Konten dari Pengguna

Bentuk-bentuk Interaksi Sosial dalam Sosiologi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi interaksi sosial. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi interaksi sosial. Foto: Freepik

Sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain, manusia selalu melakukan interaksi sosial. Menurut John Lewis Gillin dan John Philip Gillin dalam buku Cultural Sociology, A Revision of An Introduction to Sociology, interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.

Bentuk interaksi sosial secara garis besar bisa digolongkan menjadi dua, yaitu proses sosial asosiatif dan proses sosial disasosiatif. Berikut adalah penjelasannya:

Proses Sosial Asosiatif

Interaksi asosiatif merupakan bentuk hubungan yang dilakukan oleh sekelompok orang, di mana interaksi ini mengarah pada kesatuan.

Proses asosiatif juga disebut proses sosial integratif atau konjungtif. Dalam proses sosial ini, masyarakat berada dalam keadaan harmoni yang mengarah pada kerja sama. Oleh sebab itu, proses ini penting untuk persatuan dan kemajuan masyarakat.

Proses asosiatif kemudian dibedakan menjadi empat, yaitu:

1. Kerja sama

Kerja sama adalah suatu usaha bersama untuk mencapai suatu tujuan dan ada unsur saling membantu satu sama lain. Dalam kerjasama, terdapat kesadaran dari setiap orang yang terlibat.

2. Akomodasi

Akomodasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk meredakan ketegangan, perbedaan, dan pertentangan. Tujuan akomodasi adalah agar tercipta keseimbangan interaksi sosial terkait norma dan nilai dalam masyarakat. Terdapat delapan bentuk akomodasi yang meliputi:

  • Koersi: terjadi melalui tekanan atau pemaksaan kehendak pihak tertentu terhadap pihak lainnya. Dalam hal ini, salah satu pihak berada pada posisi yang lebih lemah.

  • Kompromi: Pihak-pihak yang terlibat perselisihan saling mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaian. Semua pihak bersedia memahami keadaan pihak lain. Contohnya adalah perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan gerakan separatis Aceh dalam hal menjaga stabilitas keamanan di Aceh.

  • Arbitrasi: Cara mencapai kesepakatan yang dilakukan antara dua pihak yang bertikai dengan bantuan pihak ketiga. Pihak ketiga memiliki wewenang untuk menyelesaikan sengketa dan biasanya merupakan suatu badan yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pihak-pihak yang bertikai.

  • Mediasi: Usaha untuk mencapai kesepakatan dengan menghadirkan pihak ketiga. Pihak ketiga ini bersikap netral dan berperan sebagai penasehat.

  • Konsiliasi: Usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya persetujuan bersama.

  • Toleransi: Ada keinginan menghindarkan diri dari perselisihan karena dilandasi sikap saling menghormati kepentingan sesama. Dengan cara ini, perselisihan dapat dicegah. Toleransi timbul karena adanya kesadaran masing-masing individu.

  • Stalemate: Terjadi ketika kelompok yang terlibat pertentangan mempunyai kekuatan seimbang.

  • Ajudikasi: Penyelesaian masalah atau sengketa melalui jalur hukum.

3. Asimilasi

Asmiliasi adalah suatu cara bersikap dan bertingkah laku dalam menghadapi perbedaan, yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan untuk mencapai kesatuan.

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi di antaranya adalah:

  • Sikap toleransi terhadap kebudayaan lain.

  • Kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi.

  • Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.

  • Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.

  • Perkawinan campuran (amalgamation).

  • Adanya musuh bersama dari luar.

4. Akulturasi

Akulturasi timbul apabila kelompok manusia dari kebudayaan tertentu berhadapan dengan unsur kebudayaan asing. Kemudian, unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

Proses Sosial Disosiatif

Ilustrasi persaingan. Foto: Pixabay

Proses disosiatif adalah keadaan sosial yang tidak harmonis karena adanya pertentangan antar anggota masyarakat. Yang termasuk interaksi sosial disasosiatif adalah:

  1. Persaingan

Kompetisi adalah suatu proses sosial ketika individu atau kelompok bersaing untuk mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan tertentu.

Persaingan terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang jumlahnya sangat terbatas atau sesuatu yang menjadi pusat perhatian umum.

Contohnya adalah persaingan antara dua tim sepak bola untuk merebut kemenangan.

  1. Kontravensi

Kontravensi merupakan proses sosial yang ditandai ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan yang tidak diungkapkan secara terbuka. Penyebabnya adalah karena adanya perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dengan kalangan lain dalam masyarakat.

Contoh kontravensi di antaranya adalah iri terhadap keberhasilan teman dan menjatuhkan nama baik salah satu capres agar masyarakat enggan memilih capres tersebut.

  1. Pertentangan

Pertentangan terjadi karena perbedaan dalam masyarakat semakin tajam. Pertikaian dapat muncul apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain melalui ancaman atau kekerasan.

(ERA)