Konten dari Pengguna

Aturan dan Contoh Penulisan Qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 lafal qola rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Foto: Freepik.
zoom-in-whitePerbesar
lafal qola rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Foto: Freepik.

Dalam suatu hadits, sering dijumpai kalimat qola Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebelum isi hadits. Kalimat tersebut merupakan keterangan bahwa isi hadits berasal langsung dari Rasulullah.

Dalam Islam, hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, dan segala sifat Nabi Muhammad, baik sebelum kenabian atau sesudahnya.

Dalam Kitab Khasiyyah Ibrahim Al Baijuri oleh Syaikh Ibrahim Al Baijuri, lafal qola memiliki makna kebenaran ucapan. Selain itu, dalam Kamus Al Munjid disebutkan bahwa qola memiliki makna yang sama dengan talaffadza dana taklama yang memiliki arti melafalkan atau membicarakan.

Jadi, lafal qola rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam suatu hadits bisa dimaknai bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan atau Rasulullah SAW bersabda. Berikut adalah aturan penulisan qola rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam ilmu hadits.

Aturan Penulisan Qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Aturan lafal qola rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Foto: Freepik.

Dikutip dari buku Tanya Jawab Islam oleh Piss KTB, lafal atau kalimat qola rasulullah shallallahu alaihi wasallam digunakan untuk hadits-hadits sahih atau hasan. Sebab, lafal tersebut memiliki makna bahwa hadits itu sudah pasti dan benar berasal dari ucapan Rasulullah.

Ulama ahli Tahqiq menyebutkan, apabila hadits itu dhaif atau diragukan kebenarannya, maka tidak diperbolehkan menggunakan lafaz qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam atau lainnya.

Contohnya seperti Rasulullah bersabda, memerintah, melarang, menetapkan, atau kalimat lain yang mengandung makna pasti. Jika lafal tersebut dipaksa penggunaannya dalam hadits-hadits dhoif atau hadits maufu, maka sama saja manusia berbuat dusta atas hadits tersebut.

Adapun hadits dhoif tanpa sanad menggunakan kalimat atau redaksi berikut:

  • Diriwayatkan dari

  • Telah sampai kepada ku

  • Dinukil dari

  • Dikatakan darinya,

  • Disampaikan darinya,

  • Dinisbahkan darinya, dan lain-lain.

Redaksi di atas merupakan kalimat sighot tamrid atau kalimat yang digunakan untuk hadits-hadits cacat. Penjelasan di atas merupakan adab yang digunakan saat menuliskan hadits, baik pada hadits sahih, hadits dhaif, maupun hadits maufu.

Agar lebih paham penggunaan qola rasulullah shallallahu alaihi wasallam, simak contoh hadits berikut.

Contoh Penggunaan Lafal Qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Ilustrasi contoh penggunaan lafal qola rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Foto: Freepik.

Berikut contoh hadits sahih yang dikutip dari buku Hadis Shahih Bukhari-Muslim Jilid 3 karya Muhammad Fu’ad Abdul Baqi:

  • Ali mengatakan qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena sesungguhnya siapa yang berdusta atas namaku pasti masuk neraka.” (HR. Bukhari)

  • Abu Hurairah menuturkan qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka berarti dia telah menyiapkan tempatnya di dalam neraka.” (HR. Bukhari)

  • Anas ra meriwayatkan qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Berikanlah kemudahan dan jangan mempersulit, dan berilah kabar gembira dan jangan buat mereka gusar.” (HR. Bukhari)

  • Ibnu Umar melaporkan qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Bagi penipu akan dipancangkan panji pada hari kiamat yang berbunyi, inilah si penipu, Fulan bin Fulan.” (HR. Bukhari)

  • Jabir bin Abdulullah menyatakan qola Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Perang itu penuh tipu daya.” (HR. Bukhari)

(IPT)