Arti Ngising dalam Bahasa Jawa Ngoko yang Biasa Digunakan dalam Percakapan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata “ngising” sering kali terdengar dalam komunikasi sehari-hari masyarakat Jawa. Istilah ini kerap digunakan masyarakat untuk menggantikan kata BAB yang umum digunakan dalam percakapan.
Secara bahasa, arti ngising adalah buang air besar (BAB). Istilah ini memiliki keunikan tersendiri, di mana pelafalannya kerap disertai dengan aksen medok khas bahasa Jawa.
Kata ngising merupakan bahasa Jawa kasar dan kurang sopan (ngoko). Kosa kata ini tidak boleh diucapkan di hadapan orang yang lebih tua. Akan lebih cocok jika kata“ngising” diucapkan kepada teman sebaya.
Karena lebih santai, kata ngising bisa digunakan sebagai ungkapan keakraban. Kata ini tidak termasuk dalam ragam bahasa Jawa krama alus ataupun krama lugu.
Sebab, krama alus dan krama lugu memiliki aturan tersendiri yang didasarkan pada tingkat kesopanannya. Seperti apa? Simak artikel berikut untuk mengetahui penjelasannya.
Bahasa Jawa Krama Alus dan Krama Lugu
Bahasa Jawa memiliki tingkatan dalam percakapan untuk menunjukkan adab dan sopan santunn kepada masyarakat. Ada banyak ragam unggah-ungguh basa dalam bahasa Jawa, salah satunya adalah krama alus dan krama lugu.
Ragam krama digunakan oleh mereka yang merasa dirinya lebih rendah status sosialnya daripada lawan bicara. Dirangkum dari buku Bahasa Jawa XB karya Eko Gunawan (2016), berikut penjelasan selengkapnya yang bisa Anda simak:
1. Krama alus
Krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri dari bentuk leksikon krama. Dalam strukturnya, krama alus bisa ditambah dengan leksikon krama inggil atau krama andhap.
Meskipun begitu, yang menjadi leksikon ini hanyalah leksikon yang berbentuk krama. Leksikon krama alus selalu digunakan untuk penghormatan terhadap mitra wicara.
Secara semantis, leksikon krama alus dapat didefinisikan sebagai suatu benuk ragam krama yang kadar kehalusannya tinggi. Afiks yang sering digunakan adalah afiks dipun-, -ipun, dan -aken. Contoh:
Aksara jawi menika menawi kapangku dados pejah
Para miyarsa, wonten ing giyaran menika kula badhe ngaturaken rembag bab kasusastraan Jawi.
Arta menika kedah dipulintokaken wonten bank ingkang dumunung ing kitha.
2. Krama lugu
Krama lugu terdiri atas leksikon krama, tetapi digunakan untuk menandai suatu ragam yang kosakatanya terdiri atas leksikon krama, madya, netral, dan ngoko. Mengutip buku Kamus Saku Jawa-Indonesia karya Eko Gunawan (2018), krama ini juga dapat ditambah dengan leksikon krama inggil atau krama andhap.
Meski begitu, yang menjadi leksikon inti dalam ragam bahasa ini adalah leksikon krama dan madya. Sedangkan leksikon krama inggil atau krama andhap hanya digunakan untuk menghormati lawan bicara. Contoh:
Panjenengan napa empun nate tindak teng Rembang?
Ngga Kang, niku nyamikane mang dhahar, ampun diendelake mawon.
Yen angsal, mang suwunke gangsal iji mawon kangge kula.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa arti bahasa Jawa ngoko?

Apa arti bahasa Jawa ngoko?
Bahasa Jawa ngoko adalah ragam bahasa yang kurang sopan. Biasanya ditujukan kepada teman sebaya.
Ada berapa jenis krama dalam bahasa Jawa?

Ada berapa jenis krama dalam bahasa Jawa?
Ada dua, yakni krama alus dan krama lugu.
Apa yang dimaksud dengan krama alus?

Apa yang dimaksud dengan krama alus?
Krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri dari bentuk leksikon krama.
