Konten dari Pengguna

Arti Perewangan, Kepercayaan Mistis yang Dianut Sebagian Masyarakat Jawa

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perewangan dalam adat Kejawen. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perewangan dalam adat Kejawen. Foto: pixabay

Istilah perewangan cukup populer di kalangan masyarakat Jawa. Banyak yang mengaitkannya dengan hal-hal mistis seperti perjanjian dengan jin, setan, ataupun iblis.

Secara bahasa, perewangan artinya bantuan. Namun dalam konteks adat kejawen, perewangan digambarkan sebagai sosok makhluk ghaib yang menjadi pendamping manusia. Umumnya, perewangan didapatkan dari persekutuan atau ritual tertentu yang dijalani manusia dengan jin.

Kendati demikian, seseorang yang memiliki perewangan juga kerap tidak menyadari kehadirannya. Biasanya, bantuan jin tersebut didapatkan dari nenek moyangnya ataupun orang terdahulu.

Umumnya, perewangan ini digunakan untuk membantu melariskan dagangan, penjaga, sekaligus pelindung bagi seseorang. Sebagian masyarakat Jawa kerap menyamakannya dengan pesugihan.

Arti Perewangan dan Eksistensinya di Adat Kejawen

Ilustrasi jin atau iblis. Foto: pixabay

Sejak dulu, manusia memang memiliki kepercayaan yang dibangun dari hal-hal ghaib, seperti mitos, kebudayaan, ritual, dan keyakinan tertentu. Hingga kini, kepercayaan tersebut masih dianut oleh sebagian besar masyarakat Jawa, khususnya yang mengikuti adat Kejawen.

Perewangan ini jelas salah jika dipandang dalam sudut pandang agama. Sebab, manusia tidak diperkenankan untuk bersekutu selain kepada Allah SWT, termasuk jin dan setan.

Persekutuan adalah perbuatan musyrik yang bisa menjauhkan seseorang dari agama. Bahkan, pelakunya dianggap telah menentang ajaran tauhid yang diajarkan dalam Islam.

Kendati demikian, ada konsep ‘perewangan’ yang dikenal dalam Islam. Disebutkan dalam buku Menguak Dunia Jin dan Khodam karya Egi Sugianto (2011), perewangan ini bisa diperoleh dari bangsa malaikat dan jin.

Perewangan dari bangsa malaikat bisa diperoleh dengan cara ber-taqarrub dengan Allah SWT melalui cara yang sudah disyariatkan dalam Islam seperti membaca al-Qur’an, berdzikir, dan melaksanakan riyadhoh.

Perewangan malaikat ini datang dengan sendirinya karena diutus oleh Allah SWT. Di antara malaikat tersebut bernama malaikat Hafadhoh (penjaga), yang kehadirannya tidak dapat dilihat manusia. Konon, menurut sebuah riwayat jumlah mereka 180 malaikat.

Malaikat Hafadhoh menjaga manusia secara bergiliran di waktu ashar dan subuh. Itulah sistem penjagaan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya.

Perbedaan Perewangan dengan Pesugihan

Ilustrasi seseorang melakukan pesugihan. Foto: pixabay

Meski tampak mirip, nyatanya perewangan berbeda dengan pesugihan. Kalau perewangan memiliki beberapa kegunaan, pesugihan hanya berfokus untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk harta.

Biasanya, pelaku pesugihan ingin dagangannya laris atau kariernya lancar. Untuk itu, ia meminta bantuan jin dan memutuskan untuk bersekutu dengannya.

Dijelaskan dalam buku Ilmu Mistik Kejawen karya Petir Abimanyu, pesugihan sangat beragam nama dan pola kerjanya. Ada pesugihan tuyul, raksasa buto ijo, babi ngepet, siluman ular, siluman monyet, dan lain-lain.

Karena perjanjian ini melibatkan campur tangan jin, maka manusia wajib memberikan imbalannya. Konon, manusia yang bersekutu dengan jin sepakat untuk menjadi budak jin atau setan setelah meninggal dunia sampai hari kiamat datang.

Jadi, mereka tidak masuk ke alam barzakh, melainkan disandera di alam jin terlebih dahulu. Hal ini diyakini oleh sebagian besar masyarakat Jawa, khususnya para pelaku pesugihan.

(MSD)