Konten dari Pengguna

Bahaya Kecubung untuk Kesehatan dan Pertolongan Pertamanya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keracunan kecubung. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keracunan kecubung. Foto: Shutter Stock

Kecubung merupakan jenis tanaman liar yang banyak dijumpai di negara beriklim tropis dan sub-tropis seperti Indonesia, India, dan Afrika. Tinggi tanaman ini bisa mencapai lebih dari 1 meter dengan warna kelopak bunga yang bervariasi, mulai dari putih hingga ungu.

Dijelaskan dalam buku Keracunan Makanan: Cegah, Kenali, Atasi karya Syifa Mustika (2019), daun kecubung berbentuk oval dan tidak berbulu. Sementara buahnya memiliki bentuk yang khas, yakni bulat yang disertai duri-duri tumpul di sekelilingnya. Sekilas, kecubung mirip seperti buah rambutan yang berwarna hijau muda.

Jika dilihat dari ordo familinya, kecubung tergolong sebagai spesies terong-terongan (Solonaceae). Tanaman ini kerap dijadikan sebagai tanaman hias karena memiliki bunga yang cantik.

Di balik keindahannya, tanaman ini ternyata juga bisa menimbulkan efek halusinasi. Apa saja bahaya kecubung untuk kesehatan? Untuk mengetahuinya, simaklah pembahasannya lewat artikel berikut ini.

Bahaya Kecubung untuk Kesehatan

Ilustrasi orang pusing. Foto: 9nong/shutterstock

Yaya Satyanagara dalam buku Implementasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (2023) menjelaskan bahwa buah kecubung bisa menyebabkan halusinasi dan euforia ketika dihirup. Ini karena kecubung termasuk dalam tanaman opioid, sama seperti ganja dan katinon.

Tak hanya itu, orang yang mengonsumsinya juga akan mengalami pusing berkepanjangan dan muntah-muntah. Pada kasus yang parah, efek keracunan kecubung justru bisa menyebabkan kelumpuhan pernapasan, koma, bahkan kematian.

Sejumlah peneliti mengatakan bahwa kecubung mengandung atropin, skopolamin, dan hiosiamin yang tergolong sebagai zat antagonis muskarinik. Ketiganya dapat menyebabkan sindrom antikolinergik atau keracunan antidepresan.

Gejala yang muncul akibat keracunan tersebut bisa berupa efek okular (midriasis dan paralisis otot mata), mukosa menjadi kering, gangguan mental (halusinasi, delirium, agitasi, dan kebingungan), gangguan neurologi (kejang dan kaku otot), serta peningkatan denyut nadi, tekanan darah, dan suhu tubuh.

Sampai saat ini, belum ada uji coba khusus soal keracunan kecubung. Biasanya, dokter menitikberatkan diagnosisnya pada anamnesis dan pemeriksaan fisik serta didukung pemeriksaan penunjang lainnya.

Pertolongan Pertama Keracunan Kecubung

Ilustrasi pusing Foto: Thinkstock

BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) memberikan tips pertolongan pertama untuk pasien yang mengalami keracunan kecubung. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Jika tertelan, jangan masukkan benda atau minuman apa pun ke mulut pasien yang tak sadarkan diri. Buka pakaian, sabuk, ataupun dasi yang melekat di tubuh. Bilas mulut dengan air bersih bila sadar, ganti posisi pasien miring ke kiri untuk mencegah aspirasi jika muntah. Lalu, segera bawa ke fasilitas kesehatan.

  • Jika terhirup, korban bisa dipindahkan ke tempat yang berudara segar. Bila perlu, berikan napas buatan.

  • Jika ada kontak dengan kulit, segera lepas barang yang terkontaminasi. Bersihkan bahan kimia yang menempel di kulit dengan hati-hati. Cuci dengan sabun dan air mengalir sampai dipastikan bersih, sekurang-kurangnya 15-20 menit.

  • Jika ada kontak dengan mata, lakukan irigasi dengan cairan fisiologis (NaCl 0.9%) atau air bersih yang mengalir, minimal selama 15-20 menit dengan membuka kelopak mata dan dipastikan tidak ada bahan kimia tertinggal

(MSD)