Konten dari Pengguna

Bagaimana Kondisi Rakyat yang Mengalami Penjajahan di Era Kolonialisme?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penjajahan di Era Kolonialisme. Foto: Pinterest
zoom-in-whitePerbesar
Penjajahan di Era Kolonialisme. Foto: Pinterest

Masa penjajahan Belanda merupakan bagian dari sejarah yang tidak dapat dilupakan oleh bangsa Indonesia. Kolonialisme dan imperialisme yang diterapkan pemerintah Belanda selama kurang lebih 350 tahun mengakibatkan terjadinya perubahan masyarakat di berbagai bidang.

Tujuan utama Belanda datang ke Indonesia adalah untuk memperkaya diri mereka sendiri. Namun, kebijakan yang diberlakukan oleh Belanda sangat menyengsarakan dan merugikan masyarakat Indonesia kala itu.

Gubernur Belanda seperti Willem Daendels dan Van Den Bosch memiliki kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Dua kebijakan yang paling dikenal adalah kerja rodi dan tanam paksa.

Di bawah ini akan dijelaskan soal bagaimana kondisi rakyat yang mengalami penjajahan di era kolonialisme.

Penjajahan di Era Kolonialisme. Foto: Pinterest

Penderitaan, Kelaparan, dan Kemiskinan

Salah satu tujuan kedatangan Belanda ke Indonesia adalah keinginan meraup kekayaan yang berasal dari rempah-rempah. Pada saat itu, harga rempah-rempah sangat mahal. Belanda pun memonopoli perdagangan rempah-rempah di pasaran.

Pendapatan rempah-rempah masyarakat Indonesia terus menurun karena harga yang ditentukan VOC. Imbasnya, produksi pangan non rempah juga ikut menurun.

Jika tidak tunduk pada ketentuan VOC, masyarakat Indonesia akan disiksa, tidak diberi makanan hingga kelaparan dan menjadi kurus kering. Akibatnya, angka kemiskinan meningkat dan membuat rakyat semakin menderita.

Ilustrasi Willem Daendels. Foto: Pinterest

Tersiksa Secara Batin dan Fisik

Rakyat Indonesia menjadi takut dan tertekan dengan kebijakan yang diberlakukan Belanda. Kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Daendels adalah mengumpulkan uang dari rakyat, caranya dipaksa menjual hasil bumi dengan harga murah.

Tidak hanya itu, Deandels juga membuat kebijakan kerja rodi, termasuk pembangunan jalan dari Anyer hingga Panarukan. Para pekerja juga tidak mendapatkan upah, bahkan menerima tindakan di luar batas perikemanusian.

Banyak Korban Jiwa

Proses pembangunan jalan raya Anyer hingga Panarukan pada tahun 1809 memakan korban hingga 12.000 jiwa. Puluhan ribu pekerja kehilangan nyawa dalam periode kerja paksa setelah pembangunan memasuki tahap kedua. Tahap pertama dilakukan pekerjaan kontruksi biasa, lalu dilanjutkan pasukan kumpeni.

Kerja rodi tahap kedua dilakukan setelah pasukan kumpeni kehabisan biaya untuk membayar tentara dan pekerja profesional. Alhasil, rakyat pun dipekerjakan semena-mena. Mengutip dari buku Ekspedisi Anjer-Panaroekan (2008), pembangunan jalan yang menghubungkan ujung barat dan timur Jawa ini hanya untuk memenuhi kepentingan pertahanan militer semata.

(VIO)