Konten dari Pengguna

Bagaimana Adaptasi Manusia terhadap Perbedaan Bentang Alam? Ini Penjelasannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bagaimana adaptasi manusia terhadap perbedaan bentang alam. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bagaimana adaptasi manusia terhadap perbedaan bentang alam. Foto: Unsplash.

Bagaimana adaptasi manusia terhadap perbedaan bentang alam menjadi salah satu topik yang dipelajari sejak dini di bangku sekolah dasar. Kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sekitar merupakan kunci bertahan hidup bagi setiap makhluk hidup, termasuk manusia.

Selain terjadi secara biologis pada tubuh, adaptasi juga tercermin dalam cara manusia membangun rumah, memilih pakaian, hingga menentukan jenis pekerjaan. Perbedaan bentang alam di Indonesia, mulai dari dataran tinggi, dataran rendah, hingga wilayah pesisir, turut melahirkan beragam kebiasaan dan budaya yang khas di setiap daerah.

Mengenal Bentang Alam dan Dua Jenis Dataran di Indonesia

Ilustrasi bagaimana adaptasi manusia terhadap perbedaan bentang alam. Foto: Unsplash.

Mengutip buku Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD/MI Kelas III (2022) terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, bentang alam adalah hamparan alam dengan aneka ragam bentuk permukaan bumi.

Bentang alam terdiri dari wilayah daratan dan perairan, dengan dua jenis dataran utama yang paling berpengaruh terhadap kehidupan manusia, yaitu dataran tinggi dan dataran rendah.

Dataran Tinggi

Dataran tinggi memiliki ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut dengan karakteristik sebagai berikut:

  • Udara cenderung sejuk dan dingin.

  • Tanah subur sehingga cocok untuk perkebunan.

  • Banyak dimanfaatkan untuk pertanian teh, cengkeh, sayuran, dan buah-buahan.

  • Sering menjadi tujuan wisata karena pemandangan alam yang indah.

Contoh dataran tinggi di Indonesia di antaranya Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, Dataran Tinggi Gayo di Aceh, Dataran Tinggi Karo di Sumatera Utara, dan Dataran Tinggi Toraja di Sulawesi Selatan.

Dataran Rendah

Dataran rendah memiliki ketinggian 0-200 meter di atas permukaan laut dengan karakteristik sebagai berikut:

  • Suhu udara cenderung panas dan lembap.

  • Banyak ditemukan di daerah pesisir dan hilir sungai besar.

  • Cocok untuk pertanian padi dan tanaman palawija.

  • Dapat dimanfaatkan untuk peternakan, perumahan, dan kawasan industri.

Dataran rendah di Indonesia tersebar di pantai timur Sumatra, pantai utara Jawa, pantai selatan Kalimantan, serta Papua bagian barat dan selatan.

Bagaimana Adaptasi Manusia Terhadap Perbedaan Bentang Alam?

Ilustrasi bagaimana adaptasi manusia terhadap perbedaan bentang alam. Foto: Unsplash.

Masih bersumber dari buku yang sama, adaptasi merupakan cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya. Dengan akal dan pikirannya, manusia mampu mengolah lingkungan sekitar serta menyesuaikan kebiasaan hidup agar selaras dengan kondisi alam yang dihadapi.

Adaptasi di Dataran Tinggi

Masyarakat yang tinggal di dataran tinggi menyesuaikan diri dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Menggunakan pakaian tebal atau berlapis untuk menghangatkan tubuh dari suhu dingin.

  • Membangun rumah dengan atap tinggi berbentuk kerucut untuk mengalirkan air hujan dan menjaga kehangatan di dalam ruangan, seperti yang terlihat pada rumah adat Mbaru Niang di Flores.

  • Memilih mata pencaharian di bidang perkebunan dan pertanian sayuran yang cocok dengan suhu sejuk.

  • Membangun rumah tanpa jendela atau berjendela kecil untuk mencegah udara dingin masuk, seperti rumah adat Honai milik Suku Dani di Papua yang dilengkapi perapian di dalamnya.

Adaptasi di Dataran Rendah

Masyarakat yang tinggal di dataran rendah, termasuk kawasan pesisir, memiliki cara adaptasi yang berbeda, yaitu:

  • Menggunakan pakaian tipis dan ringan karena suhu udara yang panas.

  • Membangun rumah dengan ventilasi lebar dan area terbuka agar udara dapat masuk dengan leluasa.

  • Memilih mata pencaharian sebagai petani padi, peternak, atau buruh industri yang sesuai dengan kondisi lahan datar.

  • Bagi masyarakat pesisir seperti Suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, rumah dibangun dalam bentuk panggung terapung di atas air untuk memudahkan akses ke laut sebagai tempat bekerja.

Adaptasi terhadap Kondisi Alam Berbahaya

Adaptasi manusia juga mencakup respon terhadap ancaman alam di sekitar tempat tinggal seperti:

  • Penduduk di daerah rawan gempa membangun rumah dengan struktur tahan gempa agar tidak mudah retak dan roboh.

  • Penduduk di kawasan rawan banjir membangun rumah lebih tinggi dari permukaan tanah atau dibuat bertingkat.

(FHK)

Baca juga: Bagaimana Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menumbuhkan Identitas Nasional?