Konten dari Pengguna

Beriman Kepada Ketetapan Allah Beserta Bukti Atas Kuasa-Nya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Illustrasi Ketetapan Allah. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi Ketetapan Allah. Foto: Pixabay

Ketetapan Allah SWT dalam Islam disebut juga dengan qada dan qadar. Umat Muslim harus percaya serta mengimani berbagai ketetapan Allah.

Dalam surat Ath-Thalaq ayat 2-3 dijelaskan:

وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مَخۡرَجًا

وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ‌ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا

Artinya: "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Mengutip dari buku Beriman Kepada Qada dan Qadar oleh Abdul Hadi Awang, qada merupakan ketetapan Allah mengenai semua hal yang berhubungan dengan makhluk ciptaan-Nya sejak di dalam kandungan. Sedangkan qadar adalah sebuah perwujudan dari ketetapan Allah (qada) tentang semua yang berkenaan dengan makhluk-Nya yang sudah ada sejak di dalam kandungan.

Ketetapan Allah SWT

Illustrasi Ketetapan Allah. Foto: Pixabay

Dalam buku Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak oleh Masan (2016:93), dijelaskan bahwa ketetapan Allah merupakan kehendak Allah SWT. Itu mengapa takdir tidak selalu sesuai dengan harapan atau keinginan masing-masing individu, karena yang menentukan adalah Allah.

Meski begitu, ketetapan Allah pastilah yang terbaik bagi hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 216 yang berbunyi:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam buku Qadha dan Qadar dari Ibnu Qayyim al-Jauzziyah, berikut beberapa bukti bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk semua hamba-Nya.

  • Kisah ibunda Nabi Musa AS yang menghanyutkan anaknya di atas sungai Nil, kemudian ditemukan oleh istri Fir'aun dan dijadikan anak mereka. Awalnya, ia merasa cemas dan takut saat mengetahui hal itu. Tetapi, tanpa diduga, kejadian tersebut justru berbuah manis di kemudian hari.

  • Ada kisah anak laki-laki yang dibunuh oleh Nabi Khidir atas perintah langsung dari Allah. Apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir itu membuat Nabi Musa bertanya-tanya. Nabi Khidir pun memberikan jawaban yang kata-katanya diabadikan di dalam Alquran.

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا (80) فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا (81)

Artinya: “Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS.Al-Kahfi: 80-81)

  • Renungkan pula kisah Ummu Salamah yang ditinggal wafat oleh suaminya Abu Salamah dalam hadist berikut:

"Ketika Abu Salamah meninggal dunia Ummu Salamah bertanya, 'Siapa di antara seorang mu’min yang lebih baik dari Abu Salamah?! Siapakah penghuni rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah?!

Kemudian Rasulullah bersabda: 'Tiada seorang muslim yang tidak ditimpa musibah.' Lalu Rasulullah mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Allah:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, limpahkan pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku dan berikanlah gantinya yang lebih baik.'" (HR. Muslim).

(NDA)