Arti Tafakur dan Keutamaannya Menurut Ajaran Islam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai umat Muslim ada kalanya membutuhkan waktu untuk tafakur. Rehat sebentar, berhenti dari aktivitas yang sedang dikerjakan untuk membuat perasaan lebih nyaman dan lebih baik lagi. Begitu pula yang diajarkan dalam agama Islam.
Rasulullah SAW, bersabda yang kemudian ditulis oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Al-Munqidh Min Al-Dhalal:
“Merenung (tafakur) sesaat, lebih baik daripada ibadah setahun.” (HR. Abu Hamid)
Anjuran untuk selalu tafakur tentunya sangat sering dijumpai dalam Alquran. Akan tetapi, kebanyakan orang belum memahami makna, bagaimana, serta alasan mengapa tafakur seharusnya dilakukan.
Untuk memahami apa arti tafakur dan keutamaannya dalam Islam, simak penjelasan berikut ini.
Pengertian Tafakur
Menurut buku Spiritual Management yang ditulis oleh Sanerya Hendrawan, tafakur artinya memikirkan, merenungkan, dan mengingat Allah SWT melalui segala ciptaan-Nya yang tersebar di langit, bumi, juga dalam diri manusia itu sendiri.
Tujuan dari tafakur adalah menumbuhkan kesadaran di dalam diri manusia tentang kekuasaan, keagungan, serta kebesaran Allah SWT dalam setiap objek yang diciptakan-Nya. Di dalam proses tafakur terdapat penjelasan mengenai nama-nama Allah SWT atau yang dikenal dengan Asmaul Husna, yang mewakili segala sifat Allah SWT.
Tafakur merupakan salah satu cara yang efektif untuk menjernihkan hati, pikiran, juga perasaan. Selain itu tafakur juga termasuk ke dalam satu ciri yang melekat pada orang-orang yang memiliki akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, tafakur sangat dianjurkan dalam Islam. Salah satunya adalah melalui surat Ali-Imran berikut ini:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah SWT sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbarik dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka." (QS. Ali-Imran [3]: 190-191)
Keutamaan Tafakur
Ditulis KH. Abdullah Bin Nuh dalam bukunya yang berjudul Tafakur Sesaat Lebih Baik dari Ibadah Setahun, ada empat keutamaan bertafakur menurut Imam Syafi’i, antara lain:
1. Kebijaksanaan yang berpokok pada tafakur,
2. Kesopanan yang berpokok pada penahanan nafsu,
3. Kekuatan yang berpokok pada kekuatan yang sehat, dan
4. Keadilan yang berpokok pada keseimbangan jiwa.
Hasil dari bertafakur adalah ilmu pengetahuan, keadaan hati, dan amal. Ilmu merupakan hal yang utama, sebab ilmu dapat mengubah keadaan hati. Bila keadaan hati sudah berubah, maka berubah pula amal yang dilakukan anggota badan. Sehingga, ketiganya saling berhubungan.
Dengan demikian, tafakur jauh lebih utama ketimbang dzikir untuk selalu mengingat kepada Allah SWT. Inilah mengapa dikatakan bahwa tafakur sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.
(IMR)
