Arti Amirul Mukminin dan Sejarahnya pada Masa Khalifah Islam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Amirul Mukminin artinya pemimpin bagi orang-orang beriman. Ini merupakan gelar yang diberikan bagi khalifah atau pemimpin umat Muslim pada masa awal penyebaran agama Islam.
Imam Nawawi dalam buku Al Adzkar menjelaskan, orang yang pertama kali disebut sebagai Amirul Mukminin adalah Umar Bin Khatab. Gelar Amirul Mukminin pada Umar juga tercantum dalam hadits riwayat At-Thabarani.
Hadits tersebut mengisahkan bahwa Abdullah bin Jazzi memanggil Umar bin Khatab dengan sebutan Khalifah Allah. Kemudian Umar mengatakan:
“Aduh cekalah kamu, kamu telah mengatakan sesuatu yang jauh. Sesungguhnya ibuku menamakanku Umar, seandainya kamu memanggilku dengan nama ini, maka aku menerima. Kemudian aku besar lalu dipangil dengan nama Kuniyah Abu Hafsh, seandainya kamu memanggilku dengan nama ini, maka aku menerima. Kemudian kalian mengangkatku untuk mengurusi urusan kalian lalu menyebutku Amirul Mukminin, seandainya kalian memanggilku dengan ini maka itu cukup bagimu.”
Mengutip buku Ensiklopedi Sunnah dan Syiah Jilid 2 karya Ali Ahmad As-Salus, gelar Amirul Mukminin adalah gelar khalifah yang baru muncul setelah Rasulullah wafat. Seiring berjalannya waktu, gelar tersebut diberikan kepada penguasa yang berhasil menguasai tanah Hijaz, Syam, Irak, dan daerah-daerah yang termasuk dalam Jazirah Arab lainnya.
Lalu bagaimana sejarah singkat gelar Amirul Mukminin dalam kekhalifahan Islam?
Sejarah Singkat Gelar Amirul Mukminin
Dikutip dari buku Mukaddimah ibnu Khaldun oleh Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldum, dkk., munculnya gelar Amirul Mukminin diawali ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih menjadi khalifah. Para sahabat dan seluruh umat Islam menyebutnya Khalifah Rasulullah.
Setelah Abu Bakar wafat, Umar Bin Khatab kemudian menggantikannya sebagai khalifah. Para umat Muslim menyebutnya sebagai Khalifah Khalifah Rasulullah yang berarti pengganti dari pengganti Rasulullah. Sebutan gelar yang panjang ini ternyata menimbulkan cela dan kesalahan dalam pengucapannya.
Oleh karenanya, orang-orang mukmin pada saat itu berpikir untuk mengganti gelar Umar Bin Khattab dengan istilah lain yang lebih cocok dan mudah diucapkan. Sebelum dipilih gelar Amirul Mukminin, umat Muslim menyebutnya sebagai amir yang berarti penguasa.
Itu sama dengan sebutan Rasulullah saat beliau masih hidup. Masyarakat jahiliyah menyebut Rasulullah dengan Amir Makkah dan Amir Al Hijaz yang berarti penguasa Mekkah dan penguasa Hijaz.
Sampai suatu ketika, seorang pengantar surat membawa kabar kemenangan dari sebuah penaklukan. Petugas pos itu memasuki wilayah Madinah dan menanyakan keberadaan Umar bin Khatab dengan berkata, “Dimanakah Amirul Mukminin?”
Para sahabat yang mendengarnya ketika itu merasa senang dengan sebutan tersebut dan menganggapnya baik seraya mengatakan, “Kamu benar, Demi Allah, itulah nama yang tepat. Demi Allah, itulah nama yang tepat. Demi Allah, itu benar-benar Amirul Mukminin.”
Sejak saat itulah, umat Muslim memanggil Umar Bin Khattab dengan Amirul Mukminin yang menjadi gelar kehormatan untuknya. Gelar ini kemudian diwariskan oleh para khalifah selanjutnya sebagai karakter khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain kecuali khalifah Bani Ummayyah.
(IPT)
