Bagaimana Tari Sining Dilakukan dalam Prosesi Pembangunan Rumah?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari tradisional yang berkembang di Aceh secara umum terbagi menjadi dua kategori, yaitu tari tradisi dan tari kreasi baru. Salah satu tari tradisi yang masih lestari di tengah masyarakat Gayo adalah Tari Sining.
Dikutip dari buku Kreasi Identitas Budaya dalam Dunia Pendidikan karya Ida Nusraini, Tari Sining Gayo identik dengan nilai-nilai keagamaan yang kuat. Tarian ini umumnya dipentaskan dalam prosesi mendirikan rumah baru, khususnya rumah adat atau umah berru.
Dalam pelaksanannya, setiap tahapan tarian yang dilakukan tentu mengikuti tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Gayo. Lantas, bagaimana Tari Sining dilakukan dalam prosesi pembangunan rumah? Mari simak informasi lengkapnya berikut ini.
Tata Cara Tari Sining dalam Prosesi Pembangunan Rumah
Berdasarkan informasi dari laman resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tengah, Tari Sining merupakan bagian dari rangkaian prosesi pembangunan rumah adat Gayo. Berikut tahapan pelaksanaannya, mulai dari persiapan pembangunan hingga puncak ritual Tari Sining:
1. Menyiapkan Kayu untuk Membangun Rumah
Prosesi pembangunan rumah adat diawali dengan memilih pohon terbaik di hutan untuk dijadikan bahan bangunan. Sebelum pohon ditebang, sesepuh adat terlebih dahulu memohon izin kepada alam sebagai bentuk penghormatan terhadap lingkungan.
Setelah pohon ditebang, masyarakat bergotong royong untuk:
Membersihkan batang kayu dari cabang, ranting, dan akar yang melilit.
Mengikat batang kayu dengan tali dari akar hutan.
Menarik kayu bersama-sama menuju lokasi pembangunan rumah.
Selama proses penarikan kayu, masyarakat biasanya menyanyikan syair-syair tradisional dan memainkan bunyi canang untuk membangkitkan semangat gotong royong.
2. Mendirikan Kerangka Rumah Adat
Setelah seluruh bahan bangunan siap, masyarakat mulai mendirikan tiang-tiang rumah secara bersama-sama. Posisi kayu dipasang mengikuti bentuk aslinya saat masih tumbuh, yakni bagian akar berada di bawah dan bagian pucuk tetap mengarah ke atas.
Kerangka rumah kemudian disusun menggunakan pasak kayu tanpa paku besi. Seluruh komponen bangunan dirangkai hingga membentuk struktur rumah adat yang kokoh.
3. Melaksanakan Ritual Adat Sebelum Pembangunan Dilanjutkan
Setelah kerangka rumah berdiri, petua adat memimpin prosesi adat sebagai penanda bahwa pembangunan dapat dilanjutkan. Tahapan ini diawali dengan melakukan tepung tawar pada seluruh tiang penyangga.
Selanjutnya, petua adat memeriksa keseimbangan bangunan, arah kiblat, posisi matahari, kekuatan struktur, hingga keselarasan rumah dengan lingkungan sekitar. Pemeriksaan dilakukan mulai dari bawah bangunan hingga ke bagian atas rangka rumah.
4. Petua Adat Menampilkan Tari Sining
Puncak prosesi berlangsung ketika petua adat naik ke atas bere ni umah, yaitu balok penghubung di antara tiang-tiang utama rumah. Di tempat inilah Tari Sining dipentaskan sebagai bagian dari ritual pembangunan rumah adat Gayo. Berikut beberapa ciri khas pelaksanaan tarian tersebut:
Gerakannya menyerupai burung - Penari menampilkan gerakan yang menggambarkan burung sedang membangun sarang atau mencari keseimbangan di atas dahan.
Dilakukan di atas rangka rumah - Penari berjalan di atas balok kayu sambil berputar, melompat kecil, menghentakkan kaki, dan mengibaskan kain. Selama menari, penari juga melantunkan ungkapan adat dalam bahasa Gayo.
Hanya dibawakan oleh petua adat - Tari Sining hanya boleh dilakukan oleh petua adat yang memiliki kemampuan, pengalaman, serta kesiapan fisik dan batin.
Merupakan tarian sakral - Karena mengandung nilai spiritual yang kuat, tidak semua orang diperbolehkan membawakan Tari Sining. Dalam beberapa prosesi, penari bahkan menjalani puasa sebagai bagian dari persiapan ritual.
Baca Juga: Ragam Tradisi dan Upacara Adat Aceh yang Masih Dilestarikan
(ANB)
