggotanya, termasuk Lane, ditangkap oleh pemerintah federal.

Lane dijatuhi hukuman 40 tahun penjara atas tuduhan konspirasi dan pemerasan, serta 150 tahun penjara karena melanggar hak-hak sipil Alan Berg. Pada akhirnya, Lane mengembuskan napas terakhirnya di sel penjara pada 28 Mei 2007.

Personel Gegana Brimob Polda Metro Jaya melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di dalam Masjid SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025). Foto: Willy Kurniawan/Reuters

Adapun istilah "Agartha" merujuk pada mitos tentang teori bumi berongga (Hollow Earth Theory). Dikutip dari Discovery UK, Agartha adalah kerajaan tersembunyi di bawah permukaan bumi yang mereka yakini berongga.

Mitos kerajaan Agartha ini berakar pada okultisme, mistisisme Timur, dan pengetahuan sekelompok orang (esoteris). Kisahnya berawal dari Louis Jacolliot, seorang penulis dan hakim kolonial Prancis abad ke-19.

Dalam bukunya yang terbit tahun 1873, Les Fils du Dieu, Jacolliot memperkenalkan konsep Asgartha, sebuah kota kuno yang hilang. Karyanya ini terinspirasi dari mitologi Nordik, khususnya Asgard yang merupakan rumah para dewa.

Meskipun karya Jacolliot populer dalam budaya Prancis, tapi Joseph Alexandre Saint-Yves d'Alveydre yang secara signifikan memperluas dan mendefinisikan ulang mitos kerajaan Agartha dalam bukunya Mission de l'Inde en Europe (1886).

Saint-Yves mengubah Asgartha menjadi Agartha, sebuah utopia di bawah tanah yang berkembang pesat dan diatur oleh prinsip-prinsip spiritual serta ilmiah. Menurutnya, peradaban yang maju ini ada di bawah Pegunungan Himalaya.

Baca Juga: Fakta-fakta Tragedi Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading

(DEL)