Konten dari Pengguna

Bacaan Surat An Naziat: Arab, Latin, dan Terjemahan Lengkap

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 6 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Al Quran Foto: pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Al Quran Foto: pexels

An Naziat adalah surat yang tergolong ke dalam surat Makiyyah dan terdiri dari 46 ayat. Surat ke-79 ini diturunkan setelah surat An Naba.

Pada surat An Naba, Allah menegaskan ancaman bagi orang-orang musyrik yang mengingkari adanya hari kebangkitan. Sementara itu, pada surat An Naziat, Allah bersumpah bahwa hari kiamat yang mendahului hari kebangkitan itu pasti terjadi.

Surat ini dinamakan An Naziat karena pada ayat pertama terdapat kata "An Naziat" yang artinya malaikat pencabut nyawa. Inilah tema utama dari surat ini.

Mengutip buku Tadabur Juz Amma oleh Dr. Saiful Bahri (2019), tema pencabut nyawa tersebut kemudian dijabarkan kembali menjadi pembahasan tentang kiamat kecil, kiamat besar, kisah kaum terdahulu, serta hari kebangkitan dan konsekuensinya.

Lantas, seperti apa bacaan surat An Naziat dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya?

Bacaan Surat An Naziat Arab, Latin, dan Terjemahannya

Ilustrasi mendekap Al Quran. Foto: Shutterstock

وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ

wan-nāzi'āti garqā

Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras.

وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ

wan-nāsyiṭāti nasyṭā

Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut.

وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ

was-sābiḥāti sab-ḥā

Demi (malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,

فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ

fas-sābiqāti sabqā

dan (malaikat) yang mendahului dengan kencang,

فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ

fal-mudabbirāti amrā

dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُۙ

yauma tarjufur-rājifah

(Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam,

تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ۗ

tatba'uhar-rādifah

(tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua.

قُلُوْبٌ يَّوْمَىِٕذٍ وَّاجِفَةٌۙ

qulụbuy yauma`iżiw wājifah

Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut,

اَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ ۘ

abṣāruhā khāsyi'ah

pandangannya tunduk.

يَقُوْلُوْنَ ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَافِرَةِۗ

yaqụlụna a innā lamardụdụna fil-ḥāfirah

(Orang-orang kafir) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?”

ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً ۗ

a iżā kunnā 'iẓāman nakhirah

“Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?”

قَالُوْا تِلْكَ اِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ ۘ

qālụ tilka iżang karratun khāsirah

Mereka berkata, “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.”

فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌۙ

fa innamā hiya zajratuw wāḥidah

Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja.

فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِۗ

fa iżā hum bis-sāhirah

Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru).

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ

hal atāka ḥadīṡu mụsā

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa?

اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ

iż nādāhu rabbuhụ bil-wādil-muqaddasi ṭuwā

Ketika Tuhan memanggilnya (Musa) di lembah suci yaitu Lembah Tuwa;

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ

iż-hab ilā fir'auna innahụ ṭagā

Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas,

فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ

fa qul hal laka ilā an tazakkā

Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan),

وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ

wa ahdiyaka ilā rabbika fa takhsyā

dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?”

فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ

fa arāhul-āyatal-kubrā

Lalu (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.

فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ

fa każżaba wa 'aṣā

Tetapi dia (Fir‘aun) mendustakan dan mendurhakai.

ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ

ṡumma adbara yas'ā

Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).

فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ

fa ḥasyara fa nādā

Kemudian dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru (memanggil kaumnya).

فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ

fa qāla ana rabbukumul-a'lā

(Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ

fa akhażahullāhu nakālal-ākhirati wal-ụlā

Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia.

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ

inna fī żālika la'ibratal limay yakhsyā

Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).

ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ ۚ بَنٰىهَاۗ

a antum asyaddu khalqan amis-samā`, banāhā

Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ

rafa'a samkahā fa sawwāhā

Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,

وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ

wa agṭasya lailahā wa akhraja ḍuḥāhā

dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang).

وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ

wal-arḍa ba'da żālika daḥāhā

Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.

اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ

akhraja min-hā mā`ahā wa mar'āhā

Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.

وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ

wal-jibāla arsāhā

Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh.

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ

matā'al lakum wa li`an'āmikum

(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.

فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰىۖ

fa iżā jā`atiṭ-ṭāmmatul-kubrā

Maka apabila malapetaka besar (hari Kiamat) telah datang,

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰىۙ

yauma yatażakkarul-insānu mā sa'ā

yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى

wa burrizatil-jaḥīmu limay yarā

dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.

فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ

fa ammā man ṭagā

Maka adapun orang yang melampaui batas,

وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ

wa āṡaral-ḥayātad-dun-yā

dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,

فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

fa innal-jaḥīma hiyal-ma`wā

maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ

wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa 'anil-hawā

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,

فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

fa innal-jannata hiyal-ma`wā

maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ

yas`alụnaka 'anis-sā'ati ayyāna mursāhā

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?”

فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَاۗ

fīma anta min żikrāhā

Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)?

اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَاۗ

ilā rabbika muntahāhā

Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya).

اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَاۗ

innamā anta munżiru may yakhsyāhā

Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat).

كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا

ka`annahum yauma yaraunahā lam yalbaṡū illā 'asyiyyatan au ḍuḥāhā

Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.

Asbabun Nuzul Surat An Naziat

Ilustrasi membaca Al Quran. Foto: Shutterstock

Ababun nuzul atau sebab diturunkannya surat An Naziat berkaitan dengan pertanyaan orang-orang kafir Mekah tentang hari kebangkitan. Dalam keyakinan mereka, tidak dikenal adanya hari kebangkitan.

Itulah sebabnya mereka menanyakan hal ini berulang-ulang kepada Rasulullah SAW. Mengutip buku Asbabun Nuzul: Sebab-sebab Turunnya Ayat Alquran oleh Imam As-Suyuthi, Sa'id bin Manshur meriwayatkan dari Muhammad bin Ka'ab, ia mengatakan,

Tatkala turun ayat, "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula?" (An-Nazi'at: 10) Orang-orang kafir Quraisy berkata, "Seandainya kami hidup setelah mati, niscaya kami akan benar-benar merugi." Maka turunlah ayat, "Mereka berkata, "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan".

Ilustrasi Kiamat Foto: Pixabay

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Juwaibir dari Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas, orang-orang musyrik tersebut bertanya kepada Nabi, "Kapan hari kiamat?" dengan maksud menertawakan.

Maka Allah menurunkan ayat, “(Orang-orang kafr) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmu lah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)." (An-Nazi'at: 42-44).

Singkatnya, pertanyaan orang-orang kafir Mekah tentang hari kebangkitan telah terjawab. Telah dijelaskan bahwa pengetahuan tentang waktu terjadinya hanya ada di sisi Allah saja. Rasulullah SAW hanya bertugas memberikan peringatan bahwa kejadian itu pasti akan datang.

Keutamaan Surat An Naziat

Ilustrasi membaca Al Quran. Foto: Shutterstock

Mengutip buku Mukjizat Surah-surah Alquran oleh Haidar Ahmad al A’raji (2006), umat Islam disunahkan untuk membaca Surat An Naziat di hari apa saja, khususnya saat berhadapan dengan musuh dan penguasa yang kejam agar terhindar dari kejahatan mereka.

Orang yang membaca surah ini niscaya tidak akan wafat kecuali dalam keadaan tidak haus, tidak akan dibangkitkan kecuali dalam keadaan tidak haus, dan tidak akan masuk surga kecuali dalam keadaan tidak haus.

Mengutip Dr. Saiful Bahri (2019: 30), orang yang mentadabburi surat ini akan memahami tanda-tanda kiamat dan mengambil hikmah dari kisah kaum terdahulu, yang pada akhirnya menciptakan rasa takut terhadap Allah SWT.

Rasa takut adalah cambuk Allah untuk meluruskan orang-orang yang menjauh dari-Nya. Dengan begitu, ia akan selalu menjaga diri dari perbuatan dosa.

Ilustrasi pria muslim sedang berdoa. Foto: Shutter Stock

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)." (QS An Naziat [79]: 40-41).

Muhammad bin Abdul Wahid Al-Ghafiqi dalam kitab Lamahatul Anwar wa Nafahatul Azhar menyebut bahwa salah satu keistimewaan surah An Naziat adalah orang yang sering membacanya kelak hisabnya di alam kubur dan di hari kiamat akan mudah dan cepat.

“Dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata; Nabi Saw berkata kepadaku, Barangsiapa membaca surah ‘wan nazi’at’, maka hisabnya di dalam kubur dan di hari kiamat hingga masuk ke dalam surga hanya seukuran melaksanakan shalat wajib.”

Frequently Asked Question Section

Apa arti surat An Naziat dan berapa jumlah ayatnya?

chevron-down

An Naziat artinya malaikat pencabut nyawa, terdiri dari 46 ayat.

An Naziat menceritakan tentang apa?

chevron-down

Penegasan Allah SWT tentang adanya hari Kiamat.

Apa sebab turunnya surat An Naziat?

chevron-down

Ababun nuzul surat An Naziat berkaitan dengan pertanyaan orang-orang kafir Mekah tentang adanya hari kebangkitan. Dalam keyakinan mereka tidak dikenal adanya hari kebangkitan.

(ERA)