Bolehkah Wanita Haid Ziarah Kubur? Ini Aturannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ziarah kubur adalah amalan sunnah yang dianjurkan dalam Islam untuk mengingat kematian dan kehidupan akhirat. Namun, bolehkah wanita haid ziarah kubur?
Pasalnya, Rasulullah SAW sempat melarang para Muslim, termasuk wanita, untuk berziarah kubur. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, di mana Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Rasulullah melaknat para wanita yang menziarahi kuburan.” (HR. At-Tirmidzi).
Bukan cuma untuk wanita, larangan ziarah kubur saat itu juga berlaku untuk seluruh umat Islam. Apakah hukum tersebut masih berlaku sampai sekarang? Simak jawabannya pada penjelasan di bawah ini!
Bolehkah wanita haid ziarah kubur?
Bolehkah wanita haid ziarah kubur? Jawabannya, boleh. Praktik ziarah kubur diperbolehkan setelah fondasi keimanan kaum Muslim dianggap kuat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah ke kuburan." (HR. Muslim)
Berdasarkan hadis ini, ziarah kubur menjadi diperbolehkan bagi semua umat Muslim, termasuk wanita. Selain itu, ziarah kubur tidak termasuk dalam ibadah yang mensyaratkan keadaan suci, seperti salat atau membaca Al-Qur'an. Oleh karena itu, wanita yang sedang haid tetap boleh berziarah kubur.
Pendapat Ulama tentang Ziarah Kubur bagi Wanita
Dalam pandangan Islam, semua wanita diperbolehkan untuk berziarah kubur, baik yang sedang haid maupun nifas. Itu karena ziarah kubur tidak seperti ibadah salat, puasa, atau membaca Al-Quran, yang mewajibkan perempuan dalam keadaan suci dari haid dan nifas.
Menurut kitab Mughnil-Muhtaj yang ditulis oleh An-Nawawi, Al-Mu’tamad Fiqh menetapkan bahwa ziarah kubur bagi wanita diperbolehkan. Hal ini tercantum dalam hadist riwayat Imam Al -Hakim:
أَنَّ عَائِشَةَ أَقْبَلَتْ ذَاتَ يَوْمٍ مِنَ الْمَقَابِرِ فَقُلْتُ لَهَا: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، مِنْ أَيْنَ أَقْبَلْتِ؟ قَالَتْ: مِنْ قَبْرِ أَخِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، فَقُلْتُ لَهَا: أَلَيْسَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، «كَانَ قَدْ نَهَى، ثُمَّ أُمِرَ بِزِيَارَتِهَا
Artinya: "Suatu hari Aisyah datang dari kuburan. Lalu aku bertanya, 'Wahai Ummul Mukmunin, anda dari mana? Dia menjawab, dari kuburan saudaraku, Abdurrahman bin Abu Bakar. Aku bertanya lagi padanya, Bukankah Rasulullah SAW, telah melarang ziarah kubur? Dia menjawab, 'Benar, beliau memang dulu melarangnya kemudian beliau memerintahkannya." (HR. Imam Al-Hakim)
Mengacu dari pendapat tersebut, wanita yang sedang haid diperbolehkan berziarah. Dengan syarat, ziarah tersebut tidak menimbulkan tangisan histeris atau fitnah.
Adab Ziarah Kubur bagi Wanita
Meskipun diperbolehkan, wanita haid tetap harus memerhatikan adab dalam berziarah. Adab-adab dalam berziarah ini dijelaskan oleh Syekh Khatib Asy-Syirbini, dalam kitab Tafsir As-Siraj Al-Munir, halaman 5277.
Mendoakan almarhum dengan ikhlas dan khusyuk.
Tidak duduk di atas kuburan.
Mengucapkan salam saat masuk area kuburan, “Assalamu alaika dara qaumi mu’minin, wa inna insya Allahu bikum lahiqun” (semoga kesalamatan tertuju pada engkau wahai rumah perkumpulan orang-orang mukmin. Sesungguhnya kami, jika Allah menghendaki akan menyusul kalian).
Menghadap ke arah wajah mayit.
Tidak melakukan ritual yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti meminta sesuatu kepada penghuni kubur.
Setelahnya, niatkan untuk mendoakan para akhir kubur. Berikut adalah doa ziarah kubur yang dapat dibaca:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَها وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيِرًا مِنْ دَارِهَا، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ
"Allaahummaghfir laha warham ha wa’aafi ha wa’fu anha wa akrim nuzula ha wa wassi’ madkhola ha waghsil ha bil maa-i wats-tsalji wal barodi wa naqqi ha minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minad danasi wa abdil ha daaron khoiron min daari ha wa ahlan khoiron min ahli ha wazaujan khoiron min zaoji ha wa adkhil hal jannata wa ‘aidz ha min ‘adzaabil qobri wafitnati hi wa min ‘adzaabin naar."
Artinya: "Yaa Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka."
(SLT)
