Arti Rahajeng Metatah dan Tata Cara Pelaksanaannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bali menyimpan banyak budaya yang erat kaitannya dengan ajaran Hindu, salah satunya adalah metatah. Tradisi metatah adalah upacara potong gigi. Lantas, rahajeng metatah artinya apa?
Mengutip situs dictionary.basabali.org, kata rahajeng berarti selamat, sentosa, atau sejahtera. Jadi, dapat disimpulkan bahwa arti rahajeng metatah adalah ucapan selamat untuk seseorang yang melakukan upacara potong gigi.
Dalam budaya Bali, upacara potong gigi biasanya dilakukan bersamaan dengan upacara Ngaben, pernikahan, dan Ngeresi. Di bawah ini akan dijelaskan mengenai tradisi metatah yang merupakan kewajiban bagi umat Hindu.
Mengenal Tradisi Metatah
Metatah berasal dari kata "tatah" yang berarti "pahat" dalam bahasa Bali. Upacara potong gigi ini sifatnya wajib bagi seluruh umat Hindu, khususnya yang telah beranjak remaja atau sebelum memasuki perkawinan.
Tradisi metatah memuat nilai pendidikan pekerti yang penting untuk remaja. Mengutip situs djkn.kemenkeu.go.id, tradisi ini menjadi sarana dalam pembentukan kepribadian anak dengan harapan lahirnya anak yang suputra (baik).
Tradisi metatah juga mengandung makna menemukan hakikat manusia dan terlepas dari Sad Ripu, yakni enam jenis musuh manusia. Berikut jenis-jenis musuh tersebut:
Kama: keinginan atau mengumbar nafsu
Lobha: sifat serakah
Krodha: marah dan dendam
Mada: mabuk
Moha: bingung dan angkuh
Matsarya: dengki dan iri hati
Sehari sebelum upacara potong gigi dilakukan, biasanya dilaksanakan upacara mekekeb atau mepingit terlebih dahulu. Orang yang hendak menjalani metatah juga dilarang keluar rumah.
Baca Juga: Tradisi Ngayah Asal Bali yang Mengandung Nilai Pancasila
Tata Cara Tradisi Metatah
Dalam pelaksanaan upacara metatah, setiap peserta mengenakan pakaian potong gigi khusus berwarna putih dan kuning. Upacara umumnya dilakukan pada pagi hari. Namun, di beberapa daerah, ada juga yang melaksanakannya pada waktu subuh.
Meski istilah upacara potong gigi terdengar horor, sejatinya gigi tersebut tidak benar-benar dipotong, melainkan dikikis menggunakan teknik tertentu. Pelaksanaannya dilakukan dengan mengikir kedua gigi taring dan empat gigi seri rahang atas.
Setelah itu, peserta metatah diminta untuk mencicipi enam rasa. Setiap rasa tersebut memiliki makna tersendiri, yakni:
Pahit dan asam: simbol agar tabah menghadapi kehidupan yang keras.
Pedas: simbol agar senantiasa sabar apabila mengalami hal yang memicu kemarahan atau emosi negatif lainnya.
Sepat: simbol agar taat pada peraturan atau norma-norma yang berlaku.
Asin: simbol kebijaksanaan.
Manis: simbol kehidupan yang bahagia.
Prosesi metatah harus dilakukan dengan hati-hati karena berisiko menyebabkan kerusakan pada gigi. Gigi hanya boleh dikikis kurang dari 2 milimeter. Pasalnya, ketebalan email gigi adalah 2 milimeter.
Jika mengikis lebih dari itu, maka dentin akan terpapar dengan udara dan bisa menyebabkan gigi terasa ngilu. Jika lebih dalam, maka itu dapat mengakibatkan kematian gigi.
(DEL)
