Arti Qanaah Lengkap dengan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mencintai dunia secara berlebihan merupakan sikap yang harus dihindari setiap Muslim. Ketamakan akan dunia ini akan membawanya pada kesempitan hati dan kekeringan jiwa. Untuk menghindarinya, setiap Muslim wajib memiliki sifat qanaah.
Secara bahasa, qanaah berarti cukup atau rela. Sedangkan secara istilah, qanaah adalah sikap puas dengan apa yang sudah diterimanya.
Abu Abdillah bin Khafif menambahkan, qanaah adalah meninggalkan angan-angan terhadap sesuatu yang tidak ada dan merasa cukup dengan sesuatu yang ada. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat qanaah, sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut yang artinya:
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Muttafaqun Alaih)
Agar memahaminya lebih jelas, simak penjelasan tentang qanaah berikut ini.
Pengertian Qanaah dan Cara Menerapkannya
Dalam bidang kajian Islam, qanaah artinya cukup. Seorang Muslim yang memiliki sifat qanaah akan selalu merasa cukup dengan segala yang dimilikinya di dunia. Ia bersyukur terhadap nikmat Allah, tidak menyepelekannya, dan tidak memandang hina.
Mengutip buku Akhlak Tasawuf oleh Dr. Muhammad Afif Bahaf, qanaah adalah obat yang dapat menyembuhkkan penyakit tamak. Sifat qanaah dapat terbentuk bila seseorang telah mengetahui dan menyadari kehidupan dunia yang hina dan sementara.
Bila kehinaan dan cela-cela kehidupan dunia telah tampak dari dalam hatinya, maka ia akan berpaling kepada yang lebih kekal, yakni akhirat dan Allah SWT. Sifat qanaah membuat hati seseorang merasa cukup dan puas dengan rezeki yang ada di tangannya, dia tidak akan menuntut lebih dari apa yang ada.
Di sisi lain, dalam buku Terang Benderang dengan Makrifatullah karya Dr. Muhammad Al-Dibaji, disebutkan bahwa qanaah akan menghancurkan tiang-tiang ketamakan, memutus tali-tali kerakusan, dan mengantar pelakunya pada kekayaan. Qanaah akan menjaga kehormatannya, melenyapkan kehinaan meminta-minta darinya, dan membuatnya merasa cukup dengan apa yang ia dapat, meski hanya sedikit.
Masih dari buku yang sama, Dr. Muhammad Al-Dibaji menyebutkan beberapa syarat untuk bisa memiliki sifat qanaah, di antaranya:
Menyedikitkan makanan, yakni sekadar memenuhi kebutuhan.
Mengurung diri dalam kata "sedikit".
Mencegahnya dari "mencari banyak".
Senang dengan kefakiran.
Merasa tenang dalam kekurangan.
Merasa tidak senang dengan "keluasan".
Wuquf bersama Allah tanpa penolakan.
Merasa cukup dengan pembagian.
Meninggalkan wuqûf ma'al-asbáb (berhenti pada hukum kausalitas).
Jika sudah mencapai tingkatan ini, maka ia layak menyandang gelar al-qani atau orang yang qanaah. Kemudian, mengutip buku Mempertajam Mata Batin oleh Imam Al-Ghazali, sifat qanaah juga bisa dilatih dengan menjadi dermawan, yaitu suka memberi dan menolong orang.
Akan sempurna tingkatan qanaah seseorang jika ia gemar menolong dengan ikhlas. Dan inilah kebiasaan yang dilakukan orang- orang sufi dalam menapaki jalan menuju ma'rifatullah.
Meskipun secara lahiriah hanya memiliki kekayaan yang sedikit, namun mereka sangat gemar bersedekah. Mereka mencohtoh akhlak Rasulullah yang tidak rakus serta tamak dalam memandang harta dan dunia.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan qanaah?

Apa yang dimaksud dengan qanaah?
Dalam bidang kajian Islam, qanaah artinya cukup. Seorang Muslim yang memiliki sifat qanaah akan selalu merasa cukup dengan segala yang dimilikinya di dunia.
Apa keutamaan memiliki sifat qanaah?

Apa keutamaan memiliki sifat qanaah?
Qanaah akan menghancurkan tiang-tiang ketamakan, memutus tali-tali kerakusan, dan mengantar pelakunya pada kekayaan.
Bagaimana cara melatih sifat qanaah?

Bagaimana cara melatih sifat qanaah?
Latih dengan sifat dermawan yaitu suka memberi dan menolong orang lain. Dan inilah kebiasaan orang- orang sufi dalam menapaki jalan menuju ma'rifatullah.
