Konten dari Pengguna

Banten Galungan Apa Saja? Ini Daftar Komponennya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Umat Hindu menyiapkan sesajen saat persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (23/4/2025). Foto: Sonny Tumbelaka/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Umat Hindu menyiapkan sesajen saat persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (23/4/2025). Foto: Sonny Tumbelaka/AFP

Umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan setiap 210 hari sekali yang didasarkan pada kalender Saka. Untuk tahun 2025, hari suci tersebut akan dirayakan lagi pada Rabu (19/11) besok.

Mengutip laman Kemenag, Hari Raya Galungan digelar untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Umat Hindu percaya bahwa pada hari suci ini, para leluhur akan turun ke bumi untuk memberikan berkat dan perlindungan kepada manusia.

Selama Galungan berlangsung, umat Hindu melakukan berbagai ritual dan tradisi, salah satunya menyajikan banten (sesajen). Pertanyaannya, banten Galungan apa saja?

Banten Galungan Apa Saja?

Umat Hindu menghaturkan sesajen saat persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (25/9/2024). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Dalam kepercayaan umat Hindu, banten atau sesajen untuk Sang Hyang Widhi memiliki banyak jenis dan bentuk, tergantung tujuan upacaranya. Salah satu jenisnya adalah banten byakala yang disiapkan pada upacara panempahan, tepat sehari sebelum Galungan.

Merujuk buku Simbol Maskulin dalam Upacara Mabyakala pada Penampahan Galungan oleh Made Sumari, S.Ag., M.Ag, berikut ini komponen atau isi banten byakala:

  • Alas banten memakai sebuah sidi (ayakan bambu) yang di atasnya dilapisi kulit sasayut dari daun kelapa berwarna hijau, kemudian ditempelkan kulit peras dari daun pandan berduri.

  • Di atas alas diletakkan nasi matimpuh, nasi matajuh, penek hamong, bawang merah, jahe, terasi mentah, serta sampian nagasari dari daun andong merah yang berisi plawa, porosan, bunga, rampe dan boreh miyik.

  • Di sekitar komponen utama tersebut, diletakkan isuh-isuh alas memakai ceper. Isinya adalah sebutir telur ayam mentah, sapu lidi, serabut kelapa yang dijepit dengan lidi, base-tulak, satu takir ramuan dari daun lalang, dadap, kayu tulak, dan kayu sisih yang ditumbuk.

  • Amel-amel alasnya memakai ituk-ituk dari tiga lembar daun dadap, tiga pucuk dadap, padang lepas, dan saet mingmang. Semuanya disatukan lalu diikat menggunakan benang tridatu berwarna putih, merah, dan hitam.

  • Sasak mentah alasnya memakai limas atau kau bulu (tempurung kelapa) yang berisi tiga pulung nasi. Di atasnya diisi basa atau bumbu yang disiram darah mentah. Lalu, dilengkapi dengan canang pabersihan, sorohan alit, panyeneng, lis byakala, tatimpug, dan sebuah kekeb. Di dalamnya juga berisi tampak dara serta satu ikat daun kelapa kering (danyuh).

Umat Hindu menghaturkan sesajen saat persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (25/9/2024). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Banten byakala mengandung makna mendalam untuk setiap komponennya. Berikut adalah beberapa makna komponennya dikutip dari jurnal Penyuluhan Makna Filosofis Banten Bayekala Hari Raya Penampahan Galungan Pada WHDI Provinsi NTB susunan Ni Komang Wiasti:

  • Sidi artinya memohon agar sifat-sifat buruk yang ada pada diri setiap orang berubah menjadi baik. Contohnya, sifat kasar menjadi halus.

  • Tatakan peras dari pandan wong berduri artinya dalam hidup pasti ada halangan atau cobaan.

  • Penyeneng berarti manusia bisa hidup karena memiliki 3 hal yaitu bayu (kekuatan, napas), sabda (suara, ucapan), dan idep (pikiran, kesadaran).

  • Lidi dan sabet kelapa adalah alat-alat penyucian agar sejahtera.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa banten bayekala memiliki fungsi utama sebagai penyucian umat. Harapannya, sifat keraksasaan (bhuta kala) umat berubah menjadi sifat kedewataan atau suci.

Baca Juga: 100 Ucapan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan 2025 yang Penuh Doa Baik

(DEL)