Arti Tendensius dan Contoh Kalimatnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tendensius sedang ramai dibicarakan oleh masyarakat. Arti tendensius banyak dicari setelah sempat muncul dalam debat Pilpres.
Biasanya, kata tendensius digunakan dalam diskusi, tulisan, maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan opini. Tendensius artinya merujuk pada sikap seseorang terhadap suatu masalah atau gagasan.
Untuk mengetahui arti tendensius serta contoh penggunaannya yang tepat, simak informasi berikut.
Arti Tendensius
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tendensius memiliki beberapa pengertian. Tendensius artinya keberpihakan atau bersifat berpihak. Selain itu, tendensius juga memiliki arti suka menyusahkan, melawan, atau rewel.
Dengan demikian, arti tendensius adalah kecenderungan untuk berpihak terhadap suatu masalah, pandangan, gagasan yang bersifat kontroversial dan menyusahkan lawan.
Sementara menurut Yus Badudu dalam bukunya Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (2003), arti tendensius adalah mengandung maksud atau tujuan tertentu.
Dalam percakapan sehari-hari, tendensius sering terjadi saat seseorang menyampaikan informasi baik secara langsung atau tulisan tanpa mempertimbangkan berbagai sudut pandang.
Sikap tendensius dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap suatu isu atau peristiwa. Ciri dari sikap tendensius antara lain tidak adanya netralitas, kecenderungan yang memihak suatu golongan tertentu, serta kurangnya objektivitas dalam menyampaikan informasi.
Selain itu, tendensius juga ditandai dengan kurangnya menyajikan data atau fakta sekaligus menekankan satu sudut pandang tanpa mempertimbangkan sudut pandang lainnya.
Baca juga: Menyongsong Kesejahteraan Desa Transmigran: Keberpihakan Capres terhadap BUMDes
Contoh Kalimat Tendensius
Berikut ini beberapa contoh penggunaan kata tendensius dalam kalimat.
Willem van Hogendorp menulis sebuah novel tendensius yang berjudul Sophronisba pada 1779. Setahun kemudian, karya tendensius lainnya kembali terbit dengan judul ‘Kraspoekol’.
Bung Syahrir mempertanyakan, apabila kewajiban kita adalah mendidik, bukankah semua kesusastraan menjadi tendensius?
Kritiknya terhadap para pemikir Muslim liberal bersifat tendensius.
Media massa tidak boleh menggunakan akronim tendensius dalam menyampaikan informasi.
Televisi menyiarkan berita tendensius tentang terorisme Osama bin Laden.
Pandangan dan penilaian tendensius seperti ini perlu mendapat respons kritis dari diri sendiri.
Pihak lawan mencoba menjebak peserta nomor 3 dengan pertanyaan-pertanyaan tendensius.
Menurut saya pemberitaan tersebut tendensius karena cenderung memojokkan satu pihak tanpa memberi kesempatan pihak lain untuk mengemukakan pendapatnya.
Kita dapat memastikan bahwa tuduhan Pak Abraham dan koleganya palsu dan sangat tendensius serta penuh dengan kebencian.
Penilaian dari masalah tersebut sangat lemah karena tidak punya pijakan yang faktual dan objektif, sehingga memungkinkan terjadinya penilaian yang keliru, bias, atau tendensius.
(GLW)
