Konten dari Pengguna

Arti Penyang Hinje Simpei dan Makna Filosofisnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arti Penyang Hinje Simpei. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Arti Penyang Hinje Simpei. Foto: Shutter Stock

Setiap tahun, Pemerintah Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah menggelar festival budaya bertajuk “Penyang Hinje Simpei”. Festival tersebut diadakan untuk melestarikan kekayaan dan keberagaman budaya yang ada di kawasan tersebut.

Secara bahasa, penyang hinje simpei artinya hidup rukun dan damai demi kesejahteraan bersama. Semboyan tersebut memiliki makna filosofis yang dalam, yakni bermuara pada semangat persatuan dan kesatuan.

Dijelaskan dalam jurnal Integrasi Nilai Kearifan Lokal Dayak Ngaju Pada Materi Karakteristik Daerah Tempat Tinggal dalam Kerangka NKRI susunan Yetwirani Lampe, semboyan tersebut berasal dari bahasa Dayak Nganju. Masyarakat Dayak menggunakannya sebagai nilai-nilai kehidupan yang mesti dijalani selama ada di dunia.

Semboyan penyang hinje simpei menggambarkan kecerdasan emosional yang tinggi. Ingin tahu maknanya lebih dalam? Simak selengkapnya dalam artikel berikut ini.

Arti Penyang Hinje Simpei

Ilustrasi arti Penyang Hinje Simpei. Foto: Shutter Stock

Dijelaskan dalam buku Profil Hak Asasi Manusia Indonesia (2006), penyang hinje simpei artinya kehidupan dalam suatu daerah yang harus diwujudkan dengan kedamaian dan kesejahteraan. Ini adalah pandangan hidup yang diyakini masyarakat Dayak Nganju secara turun-temurun.

Nilai tersebut ditanamkan kepada anak-anak dan keturunan mereka. Sehingga, mereka dapat menghidupkan wilayah yang aman, tenteram, damai, dan sentosa.

Secara bahasa, semboyan penyang hinje simpei sebenarnya menyatu dengan kalimat “penyang hinje simpei paturung humba tamburat”. Jika diartikan, kalimat tersebut bermakna harus ada kesadaran hidup dalam masyarakat yang plural.

Kalimat tersebut juga berisikan nasihat tentang integrasi sosial, persatuan, dan kesatuan yang wajib dijunjung tinggi. Semua individu harus memiliki kesadaran hidup bahwa manusia diciptakan berbeda satu sama lain.

Menurut Ginanjar dalam buku Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Rahasia Suskses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (2001), yang terpenting adalah kita harus bisa menghargai perbedaan tersebut. Sehingga, seseorang wajib memiliki kecerdasan emosional ketika berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan manusia.

Semboyan Hidup Masyarakat Dayak Nganju

Ilustrasi arti Penyang Hinje Simpei. Foto: Shutter Stock

Selain penyang hinje simpei, ada semboyan lainnya yang diyakini masyarakat Dayak Nganju, yakni sebagai berikut:

1. Huma betang

Huma betang artinya menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan bermasyarakat berdasarkan asas kekeluargaan, kebersamaan, kesetaraan dalam masyarakat terbuka. Tentu, ini diwujudkan melalui asas Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan subkultur dari Pancasila.

2. Handep hapakat

Handep hapakat merujuk pada keinginan untuk bekerja bersama-sama atau bergotong-royong. Masyarakat bersatu tanpa membedakan agama, suku, ras, dan warna kulitnya. Ini merupakan ciri khas budaya Indonesia yang penting untuk dilestarikan.

3. Batang Garing

Batang garing merupakan simbol kehidupan. Ada tiga pilar yang diyakini, yakni memperbaiki hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

(MSD)