Arti logo Tut Wuri Handayani, Semboyan Pendidikan Indonesia

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Logo tut wuri handayani dapat ditemukan di berbagai hal yang berhubungan dengan dunia Pendidikan Indonesia. Salah satunya di seragam sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
Logo ini dijadikan sebagai lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai penghargaan atas jasa Ki Hajar Dewantara. Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan.
Hari lahir Ki Hajar Dewantara diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional yakni setiap tanggal 2 Mei. Tanggal ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.
Semboyan Tut Wuri Handayani
Ki Hadjar Dewantara merupakan salah satu tokoh yang membuat tiga semboyan Pendidikan yakni, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Konsep pemikiran ini terbentuk saat Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, di Yogyakarta.
Arti dari semboyan tersebut adalah sebagai berikut:
Tut Wuri Handayani: Dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.
Ing Madya Mangun Karsa: Di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide.
Ing Ngarsa Sung Tulada: Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik.
Dalam buku Dasar-Dasar Pendidikan oleh Haudi S.Pd. MM dkk, tut wuri handayani merupakan gagasan Ki Hadjar Dewantara yang mengandung arti pendidik dengan kewibawaan. Mereka membimbing dan memperhatikan dari belakang serta memberi pengaruh, serta tidak menarik-narik dari depan atau memaksakan keinginan sang anak.
Selanjutnya pendidik membiarkan anak mencari jalan sendiri. Jika anak melakukan kesalahan, baru pendidik membantunya.
Arti Logo Tut Wuri Handayani
Mengutip buku Lambang Departemen Pendidkan dan Kebudayaan (1978), logo tut wuri handayani digunakan sejak tahun 1977 yang berawal dari sayembara pada 14 Februari 1977. Pada sayembara itu, terdapat 10 logo yang digolongkan sebagai logo terbaik.
Dari kesepuluh logo ini, dimodifikasi menjadi logo tut wuri handayani yang bisa dilihat hingga saat ini. Logo ini kemudian ditetapkan pada 6 September 1977 melalui SK menteri Nomor 0398/M/1977.
Selain dalam bentuk gambar, logo tut wuri handayani juga memiliki arti tersendiri. Berikut ini merupakan arti logo tut wuri handayani yang dikutip dari website resmi kemdikbud.go.id:
Bidang Segi Lima (Biru Muda): menggambarkan alam kehidupan Pancasila.
Semboyan Tut Wuri Handayani: digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan sistem pendidikannya. Pencantuman semboyan ini berarti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.
Belencong Menyala Bermotif Garuda Belencong (menyala): merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. Cahaya elencong membuat pertunjukan menjadi hidup.
Burung Garuda (yang menjadi motif belencong): memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas. Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: ‘satu kata dengan perbuatan Pancasilais’.
Buku: merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Warna: Warna putih pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih. Warna kuning emas pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian. Warna biru muda pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup Pancasila).
(IPT)
