Konten dari Pengguna

Asal Usul Istilah Lebaran Haji beserta Sejarahnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi salat Idul Adha. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi salat Idul Adha. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Idul Adha adalah salah satu hari raya besar bagi umat Islam yang mengandung makna mendalam. Setiap tahunnya, umat Muslim di seluruh dunia merayakan hari tersebut dengan penuh rasa syukur dan kebersamaan.

Di Indonesia, hari raya Idul Adha sering kali disebut sebagai Lebaran Haji. Penyebutan tersebut tentu bukan tanpa alasan, karena istilah ini memiliki hubungan erat dengan pelaksanaan ibadah haji yang berlangsung di Mekkah.

Sebenarnya, bagaimana asal usul istilah Lebaran Haji? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Asal Usul Istilah Lebaran Haji

Menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Foto: Shutterstock

Idul Adha kerap disebut Lebaran Haji karena perayaannya bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Selain itu, Idul Adha juga dihiasi dengan momen penyembelihan hewan kurban.

Mengutip laman Kemenag, istilah Idul Adha berasal dari dua kata, yakni "idul" dan "adha." Kata "idul" mengandung arti kembali, sedangkan "adha" merupakan turunan dari "udhiyah", yang bermakna kurban. Oleh karena itu, Idul Adha dapat diartikan sebagai hari kembali berkurban atau perayaan penyembelihan hewan kurban.

Bagi umat Islam yang sedang menjalankan ibadah haji, penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu bagian dari rangkaian ibadah yang dilakukan di Tanah Suci. Sedangkan bagi yang tidak berhaji, Idul Adha dirayakan dengan menggelar salat Id berjamaah, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban.

Tepat satu hari sebelum Idul Adha atau tanggal 9 Dzulhijjah, jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Mengutip buku Fikih Ibadah Madzhab Syafi’i oleh Syaikh DR. Alauddin Za’tari, wukuf merupakan puncak sekaligus rukun wajib dalam rangkaian ibadah haji.

Sejarah Kurban saat Idul Adha atau Lebaran Haji

Ilustrasi umrah. Foto: Shutterstock

Bersumber dari buku Kisah Nabi Ibrahim a.s oleh Ajen Dianawati, sejarah berkurban saat Idul Adha bagi umat Islam berakar dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kisah ini menjadi simbol ketaatan dan keikhlasan keduanya dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Suatu ketika, Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan untuk menyembelih putranya, Ismail. Ia sempat ragu, namun tetap memohon petunjuk dari Allah untuk memahami makna mimpi tersebut.

Setelah mimpi serupa datang tiga kali, Nabi Ibrahim meyakini itu adalah perintah dari Allah. Sebagai hamba yang taat, ia pun bersiap untuk melaksanakannya.

Nabi Ibrahim menyampaikan hal tersebut kepada Ismail, yang justru meresponsnya dengan kesabaran dan keikhlasan. Ismail mempersilakan ayahnya untuk menjalankan perintah Allah tanpa ragu.

Melihat keteguhan iman keduanya, Allah SWT menggantikan Ismail yang sudah berbaring dengan seekor kambing untuk disembelih. Dari sinilah awal mula perintah berkurban bagi umat Islam.

Frequently Asked Question Section

Kenapa Idul Adha disebut Lebaran Haji?

chevron-down

Karena perayaannya bertepatan dengan puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Apa istilah lain untuk Idul Adha?

chevron-down

Selain Lebaran Haji, Idul Adha juga dikenal dengan sebutan Hari Raya Kurban dan Idul Nahr (hari penyembelihan).

Apa pengertian Idul Adha?

chevron-down

Idul Adha dapat diartikan sebagai hari kembali berkurban atau perayaan penyembelihan hewan kurban.

Baca Juga: 2 Contoh Teks Ceramah Idul Adha, Lengkap dengan Pembuka dan Penutupnya

(ANB)