Konten dari Pengguna

Bila Ingin Meningkatkan Daya Inkuiri Siswa, Teori Belajar Mana yang Digunakan?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Guru di Sekolah. Foto: Reezky Pradata/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Guru di Sekolah. Foto: Reezky Pradata/Shutterstock

Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima informasi dari guru. Lebih dari itu, siswa perlu terlibat aktif dalam membangun pengetahuan, memahami konsep, serta menemukan makna dari setiap proses pembelajaran yang mereka jalani.

Sementara itu, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa untuk mengeksplorasi dan mengembangkan pemahamannya sendiri. Karena itu, diperlukan pendekatan atau teori pembelajaran yang mampu mendorong berkembangnya daya inkuiri dan inovasi pada setiap siswa.

Mengutip laman Inspiring Inquiry, Inquiry-Based Learning (IBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan keterlibatan aktif siswa serta keterampilan memecahkan masalah. Lantas, teori pembelajaran apa yang paling tepat untuk meningkatkan daya inkuiri dan inovasi siswa? Berikut penjelasannya.

Teori Pembelajaran untuk Meningkatkan Daya Inkuiri dan Inovasi Peserta Didik

Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah. Foto: Kemendikdasmen

Dikutip dari laman Binus University, teori pembelajaran yang tepat untuk mengembangkan kemampuan inkuiri dan inovasi siswa adalah teori konstruktivisme. Teori ini memandang belajar sebagai proses aktif dalam membangun makna dan pemahaman dari setiap pengalaman yang diperoleh selama pembelajaran.

Dalam teori konstruktivisme, pengetahuan tidak diberikan secara langsung oleh guru kepada siswa. Sebaliknya, siswa membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman, interaksi dengan lingkungan, diskusi, serta kegiatan pemecahan masalah.

Pendekatan konstruktivisme memiliki beberapa konsep utama, yaitu:

  • Siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki.

  • Pemahaman baru terbentuk melalui proses menghubungkan pengalaman belajar sebelumnya dengan pengalaman belajar yang baru.

  • Siswa mengembangkan pengetahuan dengan membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang sudah ada dalam pikirannya.

  • Ketidaksesuaian antara gagasan yang dimiliki dengan fakta atau konsep ilmiah dapat menjadi pendorong munculnya proses belajar yang lebih mendalam.

  • Sumber belajar yang digunakan perlu relevan dengan pengalaman siswa agar mampu meningkatkan minat dan keterlibatan mereka dalam pembelajaran.

Langkah-Langkah Pembelajaran Konstruktivisme

Ilustrasi Guru Mengajar. Foto: Kemendikdasmen

Penerapan model pembelajaran konstruktivisme di dalam kelas dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif, interaktif, dan bermakna bagi siswa.

Mengutip jurnal Pendekatan Konstruktivisme terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa SD karya Rosita dkk., terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran konstruktivisme. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Mendorong Siswa Belajar Secara Mandiri

Guru membantu siswa untuk membangun pengetahuan serta keterampilan baru melalui pengalaman belajar yang mereka alami sendiri. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami.

2. Melaksanakan Kegiatan Inkuiri

Setiap topik pembelajaran dapat diawali dengan kegiatan inkuiri, seperti mengamati, meneliti, dan mencari jawaban atas suatu permasalahan. Proses ini mendorong siswa untuk aktif mengeksplorasi berbagai sumber informasi.

3. Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu Melalui Pertanyaan

Guru dapat mengembangkan rasa ingin tahu siswa dengan mengajukan pertanyaan pemantik dan mendorong mereka untuk bertanya. Kegiatan ini membantu siswa berpikir lebih kritis dan mendalam terhadap materi yang dipelajari.

4. Menciptakan Masyarakat Belajar

Pembelajaran dilakukan melalui kerja sama dan diskusi kelompok sehingga siswa dapat saling berbagi pengetahuan, pengalaman, serta sudut pandang yang berbeda.

5. Menghadirkan Model atau Contoh Pembelajaran

Guru dapat memberikan contoh, demonstrasi, atau model pembelajaran yang relevan untuk membantu siswa memahami konsep secara lebih konkret dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

6. Melakukan Refleksi di Akhir Pembelajaran

Pada akhir kegiatan belajar, siswa diajak untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari. Refleksi membantu mereka memahami perkembangan pengetahuan yang diperoleh sekaligus mengevaluasi proses belajar yang telah dijalani.

7. Melaksanakan Penilaian Hasil Belajar

Guru melakukan penilaian terhadap proses dan hasil pembelajaran yang telah berlangsung. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa serta mengukur pencapaian tujuan pembelajaran.

Baca Juga: Apa Tantangan Terbesar dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka di Satuan Pendidikan?

(ANB)