Konten dari Pengguna

Bagaimana Ajaran Islam Memandang Kerukunan dalam Keberagaman? Ini Penjelasannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keberagaman. Foto: iStock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keberagaman. Foto: iStock

Keberagaman merupakan istilah untuk menggambarkan perbedaan tindakan, latar belakang, pengalaman, dan cara pandang yang membentuk identitas sosial suatu kelompok.

Beragam faktor membuat keberagaman tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Hingga akhirnya, berkembang menjadi kebiasaan, adat, dan budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya, bagaimana ajaran Islam memandang kerukunan dalam keberagaman tersebut? Yuk, simak penjelasannya dalam artikel ini!

Mengenal Keberagaman Masyarakat Indonesia

Ilustrasi cara Islam memandang kerukunan dalam keberagaman. Foto: iStock

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara multikultural, di mana masyarakatnya hidup dengan keragaman sosial, etnis, agama, bahasa, dan tradisi. Keberagaman ini tidak terpisahkan dari struktur masyarakat Indonesia.

Dalam penelitian Yulia Rahayu (2023) berjudul Konsep Keberagaman dalam Islam Menurut M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa keragaman adalah kehendak Tuhan. Keberagaman bukanlah sesuatu yang diminta oleh manusia, melainkan anugerah yang diberikan oleh Tuhan untuk diterima dan disyukuri.

Indonesia menjadi salah satu contoh nyata dari luasnya keberagaman tersebut. Selain enam agama besar yang diakui negara, terdapat ribuan suku, bahasa daerah, dan kepercayaan lokal yang hidup berdampingan. Lantas, bagaimana ajaran Islam memandang kerukunan dalam keberagaman tersebut?

Ajaran Islam memandang keragaman sebagai bagian dari fitrah manusia. Oleh karena itu, sikap toleransi menjadi prinsip mendasar agar umat Islam mampu menghargai keyakinan orang lain, tidak merendahkan agama lain, serta menjaga harmoni dalam kehidupan masyarakat.

Baca juga: Cara Daftar Jadi Petugas Haji 2026 dan Persyaratan Umumnya

Bagaimana Ajaran Islam Memandang Kerukunan dalam Keberagaman?

Ilustrasi cara Islam memandang kerukunan dalam keberagaman. Foto: iStock

Dalam perspektif Islam, keberagaman adalah kodrat yang telah ditetapkan sejak manusia pertama diciptakan. Setiap makhluk diberi sifat, karakter, dan latar belakang yang berbeda. Hal ini tentu membuat kehidupan menjadi dinamis.

Al-Quran menegaskan hal tersebut dalam QS. Al-Hujurat:13, yang menyebut bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, lalu dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

Yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ'ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr.

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti."

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan merupakan kehendak Allah yang mutlak adanya. Suku, etnis, bahasa, dan budaya adalah bagian dari keragaman yang seharusnya dipandang sebagai anugerah, bukan alasan untuk berselisih.

Dari ayat ini pula, terlihat bahwa tujuan keberagaman adalah membangun pemahaman, menghormati perbedaan, dan menciptakan hubungan sosial yang rukun dan saling toleransi.

Islam mendorong umatnya untuk menjadikan keragaman sebagai ruang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Ketika setiap individu mampu menghargai perbedaan dan bekerja sama, kehidupan masyarakat akan lebih damai, adil, dan sejahtera.

(SLT)