Bibit Siklon Tropis 91S dan Dampaknya bagi Wilayah Indonesia Bagian Barat

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta mendeteksi adanya fenomena cuaca yang perlu diwaspadai masyarakat. Bibit Siklon Tropis 91S dilaporkan terbentuk sejak 7 Desember 2025 di wilayah Samudra Hindia, tepatnya di sebelah barat daya Lampung.
Meskipun saat ini statusnya masih berupa bibit siklon, fenomena ini memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di sebagian wilayah Indonesia bagian barat. Seperti apa dampak yang ditimbulkan?
Bibit Siklon 91S
Mengutip Instagram @infobmkg, bibit siklon adalah fase awal pembentukan siklon tropis dengan kecepatan angin 15-34 knot. Jika kondisi atmosfer mendukung, bibit ini akan tumbuh menjadi siklon tropis dengan kecepatan angin 35 knot atau lebih, dan semakin terorganisir membentuk struktur badai.
Berdasarkan pemantauan terbaru hingga 9 Desember 2025, BMKG menyebut Bibit Siklon Tropis 91S menunjukkan adanya sedikit peningkatan intensitas angin dibandingkan saat awal terbentuk.
Tekanan Udara: Stabil di angka 1008 hPa.
Kecepatan Angin: Meningkat menjadi 20 knot (37 km/jam) dari sebelumnya 15 knot.
Kategori Potensi: Peluang untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24-72 jam ke depan masih dalam kategori Rendah.
Meski peluang menjadi badai tropis terbilang kecil, keberadaan Bibit Siklon 91S memicu pembentukan awan hujan yang cukup intensif. Dampak tidak langsung ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga 10 Desember 2025.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah berikut untuk mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat:
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Bengkulu
Lampung
Waspada Gelombang Tinggi
Selain curah hujan, dampak lain dari Bibit Siklon 91S adalah peningkatan tinggi gelombang laut. Berdasarkan informasi di Instagram @infobmkg, masyarakat pesisir dan nelayan harap memperhatikan peringatan berikut ini:
Gelombang Tinggi (Rough Sea) 2.5 – 4.0 meter
Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
Gelombang Sedang (Moderate Sea) 1.25 – 2.5 meter
Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung
Perairan barat Lampung
Samudra Hindia selatan Banten
Selat Sunda bagian Selatan
Dengan adanya potensi cuaca ekstrem ini, masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada. Hindari aktivitas di laut lepas untuk wilayah yang masuk dalam zona merah gelombang tinggi, khususnya di barat Mentawai.
Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui website, aplikasi, dan media sosial BMKG.
Bibit Siklon 93W di Utara
Selain 91S di barat, BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 93W wilayah Samudra Pasifik Utara (timur laut Pulau Papua), sekitar Kep. Samar, Filipina, sebelah utara Sulawesi Utara.
Meski berada di luar Area of Monitoring (AoM) TCWC Jakarta, bibit siklon ini menghasilkan dampak tidak langsung berupa hujan di Kalimantan Utara dan gelombang tinggi di perairan Maluku hingga Papua Barat Daya.
Baca juga: Apa Itu Siklon Tropis? Ini Penjelasan dan Dampaknya
